Aku keluar kamar pagi-pagi dan langsung menginjak mainan gajah. Kukira satu mainan Zaydan tertinggal di sini. Tapi ternyata bukan hanya gajah. Ada jerapah, badak, kuda, sapi, unta....
Astaga. Satu kebun binatang ada di depan kamarku!
Semalam, sebelum kembali ke kamarnya, aku memintanya menyimpan mainannya.
“Dedek, mainannya disimpan, ya. Biar nggak hilang.” Aku menghindari kata “beresin” karena kupikir dia tidak suka kata itu.
Dengan mata mengantuk, ia menjawab, “Iya.” Lalu ia mengangkut mainannya satu per satu dan meletakkannya di depan pintu kamarku.
“Biasanya disimpan di mana mainannya?”
“Di sana,” jawabnya.
Aku menduga dia sudah punya tempat khusus. Kukira dia punya kotak mainan di kamarnya.
“Besok main lagi, ya,” ujarku sebelum menutup pintu. “Dadah...”
Dia melambaikan tangan.
Jam 04.00. Rumah masih sepi. Tidak seperti biasanya, Ibu belum bangun. Pintu kamar Mbak Dina masih tertutup.
Di meja makan, piring kotor masih menumpuk, kuah sayur di mangkuk sudah basi, dan dua gelas teh baru diminum sedikit. Sejak dulu Mbak Dina memang tidak terbiasa langsung mencuci piring setelah makan. Itulah yang selalu bikin Ibu kesal.
Kardus air mineral di bawah meja makan tampak berantakan. Saat kubuka, isinya sudah bercampur dengan gelas-gelas bekas yang tidak dibuang.
Ya, rumah Ibu memang selalu berantakan setiap kali ada mereka.
Aku menarik napas panjang dan mulai beres-beres.
Sekitar setengah jam kemudian terdengar adzan Subuh. Rumah sudah rapi. Ibu baru keluar dari kamar.
“Prita, sudah bangun?” sapanya. “Ibu kesiangan.”
Kami bersiap-siap sholat berjamaah.
Tidak lama kemudian, aku melihat Mas Zaki berjalan dari arah kamar mandi, lalu masuk ke kamarnya.
Jam 05.45. Mbak Dina dan anak-anak belum juga bangun.
“Dina!” Suara Ibu meninggi. “Kamu nggak sholat, apa?”
Aneh. Bukannya tadi Mas Zaki sudah bangun. Kenapa dia tidak membangunkan Mbak Dina dan anak-anak? Apa mungkin Mbak Dina sedang datang bulan?
“Mungkin Mbak Dina lagi libur sholat, Bu,” ujarku menenangkan.
“Ibu pagi-pagi udah ribut,” Mbak Dina akhirnya bangun dan langsung menuju kamar mandi.
“Ya, kalau nggak ribut kamu nggak bangun, Dina.”
Dari kamar mandi terdengar suara air mengucur ke lantai.
“Dina... Dina... Langit sudah terang baru mau sholat subuh,” ujar Ibu sengit. “Pasang alarm kalau nggak bisa bangun pagi. Anak-anak juga nggak ada yang sholat.”
“Mau sarapan apa, Bu?” Mas Irfan berusaha mengalihkan perhatian Ibu.
“Apa, ya? Apa, Prita?”
“Ibu penginnya apa?” aku balik bertanya. “Bubur ayam? Nasi kuning?”
“Bubur aja,” katanya “Kerupuknya dipisah, ya.”
“Sekalian beliin anak-anaknya Dina. Si kecil dari kemarin belum makan nasi.”
Kulihat Mas Zaki duduk di sofa ruang tengah, asyik dengan HP-nya. Seolah tidak terganggu dengan semua keributan kami.
Anak-anak baru bangun setelah kami selesai makan bubur. Mas Zaki sarapan roti karena tidak suka bubur. Aku belum melihat Mbak Dina makan. Dia memang tidak pernah disiplin soal jam makan. Si kakak masih bermalas-malasan di tempat tidur sambil bermain HP.
“Mana mainan Dedek?” Tiba-tiba Zaydan sudah berdiri di sampingku.
“Mainan apa, Dek?” tanyaku pura-pura tidak tahu sambil terus melanjutkan mencuci piring.
“Mainan binatang Dedek.”
“Kan kemarin Dedek yang nyimpan,” aku mengingatkan. “Dedek simpan di mana?”
“Di sana.” Dia menunjuk ke arah kamarku.
“Di sana? Di mana?”
“Di depan kamar Tetita.”