Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #10

Tidak Punya Tempat Kembali

30 Desember 2022. Ayahku pergi hari Jumat pagi.

Ayahku punya diabetes kering. Keturunan dari ibunya yang sudah meninggal. Dia selalu kontrol gula darah. Makan nasi merah. Ubi-ubian. Tidak pernah ekstrim. Sudah bertahun-tahun dia hidup seperti itu. Tapi setelah Ina meninggal, kondisinya memburuk.

Kami adalah keluarga yang tidak pernah saling terbuka. Ayahku tidak pernah cerita tentang apa pun. Tidak ke aku. Tidak ke Nita. Aku tidak tahu apakah dia bercerita kepada Ina dulu. Yang jelas, kami hidup di rumah yang sama, tapi tidak pernah benar-benar terhubung.

Ina meninggal 24 April 2021, di bulan Ramadan. Ayahku meninggal 30 Desember 2022, hari Jumat pagi. Keduanya meninggal di waktu yang katanya berkah. Tapi aku tidak merasakan berkah apa pun.

Setelah Ina pergi, ayahku lebih sering kontrol ke rumah sakit. Tapi semua berubah drastis di hari itu, sehari sebelum ia meninggal. Tubuhnya seperti tidak tahan kehilangan.

Pagi itu, aku dan Nita mengantar Ayah ke rumah sakit, ditemani Gilang dan Shania. Gula darahnya tinggi. Dokter langganannya sedang cuti, jadi dia dapat surat rujukan ke rumah sakit lain. Aku masih kuliah waktu itu. Dua puluh satu tahun. Semester akhir. Sistem hybrid, jadi tidak setiap hari offline.

Dokter di rumah sakit itu baik. Sudah tua, tapi masih bugar. Dia memeriksa ayahku dengan teliti. Aku duduk di samping ayahku, mendengarkan penjelasan dokter. Paru-paru ayahku sudah parah. Dan belakangan, ada keluhan baru yang muncul.

Di ruang dokter itu, ayahku berkata pelan. "Saya ditinggal cerai mati, Dok."

Suaranya lemah. Patah. Ada kesedihan di sana yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Selama ini dia selalu pendiam. Selalu menyimpan sendiri. Tapi di hadapan dokter pengganti ini, pertahanannya runtuh.

Aku terkejut mendengarnya. Bukan karena aku tidak tahu dia sedih. Tapi karena dia tidak pernah mengatakannya dengan keras. Tidak pernah mengakui dengan kata-kata bahwa dia hancur.

Dan kalimat itu membuatku sadar: kami sama-sama patah. Ditinggal di dunia yang sama. Aku kehilangan ibu. Dia kehilangan istri. Kami berdua terluka oleh orang yang sama, dengan cara yang berbeda. Tapi kami tidak pernah berbicara tentang itu. Tidak pernah saling menghibur. Karena kami tidak tahu bagaimana caranya.

Dokter merespons dengan lembut. "Bapak harus semangat. Bapak masih punya dua anak perempuan yang membutuhkan Bapak."

Aku mendengar kata-kata itu dan merasa ada yang mencengkeram dadaku. Ayahku butuh semangat. Tapi dari mana dia harus mendapatkannya kalau kami sendiri tidak bisa memberi?

Aku ingin menjaga ayahku. Benar-benar menjaga. Tapi aku masih kuliah. Semester akhir. Skripsi. Deadline yang terus mengejar. Aku tidak bisa seoptimal itu untuk ayahku.

Dan rasa bersalah itu menggerogoti setiap hari. Setiap kali aku melihat dia sakit, aku merasa gagal. Setiap kali aku harus memilih antara deadline dan menemani dia, aku merasa seperti anak yang tidak berguna. Tapi apa yang bisa kulakukan? Jadi aku hanya bisa memberikan yang terbaik dari sisa waktuku. Yang tidak pernah cukup.

Tidak lama setelah itu, kondisi ayahku memburuk lagi. Dia harus dirawat di rumah sakit di kota kami. Kami tiba di rumah sakit itu pagi hari. Kamar penuh. Kami harus menunggu. Ayahku diperiksakan di ruangan sementara. Aku menunggu di situ. Berdiri. Dari pagi sampai sore.

Aku sedang datang bulan. Hari pertama. Sakitnya minta ampun. Perutku kram seperti diperas dari dalam. Punggungku sakit. Pinggangku terasa seperti mau patah. Kepalaku pusing. Tapi aku tidak bisa duduk. Tidak ada tempat. Semua kursi penuh. Jadi aku berdiri. Dan berdiri. Kaki gemetar, tubuh lemas, dan aku bertahan.

Nita, Gilang, dan Shania menunggu di mobil ber-AC. Nyaman. Bisa duduk. Bisa istirahat. Aku di dalam. Berdiri. Menahan sakit yang seperti pisau menusuk perutku setiap beberapa menit. Belum makan sejak pagi. Hanya minum obat untuk menahan penyakitku yang mulai bergejolak karena stres dan lapar.

Aku baru tahu dari Shania, anak kecil yang polos, bahwa Nita makan di mobil. Seolah tak peduli. Tidak turun untuk bertanya. Aku di dalam, sendirian, berdiri dengan tubuh yang rasanya mau roboh.

Lihat selengkapnya