Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #15

Yang Tidak Bisa Lagi Bicara

Grup chat itu mulai sepi tanpa pemberitahuan. Bukan langsung hilang. Tidak ada drama, tidak ada konfrontasi. Hanya pesan yang mulai jarang masuk. Laporan yang dulunya rutin tiba-tiba tidak ada. Pertanyaan yang dikirim dibaca tapi tidak dijawab. Centang dua, tapi tidak ada respons. Satu hari. Dua hari. Seminggu.

Kami mendatangi langsung.

Rumah Bayu ada di kabupaten, perjalanan yang tidak sebentar. Nita, Gilang, aku. Dan Lita ikut, entah atas kemauannya sendiri atau karena memang selalu ada di setiap urusan yang seharusnya bukan urusannya. Jalan menyempit setelah keluar tol, melewati gang-gang yang memaksa mobil berjalan pelan. Rumahnya ada di ujung, bangunan yang tidak besar tapi terlihat baru direnovasi di beberapa bagian. Saat itu aku tidak tahu kenapa perasaanku langsung tidak enak. Baru tahu belakangan.

Bayu ada di rumah. Bicara, tapi tidak menjawab. Kalimat-kalimatnya berputar-putar, selalu kembali ke alasan yang sama: proyek tertunda, material naik, kontraktor bermasalah. Kami pulang dengan tangan kosong dan pertanyaan yang sama seperti waktu berangkat.

Yang akhirnya terungkap bukan dari Bayu sendiri, melainkan dari Gilang yang mencari tahu lewat orang-orang di komunitas motor yang sama. Dari sana cerita itu terbuka satu per satu, seperti luka yang sudah lama ditutup perban kotor.

Bayu dan Dina bukan pertama kali melakukan ini.

Sudah berkali-kali. Orang-orang yang dipercaya, yang masuk lewat jaringan pertemanan yang sama, yang berbicara dengan keyakinan tentang pengalaman yang tidak pernah benar-benar ada. Uang dipinjam dan tidak dikembalikan. Kontrakan setengah jadi itu milik kami. Yang lain ditipu dengan cara berbeda tapi hasilnya sama: habis dan menghilang.

Dan kami masuk ke dalam daftar itu.

Aku sempat bertanya-tanya mengapa orang-orang yang ditipu sebelum kami tidak melapor polisi. Tapi aku tahu jawabannya. Aku yang sudah pernah melapor sendiri, yang sudah duduk di kursi itu dan menjawab pertanyaan yang sama, tahu persis bagaimana rasanya membawa kerugian ke institusi yang tidak selalu punya kapasitas untuk peduli. Hasilnya sudah bisa dibayangkan sebelum prosesnya dimulai. Jadi orang memilih diam. Menelan. Melanjutkan hidup dengan lubang yang tidak bisa ditunjuk ke siapa pun.

Lihat selengkapnya