Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #5

Tanda Tanya

Entahlah. Semakin hari semakin banyak kejutan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini.

 Pagi-pagi, aku hampir saja berhasil membangunkan si kecil. Kulihat dia terbangun dan langsung duduk di atas tempat tidur setelah mendengar panggilanku. Dan ketika Mbak Dina masuk membawa sebotol susu cokelat seperti biasanya, dia bilang, “Ma, Tetita.”

“Iya,” jawab Mbak Dina. “Minum susu dulu ya, biar perutnya gendut.”

Zaydan tidur lagi akhirnya.

 

Waktu sarapan, Zaydan tiba-tiba duduk bersama kami tanpa kami minta. Dia membawa sebungkus roti sobek rasa cokelat. “Dedek mau roti,” katanya padaku. Aku mengartikannya dia minta disuapi roti.

“Mau nasi goreng nggak, Dek?” tanya Ibu.

Dia langsung menjawab, “Nggak.”

Jadi, aku makan nasi goreng sambil menyuapi dia roti.

Dia sangat lahap. Hingga Mbak Dina keluar kamar, melihat kami sambil bertanya, “Dedek ngapain, Dek?”

Zaydan diam saja, mengabaikan pertanyaan Mbak Dina. Lalu aku menyuapinya roti lagi, dan “Uek...” Dia mau muntah!

“Dedek kenapa?” Aku terkejut karena sebelumnya dia baik-baik saja dan makan dengan lahap. “Dedek kenyang?”

“Kebesaran ya, Dek, rotinya...” sahut Mbak Dina tenang.

Kebesaran? Aku masih tidak mengerti maksudnya, karena sebelumnya aku menyuapinya dengan potongan yang sama dan tidak ada masalah.

“Kan mulut Dedek kecil ya, Dek, ya...,” Mbak Dina melanjutkan sambil tertawa kecil. “Tante Pritanya nggak ngerti ya, Dek...”

Aku membalas dengan senyuman, sambil bertanya dalam hati, “Apakah dia sedang bercanda?”

“Minum dulu,” kata Mas Irfan, memberikan segelas air milikku yang belum kuminum.

“Nggak apa-apa,” kata Ibu santai. “Anak-anak biasa begitu... terburu-buru makannya.”

“Udah,” kata Zaydan. Dia tidak mau melanjutkan makan roti. Lalu menghilang ke kamarku.

 

Di dalam kamar, Zaydan menunjukkan plester yang menempel di lengan kanan atasnya.

“Kenapa itu?” tanyaku.

“Digigit nyamuk.”

“Digigit nyamuk kok diplester?” Aku memandangnya heran. “Memangnya berdarah?”

Dia berkedip-kedip melihatku.

“Sama Dedek digaruk terus berdarah?” tanyaku lagi.

“Nggak berdarah.”

“Terus kenapa diplester?”

“Kan sakit,” jawabnya.

“Katanya digigit nyamuk?

“Iya.”

“Digigit nyamuk kan gatal, bukan sakit.”

Dia menatap wajahku, bingung.

“Itu dedek sendiri yang nempelin plesternya?” tanyaku menyelidik. “Ambil di mana plesternya?”

“Mama yang tempelin.”

“Mama?” Aku garuk-garuk kepala, tidak habis pikir.

“Kata mama apa?” tanyaku, berbisik sambil melirik ke arah pintu.

Lihat selengkapnya