“Sementara di sini dulu.” Kudengar dari dalam kamarku, Mbak Dina bicara dengan Ibu. Aku memanggil ibu mertuaku “Ibu”.
“Setidaknya sampai semua tetangga sembuh,” tambah Mbak Dina.
“Lebih baik di sini dulu sampai pandeminya selesai,” kata Ibu. “Kasihan anak-anak.”
Bulan lalu Mbak Dina mengatakan anak-anak sudah mulai belajar dari rumah karena kasus Covid-19 di Jakarta meningkat. Kini tempat tinggal mereka sudah masuk zona merah. Mbak Dina sekeluarga terpaksa mengungsi ke kampung halaman setelah tetangga depan rumahnya positif.
Jadi, Zayyan dan Zaydan, dua bocah yang betah mendekam di kamarku ini akan bersamaku dalam waktu lama!
“Kepiting... kepiting...”
Dua jari kecil menjepit pergelangan tanganku seperti gunting. Rupanya Zaydan masih ingat. Tahun lalu, aku yang memperkenalkan permainan kepiting itu kepadanya. Jadi, siapa yang berhasil menjepit lebih dulu, dialah pemenangnya.
“Dek menang!” katanya sambil mengangkat kedua tangan. Di rumah, dia dipanggil Dedek.
Aku tersenyum.
“Sekarang Tetita.”
Dia memanggilku Tetita, singkatan dari Tante Prita. Dia belum bisa mengucapkan huruf R, jadi begitulah dia menyebut namaku.
Dia mengulurkan tangannya padaku, “Gigit tangan Dedek!”
“Kenapa Dedek minta digigit?” Aku tertawa kecil. “Kan Dedek udah menang.”
“Ya, nggak apa-apa. Gigit aja.”
Lalu kujepitkan kedua jariku ke pergelangan tangannya.
“Bilang, kepiting... kepiting...” katanya.
“Oh!” Aku merasa konyol. “Kepiting... kepiting...”
“Yey, kamu menang!”
Dia juga terbiasa memanggilku “kamu”. Dia menganggap semua orang yang bermain dengannya sebagai teman, termasuk kucing liar. Jadi, di matanya, aku sama seperti teman-teman seusianya yang dia panggil “kamu”.
“Dek, lihat ini Abang main apa.” Zayyan memperlihatkan layar HP-nya, tapi Zaydan justru berlari keluar kamar.
“Mau ke mana?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
“Makan nggak, Dek?” Terdengar suara Mbak Dina.
“Nggak!”
“Nonton Upin Ipin sini, Dek,” kata Mas Irfan.
Tidak lama kemudian ia kembali ke kamarku, bolak-balik membawa mainannya.
“Apa itu, Dek?” tanyaku.
“Binatang.”
“Baru beli atau bawa dari Jakarta?”
“Mama yang beli.”
“Beli di sini?”
“Di sana.”
“Di mana?”
“Jauh.”
Aku tertawa terbahak-bahak. Wajahnya tetap serius, tidak merasa ada yang lucu.
“Binatang apa ini, Dek?”
“Yang mana?” tanyanya.
“Ini.” Aku mengambil salah satunya.
“Sapi.”
“Kalau yang ini?”
“Badak.”
“Ini?”
“Kuda.”
“Kalau ini?” Aku mengangkat dua mainan sekaligus.
“Ini unta.” Dia menunjuk tangan kiriku. “Yang ini gajah.”
“Kamu nggak nanya ini?” Dia mengambil satu mainan yang terlewat.
“Oh, itu si leher panjang!” kataku bercanda.
“Bukan, bukan!” sanggahnya dengan wajah serius. “Dia Jerapah!”
“Oh, iya!” Aku menepuk dahi.
Di ruang tengah, suasana mulai ramai.
“Badan ibu rasanya meriang.”
“Mungkin kecapekan, Bu,” kata Mas Irfan. “Makanya jangan beres-beres rumah terus. Siang tuh istirahat, nonton TV.”
“Gimana mau istirahat, rumah berantakan.”
“Ya, nggak apa-apa. Nanti diberesin. Sekarang istirahat dulu.”
“Jangan-jangan kena Corona,” sahut Mbak Dina. “Bu Rahma rumah pojok seberang lapangan bola katanya positif.”
“Jauh,” kata Mas Irfan. “Ibu nggak pernah keluar sampai sana.”
“Bisa aja virusnya terbang ke sini kebawa angin.”
“Mbak Dina kali yang bawa virus ke sini, kan tetangga depan rumah positif.”
“Lah, kan sebelum ke sini tes dulu.”
“Iya, negatif semua,” timpal Mas Zaki, suami Mbak Dina. “Cuma Dedek aja yang nggak tes.”
“Nah, kalau Dedek positif, aku pasti ketularan!” Aku menyambar. “Orang dia itu kebiasaan pegang hidung sama bibirku.”
Semua tertawa, kecuali Zaydan.
Ia menarik tanganku dan memaksaku kembali ke kamar.
“Lagi ada Corona nggak boleh pegang-pegang bibir, Dek” kata Mas Irfan meledek.
“Kan Dedek pegang mulut Mama,” jawabnya tidak nyambung.
Aku mengusap kepalanya, gemas.
“Sini, Bu, Irfan pijitin.”
“Jangan sakit-sakit,” kata Ibu.
Mas Irfan tenaganya terlalu besar. Jadi, kadang pijatannya justru membuat badan terasa sakit.
“Nggak, nggak sakit.”
“Tenaganya separuh aja,” kataku tertawa.
Ibu langsung bersendawa saat pundaknya dipijat.
“Tuh, anginnya keluar,” kata Mas Irfan makin bersemangat memijit. “Enak, kan?”