Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #16

Dosa yang Diwariskan

Siang itu, aku duduk di antara orang-orang yang menyebut dirinya keluarga.

Aku tidak diundang. Aku dibawa.

Nita bilang ada yang perlu dibicarakan. Suaranya datar, singkat, tanpa ruang untuk diskusi. Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku sudah terlatih untuk tidak bertanya lebih jauh. Pelajaran pahit yang kuterima berulang kali, bahwa bertanya hanya membuka luka lama yang tak kunjung sembuh.

Kebiasaan itu bukan terbentuk dalam sehari. Ia tumbuh dari ratusan kali percakapan yang berakhir di tempat yang sama: dinding. Dinding tanpa celah, tanpa jendela, tanpa tempat untuk pertanyaan mendarat dengan selamat. Bertanya hanya membuatku tahu bahwa aku tidak akan pernah benar-benar diberi tahu. Jadi aku berhenti. Aku duduk di kursi penumpang, menatap jalan yang terus kulewati, dan membiarkan mobil membawaku ke tempat yang sudah kukenal, tapi tidak pernah benar-benar kutahu apa yang menungguku di sana.

Rumah keluarga Gilang.

Aku sudah beberapa kali ke sana. Tapi hari itu berbeda. Ada Lita di dalam. Ada beberapa wajah lain yang kukenal, tapi tidak cukup dekat untuk kuberikan kepercayaan. Semua duduk lesehan di atas karpet, menungguku masuk seperti mereka sudah tahu aku akan datang. Seolah semuanya sudah diatur jauh sebelum Nita mengetuk pintu kamarku tadi.

Aku duduk di antara mereka. Dan dari situ, cerita itu mulai terungkap.

Sebelum aku menjelaskan lebih jauh, ada sesuatu yang perlu kuceritakan.

Beberapa waktu sebelum hari itu, seseorang datang ke rumah. Tidak ramai-ramai. Hanya satu orang. Mengetuk pintu dengan sopan. Terlalu sopan untuk situasi yang ternyata jauh dari sopan. Aku tidak tahu siapa orang itu. Tidak tahu untuk apa dia datang. Ketika aku bertanya pada Nita, jawabannya selalu sama: jangan ditemui, jangan dibukakan pintu, biarkan saja.

Aku percaya. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Tapi orang itu datang lagi. Berkali-kali.

Hingga hari di rumah Gilang itu, semuanya terungkap. Orang itu ternyata debt collector. Bayu dan Dina memanfaatkan KTP Nita dan Gilang untuk mendaftar pinjaman online.

Namun, itu baru sebagian kecil dari cerita hari itu.

Di ruangan yang sama, di atas karpet yang sama, sebuah fakta lain dilempar begitu saja ke tengah percakapan yang sudah terlalu berat untuk ditanggung.

Tentang BPKB mobil Ina, ibuku yang sudah tiada.

Lihat selengkapnya