Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #22

Kanvas Bekas Luka

Tahun 2026.

Ada titik di mana kamu berhenti menangis bukan karena sudah sembuh, tapi karena tubuhmu kehabisan cara untuk mengeluarkan rasa sakit itu. Seperti sumur yang terus digali hingga tak ada lagi yang tersisa di dasarnya. Kering. Kosong. Diam.

Dua puluh empat tahun. Keputusan ini bukan impulsif. Sudah lama membeku. November nanti, usiaku dua puluh lima. Tapi luka ini lebih tua dari itu.

Tidak ada momen besar yang bisa kutunjuk sebagai "di sinilah aku menyentuh dasar." Hanya hari-hari yang datang dan pergi tanpa pernah terasa berbeda. Bangun. Berbaring. Bangun lagi. Tidak pernah menuju ke mana pun yang berarti.

Pikiran itu kembali. Bukan bisikan seperti di peron kereta dulu. Lebih keras dari itu. Lebih meyakinkan. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu dan akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan suara penuh.

Sudah cukup.

Bukan lagi sekadar bayangan yang lewat. Kali ini dia duduk. Menetap. Membuat dirinya nyaman di dalam kepalaku seperti tamu yang tahu dia tidak akan diusir. Pikiran untuk mengakhiri semuanya datang bukan dengan drama, bukan dengan tangisan, tapi dengan logika yang terasa sangat masuk akal di malam-malam yang terlalu panjang itu. Bahwa mungkin memang ada titik di mana seseorang sudah cukup memberi, cukup bertahan, cukup mencoba. Dan titik itu terasa sangat dekat. Lebih dekat dari sebelumnya. Lebih dekat dari sepi di peron kereta yang dulu.

Semua orang yang pernah membuatku bertahan sudah pergi. Kakek Haris. Ina. Karim. Nenek Jumi. Ua Rivan menyusul tak lama setelah Ina. Lalu Kakek Muslan juga pergi. Satu per satu. Seperti deretan lilin yang ditiup oleh angin yang sama, angin yang tidak pernah bertanya apakah aku sudah siap untuk gelap. Tidak ada lagi yang akan kehilangan dengan cara yang mengubah hidupnya jika aku tidak ada besok pagi. Yang tersisa dari pihak ibu maupun ayah, semua sudah punya keluarga masing-masing. Mereka ada. Tapi ada dan hadir adalah dua hal yang berbeda.        

Aku berbaring di kasur dengan kegelapan yang sama di atas kepalaku. Mencoba merasakan sesuatu selain hampa.

Tidak bisa.

Penyakit itu sudah bertahun-tahun. Dua belas, mungkin tiga belas. Aku sudah tidak ingat persis kapan mulainya karena luka dan sakit di tubuhku selalu datang bersamaan sampai tidak bisa dibedakan mana yang datang lebih dulu. Stres mengundang sakit. Sakit mengundang stres. Lingkaran yang tidak pernah selesai, yang harus kukelola setiap hari dengan cara-cara yang tidak murah dan tidak mudah. Pola makan yang harus dijaga ketat bahkan ketika tidak ada yang peduli apakah aku sudah makan atau belum.

Tubuh ini menyimpan semua yang pernah terjadi. Tidak ada yang benar-benar hilang. Semuanya mengendap di suatu tempat. Trauma tidak mengenal organ. Dia masuk ke mana saja yang bisa dia temukan.

Dan aku menanggungnya sendirian. Seperti biasa.

Dan memoar ini, yang sedang kamu baca sekarang, ditulis dengan tangan yang sama yang pernah gemetar di kitchen hotel, di kantor polisi, di lorong rumah sakit yang terlalu panjang.

Aku bukan penulis yang sempurna. Tidak pernah mengaku itu. Tapi aku penulis yang terus menulis meski semua alasan untuk berhenti sudah ada di depan mata.

Ada yang berkata hidup adalah perjalanan. Aku tidak percaya itu. Hidup bukan perjalanan; perjalanan punya tujuan yang sudah tahu bentuknya dari awal. Hidupku lebih menyerupai kanvas yang terus dirobek, berdarah, ditambal dengan tangan gemetar, dirobek lagi. Berdarah lagi. Ditambal lagi dengan bahan yang berbeda, bahan apa pun yang tersisa. Sampai tidak ada yang tersisa dari kanvas aslinya kecuali bekasnya, dan darah yang sudah lupa dari luka mana asalnya.

Lihat selengkapnya