Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #19

Harapan yang Dibuang

Sebelum berangkat, aku datang ke rumah Bu Salma bersama Om dan Tanteku. Suaminya Bu Salma kebetulan ada di sana, dan Om Sandi juga mengenalnya. Aku hadir, tapi yang bicara om dan tanteku. Ceritaku yang diceritakan, bukan aku yang diajak berbicara. Mereka pikir itu membantu. Mungkin benar, mungkin tidak.

Kereta itu berangkat pagi. Aku, Tiara, dan Bu Salma duduk bersama, tiket sudah dibayari Bu Salma. Perempuan itu aku kenal hanya dari satu kunjungan, seseorang yang menawarkan tempat kerja kepada orang yang baru pertama kali dilihatnya. Aku duduk di dekat jendela, melihat kota perlahan berganti sawah, berganti pohon, berganti langit yang tidak punya nama.

Ada sesuatu yang aneh dalam perjalanan itu. Bukan sedih, bukan takut, tapi lega. Ini pertama kalinya dalam waktu yang lama aku pergi, bukan melarikan diri. Aku pergi karena ada sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan. Belum pasti, tapi ada. Jarak terasa seperti obat. Jauh dari rumah yang sudah lama tak terasa seperti rumah. Jauh dari yang menungguku dengan tangan selalu meminta.

Tiara baru lulus SMA, anak ART Bu Salma. Awalnya ragu harus jauh dari keluarga, tapi keinginannya untuk langsung kerja lebih besar.

Sesampainya di kabupaten itu, udara terasa berat dan pengap, bukan karena panas, tapi karena beban yang tak terlihat. Jalanan yang sepi seolah menyambutku dengan dingin, mengingatkanku bahwa aku hanyalah tamu yang tak diundang di tempat asing ini.

Seharusnya kami tinggal di sana hanya untuk belajar dan mempersiapkan diri sebelum usaha Bu Salma buka di Kota B. Bu Sinta, yang mengatur kami tinggal di rukonya. Bangunannya tiga lantai: lantai bawah untuk bisnis money changer dan travel umroh haji, sedangkan dua lantai atas untuk tempat tinggal. Bu Sinta punya tiga anak dan suami. Rumah selalu ramai, tapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar terisi.

Tapi sesuatu terjadi di sana, sesuatu yang baru kupahami artinya jauh setelah aku pergi.

Cara bicara mereka blak-blakan, tanpa basa-basi. Awalnya aku tak terbiasa, tapi lama-lama aku mengerti bahwa begitulah cara mereka. Apa yang mereka rasakan, mereka ucapkan. Tak ada yang ditahan.

Ada dua ART, Ka Maya dan Ka Wulan. Keluar tak bebas, cuti harus izin Bu Sinta. Ada juga Dila, yang ibunya TKW, dibawa Bu Sinta bekerja di sana. Bisnis mereka tak hanya travel, juga jalur TKI.

Aku dan Tiara tidur di mushola lantai dua. Ada kasur, kipas angin. Cukup. Tidak nyaman, tapi aku sudah belajar menerima apa saja.

Suatu hari, Bu Sinta mengajak kami ke mall. Di sana, Bu Salma menyerahkan dua lembar merah kepadaku dan Tiara masing-masing, untuk membeli kebutuhan. Cukup membuatku merasa tidak diabaikan. Cukup membuatku merasa berarti.

Ka Maya tahu aku punya penyakit. Suatu hari tanpa diminta, dia membuat bola ubi tanpa santan. Aku habiskan dengan rasa syukur sulit kujelaskan. Di tempat jauh dari segalanya, ada yang peduli hal sekecil itu.

Lihat selengkapnya