Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #18

Atap Orang Lain

Uang yang menjadi hakku akhirnya kutransfer juga. Tapi bukan tanpa drama. Nita dan Gilang terus mengganggu Om Sandi dan Tante Tantri, membuat suasana semakin tidak nyaman. Telepon yang terus berdering, dibiarkan berbunyi. Pesan yang nadanya makin tinggi. Tuntutan yang datang berulang seolah mereka yang paling berhak atas segalanya. Aku tidak ingin membuat Om Sandi dan Tante Tantri repot lebih jauh, jadi aku memilih diam dan menerima apa adanya. Yang sampai ke tanganku adalah sisanya. Sisa dari sisa, yang kemudian dibagi dua dengan Nita.

Ada sesuatu yang sejak dulu seharusnya milikku, tapi selama bertahun-tahun ada di tangan Nita dan Gilang. Dipakai dengan nyaman, tanpa pernah ada yang merasa perlu menjelaskan apa-apa kepadaku. Tidak ada laporan. Tidak ada angka. Hanya diam yang terasa sangat teratur. Diam yang disepakati oleh semua orang kecuali aku.

Pada akhirnya aku mengambil alih. Bagaimana caranya, aku tidak mau menjelaskan lebih jauh. Yang perlu diketahui hanya bahwa itu memang hakku. Selalu.

Di depan pintu rumah Om Sandi, dengan satu koper dan nol pilihan.

"Tinggal di sini, tidak usah bayar apa-apa."

Kata itu terdengar seperti hadiah.

Gratis.

Kalimat itu jatuh ke telingaku seperti air ke tanah kering. Aku terlalu lelah untuk mencurigai sesuatu yang terdengar seperti penyelamatan. Terlalu kering untuk tidak minum ketika ada yang menawarkan air. Terlalu haus untuk bertanya apa syaratnya.

Jadi aku percaya.

Koper itu kukemas sendiri. Tidak banyak isinya. Beberapa helai pakaian, perlengkapan mandi, dan satu tas kecil berisi dokumen yang selalu kubawa ke mana-mana karena aku sudah belajar bahwa meninggalkan sesuatu yang penting di tempat orang lain berarti kamu mungkin tidak akan pernah mendapatkannya kembali. Atap yang kutinggali bukan milikku. Tidak pernah milikku.

Ini adalah masalahku yang paling konsisten sepanjang hidup. Bukan bodoh. Bukan naif. Tapi terlalu lapar akan sesuatu yang terasa seperti kebaikan sampai tidak memeriksa apakah itu memang kebaikan, atau hanya sesuatu yang dibungkus menyerupainya. Aku tahu pola ini. Aku bisa mengenalinya kalau itu terjadi pada orang lain. Tapi ketika itu terjadi padaku, ketika aku yang sedang tenggelam dan ada tangan yang terulur, aku tidak pernah sempat memeriksa apakah tangan itu akan menarikku ke atas atau hanya memindahkanku ke genangan yang lain.

Rumah Om Sandi dan Tante Tantri tidak besar. Dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur kecil di belakang dan teras. Tapi ada ruang untukku di sana, dan untuk sementara itu cukup. Aku tidur bersama Kak Nala di kamar kecil yang sederhana. Aku tidak mengeluh.

Kakek Muslan, ayah dari ayahku, tinggal tidak jauh dari sini. Sudah tua, pikun, sering lupa siapa yang ada di depannya. Nenek, ibu dari pihak ayahku, sudah lebih dulu pergi. Kakek diurus Om Sandi yang juga tidak punya banyak tapi tetap mencoba. Setiap pagi ada yang harus diurus. Makan. Kebersihan. Hal-hal kecil yang menumpuk jadi besar kalau dilakukan setiap hari tanpa jeda. Aku ikut membantu.

Di rumah itu ada keluarga yang utuh. Bukan utuh dalam arti sempurna, tapi utuh dalam arti hadir. Om Sandi dan Tante Tantri bercanda di dapur. Kadang bertengkar soal hal kecil, lalu berbaikan tanpa perlu membicarakannya. Kak Nala, anak pertama mereka, sering pulang membawa sesuatu. Camilan. Barang kecil. Hal-hal yang tidak mahal tapi menunjukkan bahwa dia memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Ali, adiknya, anak kedua mereka, menerima semua itu dengan cara yang wajar. Dengan cara yang ringan. Dengan cara yang tidak tahu bahwa tidak semua orang punya kakak seperti itu.

Aku menyaksikan itu dari sudut ruangan.

Lihat selengkapnya