Nenek Jumi meninggal hari Jumat.
Dan kali ini aku tidak menangis.
Aku tahu ini bukan dari telepon. Bukan dari suara tangisan yang merembes lewat dinding. Aku tahu ini dari tetangga yang mengetuk pintu, perempuan itu berdiri di ambang dengan ekspresi yang sudah aku hafal, ekspresi yang selalu mendahului kabar yang tidak bisa ditarik kembali.
Saat itu ponselku sedang diisi daya di kamarku sendiri. Nita sudah berkali-kali menelepon. Sudah mengirim pesan. Aku tidak tahu. Tidak dengar. Tidak sadar. Tetangga itu yang akhirnya datang, mengetuk, memberitahu. Bukan keluarga. Bukan siapa-siapa yang dekat. Hanya tetangga yang kebetulan tahu lebih dulu dari aku tentang kepergian satu-satunya orang yang masih kusebut pelindung.
Tidak ada perpisahan. Tidak ada momen terakhir yang bisa kupegang. Hanya tiba-tiba: dia sudah tidak ada.
Pemakaman itu berlangsung. Aku hadir, tapi tidak benar-benar di sana.
Tanah merah itu digali oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu Nenek Jumi sebelumnya. Mereka akan pulang, makan siang, melanjutkan hari mereka. Ini hanya satu pekerjaan di antara banyak pekerjaan. Aku tidak marah tentang itu. Hanya menyadarinya, dengan cara yang terasa seperti tahu bahwa langit itu biru: benar, tapi tidak membuat apa-apa terasa berbeda.
Saat tanah mulai ditimbun, aku baru sadar bahwa ini akan selesai. Bahwa ada akhir dari ritual ini, dan setelah akhirnya aku harus pulang ke suatu tempat, melakukan sesuatu, menjadi seseorang.
Aku tidak tahu caranya.
Kakek Haris. Ina. Karim.
Sekarang Nenek Jumi.
Aku sudah terlalu sering berdiri di tempat seperti ini sampai kakiku tahu sendiri harus ke mana. Tanah merah, orang-orang berpakaian gelap, doa-doa yang keluar dari mulut orang lain. Aku mengikuti semuanya. Tapi pikiranku tidak ikut ke mana-mana.
Yang tidak kujadwalkan adalah kesadaran yang datang pelan-pelan saat aku berdiri di sana.
Tidak ada lagi yang tersisa.
Kakek Haris sudah pergi. Ina sudah pergi. Karim sudah pergi. Dan sekarang Nenek Jumi, satu-satunya orang yang diam-diam masih kujadikan alasan bahwa ada tempat pulang di dunia ini, dia juga sudah masuk ke dalam tanah merah itu.
Aku berdiri di sana. Tidak menangis. Sudah lama tidak bisa.
Ini bukan kesedihan.