Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #11

Sendiri, Pak

Tahun 2023.

Aku sudah menyiapkan segalanya sebelum wisuda. Bukan hanya toga dan kebaya sewaan, tapi juga sesuatu yang lebih penting dari itu: pekerjaan. Atau setidaknya, aku pikir begitu.

Tawaran itu datang dari nomor yang tidak tersimpan. Tapi foto profilnya adalah wajah yang kukenal. Saudara jauh dari pihak nenek jumi. Kami pernah berkomunikasi, meski tidak sering. Ketika muncul nomor baru dengan nama dan wajah yang sama, aku tidak curiga. Aku pikir dia hanya ganti nomor. Cara orang itu berbicara pun terasa akrab. Aku mulai percaya. Baru setelah itu aku simpan nomornya.

Percakapan itu terjadi hari itu juga. Dia menawarkan sebuah bisnis. Dari yang aku tahu, keluarga dari sisi sana memang berkecukupan. Punya banyak usaha. Jadi ketika tawaran itu datang, tidak ada alasan untuk tidak percaya. Dan aku memang percaya.

Aku percaya. Aku mengirimkan uang tersebut.

Saat aku menekan tombol konfirmasi itu, tidak ada firasat buruk yang muncul. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tubuh tidak memberikan tanda apa pun bahwa sesuatu yang salah baru saja terjadi. Hanya layar yang berubah menjadi notifikasi berhasil, dan aku yang menatapnya dengan perasaan bahwa ini awal dari sesuatu yang baik. Bahwa akhirnya ada yang berjalan sesuai rencana.

Uang itu adalah sisa tabungan yang kusimpan dengan sangat hati-hati. Tidak banyak yang sampai ke tanganku sejak awal, karena sebagian besar sudah habis selama kuliah untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Yang tersisa itulah yang tidak pernah kusentuh kecuali benar-benar perlu. Ratusan lembar merah yang kusimpan untuk keadaan yang benar-benar mendesak. Dan tawaran bisnis sebelum wisuda terasa seperti alasan yang cukup kuat.

Aku belum genap dua puluh dua tahun. Dan uang itu sudah hilang.

Aku menelepon anaknya. Hanya bertanya keberadaan ibunya. Ibunya sedang ada urusan, katanya. Tidak bisa dihubungi sekarang. Suaranya terlalu tenang. Aku tahu waktu itu. Tidak perlu lebih dari itu.

Aku menceritakannya kepada Nita. Dia mendengarkan. Waktu itu badanku masih terasa tidak sepenuhnya ada. Tangan dingin, kepala berat, suaraku sendiri terdengar dari tempat yang jauh. Tapi ketika aku minta diantar ke kantor polisi, jawabannya tidak. Ada alasan yang keluar, yang jelas hasilnya sama: aku pergi sendiri.

Dengan badan yang sudah mulai terasa tidak sepenuhnya ada, aku pergi ke kantor polisi sore itu.

Di dalam, tempatnya ramai. Kursi-kursi di sepanjang dinding sudah terisi. Ada yang kehilangan dompet karena kecopetan, ada yang datang untuk urusan lain, masing-masing dengan wajah yang menyimpan ceritanya sendiri. Aku duduk di antara mereka, menunggu giliran, dengan satu nomor antrean di tangan dan perasaan yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Ruangan itu penuh, tetapi menyimpan kesunyian dengan cara tertentu. Tidak ada yang saling bicara. Tidak ada yang saling menatap. Semua orang datang dengan masalahnya masing-masing dan tidak ada yang punya sisa untuk yang lain.

Ketika dipanggil, aku menceritakan semuanya. Polisi mencatat. Lalu bertanya tentang orang tua.

"Bisa minta keterangan orang tuanya, Mbak?"

Lihat selengkapnya