Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #6

Seperti Perangko

Sebelum mereka datang, aku membayangkan keseruan kebersamaan kami di rumah Ibu. Mungkin kami akan berkebun bersama, atau memasak dan makan bersama. Kami akan menonton film bersama menggunakan proyektor di ruang tengah dan memadamkan seluruh lampu di rumah agar suasana terasa seperti di bioskop. Aku membayangkan kami akan berkumpul di ruang keluarga sepanjang waktu, makan camilan sambil mengobrol dan aku akan lebih banyak tertawa melihat tingkah anak pancinganku yang lucu.

Aku kira pekerjaan rumah akan terasa lebih ringan karena kami bisa berbagi tugas. Tapi kenyataannya, Mas Zaki, Mbak Dina, dan si kakak sibuk sendiri dengan HP-nya. Mereka juga jarang bicara satu sama lain. Mbak Dina lebih banyak mendekam di dalam kamar seharian, Mas Zaki lebih suka duduk sendiri di ruang tamu, sedangkan si kakak tidur-tiduran di ruang tengah, kadang di kamarku. Hanya si kecil yang kurasa masih normal, sejauh ini. Aku bersyukur karena dia lebih memilih balon daripada HP.

 

Pagi hari. Ibu baru saja membeli balon untuk Zaydan. Dia sangat senang.

“Dedek punya ini!” Dia menunjukkan balon berbentuk ikan padaku.

“Bagus banget balonnya,” kataku. “Beli dimana?”

“Di depan.”

“Dedek beli sendiri?”

“Nenek yang beli.”

“Oh... Bagus ya...” Aku memegang balonnya, lalu bertanya, “Ada balon apa aja, Dek?”

“Nggak tau.”

“Maksud Tetita, selain balon bentuk ikan, ada bentuk apa lagi?”

“Nggak ada,” katanya.

“Masa sih?”

Suamiku tertawa dari belakang.

“Kan Dedek beli balon ikan di depan...” kataku, mencoba menjelaskan perlahan. “Orang yang jual balon itu kan bawa balon banyak... Nah, balon yang banyak itu bentuk apa aja?”

Dia langsung berlari keluar kamar, lalu kembali lagi.

“Nggak ada di depan,” jawabnya.

Tuhan, berikan aku kesabaran.

Mas Irfan tertawa terbahak-bahak.

 

Dia semakin lengket denganku dari hari ke hari. Dia juga mulai meniru apa yang biasa kulakukan dan mengikutiku ke mana pun aku pergi.

Saat aku sedang mencuci piring, dia menyeret kursi, duduk tepat di sampingku.

“Nonton kartun dulu sana,” kataku.

“Di sini aja,” jawabnya.

“Dedek mau bantuin Tetita nyuci piring?”

“Mau lihat aja.”

Dia duduk di sana sampai aku selesai mencuci.

 

Saat aku sedang menyapu halaman, dia mengikutiku, lalu berkata, “Dedek bantu.”

Lihat selengkapnya