Angka itu muncul di layar ponselku suatu siang.
Aku menatapnya beberapa saat. Lalu membalik ponsel di atas kasur.
Bukan karena tidak bersyukur. Tapi karena tidak tahu harus merasakan apa. Angka itu sudah dipotong biaya tebus dokumen, sudah dipotong bagian Om Sandi dan temannya yang jadi perantara, sudah dipotong ini dan itu. Yang sampai ke tanganku adalah sisanya. Sisa dari sisa dari sesuatu yang seharusnya utuh.
Kamar itu sunyi. Mungkin memang selalu sunyi, dan aku baru benar-benar menyadarinya sekarang.
Mobil itu kesayangan Ina. Bukan kesayangan yang diucapkan, karena Ina bukan tipe perempuan yang mengucapkan perasaan dengan keras. Tapi aku tahu dari caranya. Dari jauh sebelum kendaraan itu ada di garasi, dia sudah tahu mobil apa yang ingin dia beli. Sudah memutuskan. Tidak perlu dibujuk, tidak perlu dipilihkan. Ina yang menentukan sendiri, dengan cara perempuan yang tahu persis apa yang dia mau meski dunia tidak selalu memberinya ruang untuk itu.
Ina tidak suka mobilnya kotor. Tidak suka dipakai sembarangan. Tidak suka ada yang memperlakukannya seperti fasilitas umum yang bisa diakses siapa saja kapan saja.
Tapi Ina sudah tidak ada untuk menjaga itu.
Dan tanpa dia, kendaraan itu berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan lagi kesayangan. Bukan lagi benda yang punya pemilik yang jelas dan tegas. Ia menjadi aset yang diperebutkan, dipakai tanpa izin, dijadikan alat tawar, dan akhirnya dijual untuk menutup lubang yang dibuat oleh orang lain.
Om Sandi tahu permasalahannya dari awal. Adik bungsu ayahku, orang yang dalam logika keluarga seharusnya menjadi pelindung. Lewat jaringan temannya, pembeli bisa ditemukan. Dia yang mengurus, dia yang menggerakkan. Rumahnya di kota yang berbeda, tapi dia datang. Dan karena semua itu, dia minta bagian dari hasil penjualan. Untuk dirinya, untuk temannya yang jadi perantara, untuk ongkos yang sudah dikeluarkan.
Aku paham.
Menjual kendaraan bukan perkara mudah. Ada yang harus digerakkan, ada yang harus diyakinkan. Bisnis memang begitu. Jadi ketika Om Sandi menyebut angkanya, aku tidak langsung menolak. Aku mendengarkan dulu. Mencoba menimbang dengan kepala yang sudah terlalu banyak menanggung hal lain. Angkanya masuk akal jika dilihat dari sisi pekerjaannya. Tapi jika dilihat dari sisi yang aku tanggung sejak awal, tidak ada angka yang benar-benar terasa adil di sini.
Tapi Nita tidak setuju.
Bukan karena memikirkan hakku. Tapi karena dia sendiri merasa bagian Om Sandi terlalu besar. Suaranya naik dengan cara yang sudah terlalu aku kenal, keras, yakin, seperti orang yang lupa bahwa dia sendiri adalah alasan semua orang berdiri di sini membicarakan mobil yang bukan milik siapa pun lagi.
Aku berdiri di pinggir percakapan itu dan menyaksikan. Ada yang aneh dari posisi itu. Berdiri di tepi pembicaraan tentang sesuatu yang menyangkut diriku, mendengarkan orang-orang menghitung berapa yang layak aku terima, tanpa ada satu pun yang menoleh dan bertanya aku sendiri maunya apa. Mungkin karena mereka sudah tahu jawabannya tidak akan mengubah apa pun. Atau mungkin karena tidak ada yang benar-benar berpikir untuk bertanya.
Perempuan yang keputusannya membawa kekacauan ini, yang kepercayaannya pada orang yang salah menghabiskan warisan orang tua kami, sekarang berdiri paling keras mempermasalahkan bagian orang lain. Bukan karena peduli pada hakku. Tapi karena tidak mau merasa rugi lebih dari yang sudah ada.
Aku tidak marah. Atau mungkin sudah terlalu sering marah sampai tubuh belajar menyimpannya di tempat yang tidak langsung terasa.