Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #13

Pinjam Paksa

Mobil itu atas nama Ina.

Bukan atas nama Nita. Bukan atas nama Gilang. Atas nama perempuan yang sudah tidak ada, yang tidak bisa lagi bicara, yang tidak bisa lagi mengatakan siapa yang boleh dan tidak boleh menyentuh apa yang dia tinggalkan. Dan ketidakbicaraannya itu rupanya ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai izin.

Permintaannya datang tidak langsung kepadaku. Tidak pernah langsung kepadaku. Gilang menyampaikan kepada Nita, Nita menyampaikan kepadaku, dengan nada yang sudah mengandung kesimpulan sebelum aku sempat membuka mulut untuk berbicara. Seperti bukan pertanyaan, tapi pengumuman yang butuh tanda tangan. Seolah formalitas yang harus dilewati sebelum sesuatu yang sudah diputuskan bisa dijalankan.

Gilang membutuhkan mobil.

Aku mendengarnya dan diam sebentar. Mencoba mencari di dalam diri apakah ada sesuatu yang keberatan dengan cara yang bisa disampaikan tanpa menimbulkan masalah yang lebih besar dari masalah yang sudah ada. Tapi begitulah selalu cara kerja dinamika ini. Keberatanku tidak pernah punya ruang yang cukup untuk berdiri dengan tegak sebelum diratakan oleh sesuatu yang lebih besar, lebih keras, lebih tidak peduli.

Aku memberikan izin. Atau lebih tepatnya: aku tidak cukup kuat untuk tidak memberikan izin.

Setelah itu, mobil itu muncul dan menghilang dengan ritme yang tidak pernah aku tentukan sendiri. Dipakai ketika dibutuhkan, dikembalikan ketika sudah selesai, dengan laporan yang tidak selalu ada dan penjelasan yang tidak selalu datang. Aku belajar untuk tidak bertanya terlalu banyak karena bertanya terlalu banyak selalu berujung pada percakapan yang menguras lebih dari yang hasilnya bisa menutup kerugiannya.

Mobil atas nama Ina. Dipakai Gilang. Aku yang diam.

Ada satu gambar yang selalu tersisa di kepala dari periode itu. Melihat mobil itu pergi dari jendela. Kunci yang ada di tangan orang lain. Nama di STNK yang bukan nama mereka tapi bukan nama yang bisa lagi bicara. Dan aku yang berdiri di sisi dalam kaca, menyaksikan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari warisanku diperlakukan seperti fasilitas bersama yang tidak perlu izin siapa pun untuk digunakan.

Diam bukan berarti tidak merasakan. Diam hanya berarti aku sudah belajar di mana menyimpan rasa yang tidak punya tempat untuk keluar.

Lihat selengkapnya