Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #12

Kemenangan yang Sepi

Aku tidak ingat apakah aku pernah bilang ingin sendiri saat wisuda. Otakku sudah terlalu penuh sampai detail seperti itu hilang entah ke mana. Yang jelas, aku ingin sendiri. Tapi aku yakin, meski aku bilang, mereka tetap akan datang. Jadi mereka datang.

Aku bingung harus merasa apa. Marah terasa tidak adil karena niat mereka baik, setidaknya di permukaan. Terharu terasa terlalu sederhana untuk situasi yang serumit ini. Yang ada cuma perasaan datar dan lelah, seperti sudah siap untuk satu jenis hari tapi yang datang adalah hari yang berbeda. Hari yang tidak pernah kusiapkan tempatnya.

Sesi foto sebelum masuk gedung paling menguras tenaga, tapi dengan cara yang berbeda dari lelah biasa. Aku yang pesan fotografer, dia yang atur posisi kami bertiga. Dari sudut mataku, kulihat keluarga lain, santai, alami, tidak perlu diarahkan karena mereka tahu cara berdiri berdampingan tanpa instruksi. Aku tidak punya itu. Aku cuma punya dua orang yang datang karena merasa harus.

Sebenarnya aku ingin sendiri. Foto dengan toga dan ijazah saja, tanpa siapa pun di sampingku. Tapi mereka sudah datang, dan pulang tanpa foto bersama akan menimbulkan pertanyaan yang aku tidak punya tenaga untuk menjawabnya. Di antara mereka, aku tersenyum tapi menyimpan perasaan jauh dari jangkauan kamera. Jauh dari siapa pun yang melihat.

Acara mulai. Aku duduk di antara ratusan orang, toga di bahu, topi yang tidak pernah pas di kepala. Aku tahu Nita dan Gilang ada di tribun, tapi aku tidak mencarinya. Tidak ada yang perlu kucari.

Perutku mulai sakit saat nama-nama dipanggil satu per satu. Penyakitku menyerang di saat yang paling tidak cocok, seperti ia punya kebiasaan buruk memilih momen. Aku tekan perut dengan telapak tangan, tarik napas pelan, dan duduk lebih tegak sambil berharap terlihat normal. Berharap tidak ada yang melihat.

Nama dipanggil. Aku berjalan, bersalaman, foto, lalu turun. Semua dalam hitungan detik.

Tapi saat namaku dipanggil, ada sesuatu yang berhenti sebentar di dada. Bukan bahagia, bukan haru. Lebih seperti kesadaran yang datang terlambat, bahwa ini nyata, bahwa aku sampai di sini, bahwa empat tahun yang sulit punya satu titik yang akhirnya bisa ditunjuk. Dan bersamaan dengan itu, muncul sepi yang sangat spesifik. Sepi yang hanya bisa hadir jika kamu tahu persis siapa yang seharusnya duduk di tribun itu tapi tidak ada.

Lihat selengkapnya