Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #8

Lelaki yang Menjijikkan

Kuliah berjalan. Semester tiga. Dunia sedang terkunci. Dan ternyata kamar sendiri pun bisa jadi tempat yang tidak aman. Kelas berganti. Orang-orang berganti. Dan aku tetap sama, dengan luka yang sama, hanya di ruangan yang berbeda.

Covid-19 masih mencengkeram dunia. Kuliah sepenuhnya online. Layar laptop menjadi satu-satunya jendela ke dunia luar yang semakin menyempit.

Aku punya beberapa teman wanita di kelas baru ini. Tidak terlalu dekat. Bagaimana bisa dekat ketika semua interaksi hanya melalui layar? Sewajarnya saja. Berteman tanpa benar-benar mengenal. Berbicara tanpa benar-benar terhubung.

Suatu ketika, ada yang mengirim pesan kepadaku.

Pria yang tidak kukenal pada awalnya. Sama seperti pria lainnya yang selalu hanya datang dan hilang.

Wafa.

Nama yang akan kutambahkan ke daftar panjang nama-nama yang membawa luka.

Dia mengirim pesan melalui Line. Biasanya, apabila ada pesan dari pengirim tidak dikenal, terutama dari laki-laki, pasti tidak akan kubalas. Sudah belajar. Sudah tahu pola.

Tapi apabila itu wanita, aku pasti akan membalas.

Wafa bertanya mengenai kelas, perihal tugas. Pertanyaan yang masih batas wajar. Masih aman.

Itulah mengapa aku membalas.

Kesalahan pertama.

Seiring waktu, Wafa yang selalu mengajakku berbicara mulai lebih intens. Dari pertanyaan tentang tugas, jadi obrolan tentang keseharian. Dari keseharian, jadi setiap hari. Sekitar tiga sampai enam bulan kurang lebih.

Aku juga masih berhubungan dengan teman-teman wanitaku. Sebatas berkirim pesan biasa.

Tiba-tiba Wafa menelepon lewat video.

Padahal kami masih berbicara biasa, normal. Tidak ada yang mengarah ke sana.

Notifikasi video call muncul.

Aku awalnya bingung. Untuk apa? Biasanya kami tidak pernah saling menelepon, apalagi video call.

Aku ragu untuk mengangkat. Ada alarm di kepalaku yang berbunyi pelan. Tapi aku mengabaikannya. Seperti biasa, aku berpikir positif.

Aku mengangkat.

Layar terbuka.

Wafa muncul. Posisi ponsel dari kepala sampai pundak saja. Tapi tidak mengenakan baju. Ada handuk di sebelah kanan pundaknya.

Aku pada saat itu tidak berpikir macam-macam. Belum. Mungkin dia baru selesai mandi. Mungkin dia lupa mengenakan baju.

Mungkin. Mungkin. Mungkin.

Kata yang selalu kugunakan untuk menenangkan diriku sendiri meski dadaku sudah mulai sesak.

Beberapa saat kemudian, Wafa berjalan. Kamera bergerak. Posisinya seperti menuju ke sebuah kamar mandi.

Dan aku langsung berpikir yang tidak enak.

Tapi aku tidak lari. Aku hanya membeku.

"Wafa, kamu mau mandi? Udah, mandi aja sana. Ngapain video call segala? Kamu ini gimana sih?"

"Enggak, aku nggak lagi mandi."

"Kamu lagi ngelakuin itu kan? Udah ah, aku matiin aja."

"Aku nggak lagi mandi atau ngapa-ngapain kok. Serius, aku cuma bersihin badan doang."

"Jangan bohong. Aku tahu apa yang kamu lakuin. Aku nggak sebodoh yang kamu kira."

"Kenapa marah sih? Aku nggak ngapa-ngapain."

Aku tahu apa yang sebenarnya dia lakukan di balik layar, sesuatu yang membuatku jijik dan takut. Suara air shower terdengar jelas, dan gerak-geriknya tidak bisa kuabaikan dari pikiranku.

Aku langsung mematikan video call itu. Tanganku gemetar begitu keras sampai hampir menjatuhkan ponsel. Seluruh tubuhku ikut berguncang. Ketakutan. Terkejut.

Lalu dia langsung mengirim pesan.

"Aku nggak lagi mandi atau ngapa-ngapain kok."

Lihat selengkapnya