Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #4

Teman Kecil

Sejujurnya aku tidak menyukai situasi ini. Tidak seharusnya seperti ini. Anak-anak harus dibiasakan bangun pagi. Masalahnya, aku bukan ibunya. Dan ibunya terbiasa bangun siang.

Baiklah, biarkan saja mereka dengan hidupnya sendiri.

Namun saat aku berjalan melewati pintu kamar mereka, aku mendadak berubah pikiran.

“Dedek... Dedek... ayo main...” Aku memanggilnya berulang-ulang hingga pintu akhirnya dibuka. Tapi ternyata yang keluar Mbak Dina, bukan Zaydan.

“Mana Dedek?” tanyaku, merasa tidak enak.

“Masih tidur,” katanya. Wajahnya terlihat lelah, seperti kurang tidur. Sehingga aku penasaran apa yang dilakukannya seharian di kamar . Dia bahkan tidak pernah bangun pagi.

Saat Mbak Dina berlalu, aku melongok ke dalam kamar. Kulihat Zaydan sudah membuka mata tapi masih berbaring setengah sadar.

Aku memanggilnya lagi pelan-pelan, “Dedek.... ayo bangun... mau main nggak?”

Dia menoleh ke arahku.

“Ayo main...” kataku.

“Anak sudah bangun malah dikasih susu botol,” terdengar suara Ibu di belakangku. “Dia bukan bayi lagi, Dina.”

Saat aku berbalik, sudah ada Mbak Dina di belakangku, membawa sebotol susu cokelat. Zaydan memang masih minum susu di botol seperti bayi. Mbak Dina tersenyum saat melihatku kaget.

Si adek gagal bangun. Susu botol itu benar-benar bereaksi seperti obat tidur baginya.

  

Mas Irfan bilang ada dokumen yang tertinggal di rumah sehingga kami harus segera mengambilnya karena rapat daring akan dimulai tepat pukul 09.00. Aku berpikir sebaiknya rapat online itu dilakukan di rumah saja agar bebas dari gangguan anak-anak.

Aku bisa membayangkan. Saat Mas Irfan sedang online dan bicara serius dengan rekan-rekannya, tiba-tiba Zaydan berjalan mondar mandir sambil membawa mainan jerapah.

Tidak, itu tidak boleh terjadi.

Kami segera berangkat setelah sarapan, meninggalkan Zaydan yang masih tidur nyenyak. Dan baru kembali ke rumah Ibu menjelang sore.

Saat aku masuk, aku tahu dia ada di balik pintu. Tapi aku harus pura-pura tidak melihatnya, dan berusaha mencarinya seolah dia sedang bersembunyi di dunia lain sehingga aku kesulitan menemukannya. Sampai dia tiba-tiba muncul di belakangku dan aku harus terkejut sambil berteriak, “Aduh! Kaget... kaget... kaget!”

Ingat, harus selalu bilang begitu. Kau tidak bisa hanya bilang “Aduh, kaget!” atau “Kaget” sebanyak dua kali. Tidak bisa.

Awal mulanya, saat aku sedang menjemur sprei, aku tidak tahu dia ada di baliknya. Jadi ketika tiba-tiba ada tangan menjulur dari balik sprei, aku berteriak “Aduh! Kaget... kaget... kaget!” Sejak saat itu, setiap kali dia mengejutkanku, aku harus selalu berteriak seperti itu. Jika tidak, dia akan mengatakan, “Tetita bilang kaget”.

Dan jika aku tidak sengaja melihatnya saat dia akan mengejutkanku, dia akan protes,, “Tetita, lihat sana. Dedek mau ngagetin Tetita.”

Jadi, peraturan dalam permainan kejutan si adek sudah baku.

Pertama, kau harus selalu melihat ke sana. Entah, ke mana pun asal tidak melihat dia.

Kedua, kau tidak boleh menemukan dia meskipun dia berada di depan hidungmu.

Ketiga, kau harus terkejut dan bilang kaget sebanyak tiga kali. Jika kurang dari itu, kau harus mengulanginya.

Lihat selengkapnya