Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #9

Kereta yang Ingin Kuakhiri

Tahun 2022. Setelah Ina meninggal, rumah menjadi lebih sepi, tapi juga lebih ramai.

Kampusku di Kota D, rumahku di Kota B. Setiap pagi aku berdiri di peron dengan satu pikiran yang tidak mau pergi.

Ayahku masih hidup. Nita dan Gilang yang sudah tinggal bersama kami sejak keponakanku Shania lahir. Lima orang di rumah yang sama. Tapi aku tidak pernah merasa lebih sendirian.

Kuliah masih berjalan. Semester 5, semester 6. Sistem hybrid. Kadang online, kadang offline. Jarak antara Kota D dan Kota B harus kutempuh setiap hari dengan KRL.

Kereta api.

Tempat yang dulu hanya transit, sekarang menjadi medan perang di kepalaku.

Setiap pagi, aku berangkat dengan tubuh yang rapi. Wangi. Masih terlihat utuh. Begitu masuk kereta, semuanya berantakan. AC menyala, tapi tidak terasa karena terlalu banyak tubuh berdesakan. Keringat. Bau. Suara. Semua bercampur jadi satu kekacauan yang membuatku sulit bernapas.

Aku sudah terbiasa dengan desak-desakan itu. Terbiasa dengan tubuh-tubuh asing yang menyentuh tanpa izin. Terbiasa dengan tidak ada ruang untuk diri sendiri.

Yang tidak bisa kubiasakan adalah pikiran yang datang setiap kali kereta lewat.

Setiap kali aku berdiri di peron, menunggu kereta datang, ada bisikan di benakku.

Melompat.

Akhiri semua ini.

Bertemu Ina lagi.

Dorongan itu datang dengan jelas. Terlalu jelas. Seperti ada suara lain di kepalaku yang tidak bisa kubungkam. Suara yang berbisik bahwa semua akan lebih mudah kalau aku tidak ada. Bahwa rasa sakit akan berhenti kalau aku menyerah.

Tiap kereta lewat, pikiran itu semakin keras.

Tidak sekali. Tidak dua kali.

Setiap hari.

Berkali-kali.

Sampai aku mulai takut pada diriku sendiri.

Takut suatu hari aku akan benar-benar melakukannya. Takut tubuhku akan bergerak sebelum otakku sempat menghentikan. Takut desisan itu akan menang.

Aku tahu aku tidak boleh melakukan itu.

Namun pengetahuan itu tidak cukup kuat untuk membungkam suara di dalam diriku.

Sejak Ina meninggal, aku lebih rajin beribadah. Salat wajib. Salat sunnah. Puasa sunnah. Ikhtiar. Semuanya kulakukan untuk menenangkan hati yang berisik ini. Untuk membuat pikiran berhenti berteriak.

Sayangnya, tubuhku tidak mendukung.

Penyakitku kambuh nyaris tanpa jeda. Perutku perih. Dadaku sesak. Tubuhku terlalu banyak menyimpan trauma sampai menjadi sensitif terhadap segala sesuatu. Stres sedikit, langsung kambuh. Pikiran sedikit, langsung sakit.

Aku bukan orang yang terlalu banyak berpikir. Hanya saja tubuhku tidak percaya itu. Tubuhku mengingat semua yang pernah terjadi. Semua yang pernah kurasakan. Dan bereaksi meski otakku mencoba tenang.

Di tengah semua itu, aku membuat keputusan.

Aku tidak bisa terus naik kereta seperti ini. Tidak bisa terus berada dalam posisi berbahaya. Aku tidak yakin akan cukup kuat untuk melawan bisikan di dalam benakku.

Aku butuh cara lain.

Ayahku sudah pensiun. Gajinya cukup untuk hidup, tapi aku tidak ingin memberatkan beliau. Aku punya tabungan sendiri. Tabungan yang kusimpan untuk keadaan darurat.

Dan ini adalah keadaan darurat.

Aku memutuskan untuk menyewa sopir.

Dulu, Ina selalu memakai sopir bayaran. Ada tiga orang yang sering dia panggil. Dua di antaranya sudah meninggal. Yang tersisa hanya satu: Pak Rizky.

Lihat selengkapnya