Kakakku masih hidup. Tapi aku sudah mengubur dia di tempat yang tidak akan pernah kucari.
Bukan karena dia mati. Tapi karena aku yang memutus. Dengan tangan sendiri, dengan kesadaran penuh, dengan ketenangan yang hanya bisa datang dari seseorang yang sudah kehabisan semua rasa yang lain. Tidak ada tangisan dramatis. Tidak ada konfrontasi terakhir. Hanya keputusan yang mengeras pelan-pelan, seperti semen yang tidak terlihat prosesnya tapi tiba-tiba sudah tidak bisa digerakkan.
Selesai.
Aku ingat hari terakhirnya.
Bukan hari di mana ada pertengkaran besar. Bukan hari di mana ada kata-kata keras yang terlempar dan tidak bisa ditarik kembali. Justru sebaliknya. Hari itu biasa. Terlalu biasa untuk menjadi hari terakhir.
Aku menemukan sesuatu yang hilang. Bukan barang besar. Hanya sesuatu yang kecil, yang pernah ada, yang tiba-tiba tidak ada. Dan aku tahu. Bukan hilang dimakan waktu. Bukan lupa disimpan di mana. Aku tahu.
Aku tidak bertanya. Tidak menuduh. Hanya duduk di kamarku dan menghitung. Berapa kali ini terjadi. Berapa kali aku diam. Berapa kali aku menelan sesuatu yang seharusnya tidak harus kutelan. Hitungannya sudah terlalu panjang untuk dilanjutkan.
Tidak ada air mata. Itu yang membuatku sadar bahwa ini sudah selesai sejak lama. Air mataku sudah habis jauh sebelum hari itu. Yang tersisa hanya kejernihan yang aneh. Seperti tubuh yang akhirnya berhenti melawan sesuatu yang sudah lama menang.
Aku tidak perlu menjelaskan kepadanya. Tidak perlu membuat dia mengerti. Keputusan itu bukan untuknya. Tidak butuh penontonnya. Tidak butuh validasinya. Tidak butuh responsnya. Keputusan itu hanya milikku. Mungkin satu-satunya hal dalam rumah ini yang benar-benar hanya milikku dan tidak bisa dia ambil, dia jual, atau dia pakai tanpa izin.
Berhenti membuang energi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa suatu hari dia akan melihatku sebagai saudara yang setara, bukan sebagai sesuatu yang bisa diperalat, dikuras, dan diabaikan di waktu yang sama.
Keputusan yang mengeras pelan-pelan itu bukan lahir di hari itu. Tapi di hari itu, semennya sudah kering.
Tapi sebelum selesai itu datang, ada terlalu banyak yang harus dicatat. Bukan untuk diratapi. Tapi karena diam terlalu lama sudah melukai cukup dalam. Dan aku tidak berutang diam kepada siapa pun lagi.
Nita yang memutuskan segalanya. Selalu dia. Kontraktor itu pilihannya, kepercayaan itu miliknya, dan ketika semuanya runtuh, ketika bangunan berdiri setengah jadi di atas tanah yang Ina sisihkan dengan perhitungan panjang, tidak pernah ada namanya sendiri yang dia sebut sebagai penyebab. Selalu ada pembelaan. Selalu ada arah lain untuk jari yang menunjuk.
Yang paling tidak bisa kuhapus dari kepala bukan soal uang.
Yang paling tidak bisa kuhapus adalah malam sebelum Ina pergi.