Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #1

Kejutan

Sudah normal? Aku tidak yakin dengan apa yang baru saja kudengar.

“Satu sel telur matang berukuran 18 mm,” jelasnya sambil menunjukkan foto hasil USG transvaginal milikku. “Di sebelah kiri rahim.”

Aku tidak bisa bicara, saking gembiranya.

Aku mulai menjalani program kehamilan ini 8 bulan yang lalu, setelah 6 tahun pernikahan dan tak kunjung hamil. Aku divonis menderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dengan ukuran sel telur 6 mm di awal pemeriksaan.

Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Di samping kanan gambar itu tertulis beberapa angka yang berderet ke bawah. Dan angka 1,86 cm... itu pasti ukuran sel telurku!

“Apa itu artinya istri saya sudah bisa hamil, Dok?” sahut Mas Irfan, suamiku, antusias. Dia duduk di sampingku.

“Ya,” dr. Dewi tersenyum. “Ibu Prita memiliki peluang kehamilan jika berhubungan di masa subur.”

Aku masih berkedip-kedip tak percaya melihat kertas foto hitam-putih itu.

 

Tiga bulan berlalu. Aku tetap rutin ke klinik dan hasilnya masih sama, sel telurku normal meskipun aku belum juga hamil.

Sedikit kejutan, bulan ini ukuran sel telurku 1,87 cm. Kenaikan 0,01 cm terasa seperti sebuah perayaan kecil dalam penantian panjang.

“Hanya menunggu waktu, Bu,” dr. Dewi membesarkan hatiku. “Terus berusaha, jaga pola makan, dan rutin olahraga, ya.”

Aku harus selalu menjaga pola hidup sehat agar hormonku tetap stabil. Kalau tidak, sel telurku akan menyusut lagi. Aku tidak bisa sembuh total.

“Yang terpenting jangan stres,” lanjutnya sambil memberikan kertas resep.

  

Catat, Prita. Jangan stres.

Aku akan selalu ingat bahwa kehidupan dan kematian sudah ditentukan. Jadi, aku tidak perlu cemas saat perutku mulai menunjukkan tanda-tanda sekitar seminggu sebelum tanggal menstruasiku. Apa pun yang kurasakan, aku harus tetap tenang dan berpegang teguh pada keyakinanku. Kalau aku ditakdirkan hamil bulan ini, itu pasti akan terjadi. Begitu pula sebaliknya.

Namun kenyataannya tidak semudah itu.

Ketika perut sebelah kiri bawahku terasa berdenyut-denyut, seperti dicubit-cubit kecil, dan rasanya hilang-muncul. Aku langsung berasumsi. Mungkinkah ini kram ringan awal kehamilan? Bukankah dokter bilang aku punya sel telur matang di sebelah kiri?

Lalu aku cepat-cepat mengingatkan diriku sendiri.

Jangan terlalu berharap. Nanti kecewa lagi, Prita. Mungkin ini gejala pramenstruasi seperti biasanya.

Ya, mungkin saja.

Dan aku tidak akan waswas meskipun artikel-artikel itu mengatakan banyak orang mengira akan menstruasi, tapi yang terjadi adalah kehamilan karena gejala awal kehamilan hampir tidak bisa dibedakan dengan gejala menstruasi.

Oke, aku hanya perlu menunggu dengan tenang.

 

Lihat selengkapnya