Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #14

Darah yang Lebih Encer dari Air

Warisan itu datang dalam bentuk angka.

Aku dua puluh dua menuju dua puluh tiga.

Bukan pelukan. Bukan kehadiran. Bukan sesuatu yang bisa dipegang atau dirasakan dengan cara yang manusiawi. Hanya angka di rekening yang tiba-tiba ada setelah semua urusan administratif selesai, setelah tanda tangan di sana-sini, setelah negara memutuskan bahwa ya, kedua orang tuamu memang sudah tidak ada dan ini yang tersisa dari mereka.

Ribuan lembar merah. Setelah dipotong pajak dan segala macam yang tidak pernah benar-benar aku mengerti cara kerjanya.

Uang itu pertama kali masuk ke rekening Nita. Anak pertama, begitu sistemnya bekerja.

Aku sempat mengusulkan rekening bersama, supaya semuanya jelas sejak awal, terutama karena uang itu nantinya juga akan dipakai untuk kontrakan. Tapi Nita menolak.

Dan aku menunggu. Menunggu kabar, menunggu transparansi, menunggu seseorang yang bisa kuandalkan untuk jujur tentang sesuatu yang menyangkut hak kami berdua.

Yang datang adalah screenshot.

Nita mengirimkan angka lewat screenshot. Bukan memperlihatkan langsung. Bukan duduk bersama dan membicarakannya dengan terbuka. Screenshot yang katanya dari perwakilan bank, yang menunjukkan nominal tertentu, yang seharusnya menjawab pertanyaanku tanpa aku harus bertanya lebih jauh.

Tapi ada yang mengganjal. Angkanya terlalu bulat. Dan screenshot itu dikirim tanpa konteks, tanpa percakapan sebelum atau sesudahnya, hanya potongan yang berdiri sendiri seolah sengaja dipisahkan dari sesuatu yang lebih besar.

Aku mendatanginya langsung.

Bukan dari belakang. Bukan lewat orang lain. Aku tidak pernah bisa melakukan itu, berbicara di belakang orang yang seharusnya bisa kuhadapi langsung. Aku memintanya menunjukkan percakapannya langsung, bukan tangkapan layarnya.

Lihat selengkapnya