Hari Minggu. Hari ini ulang tahun Ibu.
Dulu, saat masih ada Ayah, biasanya kami makan bersama di rumah Ibu. Tapi kali ini Ibu tidak ingin ada perayaan. Ibu bilang tidak usah ada acara kumpul keluarga karena sedang ada pandemi. Disamping itu Ibu mengeluh capek beres-beresnya. Itu karena mereka hanya datang untuk menghabiskan makanan lalu pulang meninggalkan Ibu dengan rumah yang berantakan. Biasanya aku dan Ibu yang selalu membersihkan rumah selesai acara.
Sebenarnya aku setuju dengan Ibu, tapi perasaanku tidak tenang. Kurasa mereka akan tetap datang. Jadi aku memasak soto ayam kampung sepanci besar. Mas Irfan beli ayam kampung satu ekor, dan kami sudah memasaknya sejak semalam. Jadi pagi ini tinggal memasak nasi dan menyiapkan pelengkapnya saja. Sekitar jam 08.00 semua sudah siap.
Mbak Dina sudah mandi sejak pagi. Anak-anak juga sudah mulai mandi. Tidak biasanya.
Kehebohan terjadi di kamar mandi saat Zaydan tidak mau mandi pakai sabun.
“Dedek nggak mau mandi! Nggak mau pakai sabun!”
“Ya, udah. Diguyur aja,” kata Mbak Dina.
Tidak lama kemudian mereka keluar.
“Bang, mandi, Bang. Dedek udah mandi.”
Si kakak mandi sendiri.
Kekacauan masih berlanjut. Si adek tidak mau pakai bedak.
“Ya, udah. Nggak usah pakai bedak.”
“Itu apa?” tanya Zaydan dengan nada curiga.
“Ini lotion. Dikasih ini biar nggak sakit, kan kemarin Dedek pipisnya sakit.”
“Dedek nggak mau pakai itu.”
“Ya, udah.”
“Mama! Dedek bilang nggak mau!”
Sepertinya Mbak Dina diam-diam mengoleskan lotion itu saat Zaydan mulai lengah. Mbak Dina memang biasa seperti itu.
Dari kamar mandi tidak ada suara, hanya gemericik air sesekali.
“Abang lagi apa sih di kamar mandi diem aja tuh?” Ibu melongok, membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci. “Ya ampun. Dari tadi masih kering aja badannya.”
“Dina...! Lihat itu. Zayyan nggak bisa mandi itu. Kamu ngajarin caranya mandi nggak sih?”
Mbak Dina diam saja. Akhirnya Ibu masuk ke kamar mandi, mengajari si kakak mandi.
“Diguyur semuanya sampai basah, terus di sabun. Ambil sabunnya... gosok pakai tangan terus gosok ke badan... nah... guyur lagi kalau udah. Mandi tuh kayak gini, Zayyan... Sikat gigi kamu mana? Bisa nggak sikat giginya?”
“Bisa.”
“Dina... Dina... anak nggak bisa mandi disuruh mandi sendiri.” Ibu keluar dari kamar mandi dengan baju basah semua.
Benar. Menjelang siang, saudara-saudara berdatangan.
“Ibu bilang nggak ada acara makan-makan. Kalian itu ya, datangnya kalau acara makan-makan aja. Coba sekali-sekali kalau ke sini bantuin beres-beres rumah, nyapu halaman, ngepel...”
Mbak Dita, anak perempuan tertua. Dia datang sendirian karena suaminya sedang ada urusan. Dia bilang kedua anak laki-lakinya nanti datang menyusul. Anak-anak Mbak Dita sudah remaja. Yang pertama kelas 3 SMA, yang kedua baru masuk SMP.
“Kamu bawa apa Dita?” tanya Ibu langsung.
“Ibu bilang nggak ada perayaan. Ya, Dita nggak bawa apa-apa.”
“Astaghfirullah... Ibu bilang nggak ada perayaan karena masih Corona, takutnya kumpul-kumpul malah bawa virus, jadi nggak usah ke sini. Eh, ini malah ke sini nggak bawa apa-apa. Dita... Dita...”
“Tuh, Mbak, ku bilang juga apa,” Mbak Dina menyahut. “Serba salah, kan?”
“Assalamualaikum....” Dian datang bersama suami dan 3 orang anaknya. Mereka tidak pernah absen tiap acara makan-makan. Dian anak perempuan paling bontot, setahun di bawah mas Irfan. Mas Irfan anak laki-laki paling kecil. “Itu salim sama Nenek,” katanya pada kedua anaknya. Anak pertamanya laki-laki, kelas 3 SD. Anak keduanya perempuan, masih TK B. Anak bontotnya laki-laki usia 8 bulan.
“Dian, kenapa ke sini? Kan ibu kemarin sudah telepon nggak usah ke sini. Lagi musim corona... Kamu punya bayi...”
“Ya, kan mau nengokin Ibu. Masa nggak boleh?”
“Nengokin itu bawa apa? Bawa hadiah? Bawa makanan? Bawa apa?”
Mas Irfan senyum-senyum sendiri.
“Ya, nggak bawa. Katanya nggak ada perayaan.”
“Kamu sama aja kayak Dita...”
Bel berbunyi. Aku buru-buru membuka pintu.
“Ini benar rumah Ibu Siti?” Seorang pria mengenakan jaket hitam dan helm merah berdiri di depanku. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker.
“Iya, benar,” jawabku.
“Ini pesanan atas nama Ibu Siti.”
Pria itu menyerahkan sebuah box padaku.
“Apa ini?”
“Kue ulang tahun.”
Ada kiriman kue ulang tahun! Aku membawa box itu ke dalam, sambil bertanya-tanya siapa yang mengirim.
“Ibu pesan kue ulang tahun sendiri?” tanyaku.
“Nggak.”
Aku menaruh box itu di meja. Semua berdiri melingkari box itu, penasaran. Ibu segera membukanya. Ternyata isinya puding buah dengan hiasan bunga-bunga dan tulisan “Selamat Ulang Tahun Nenek”.
“Kiriman dari siapa, Prita?”
“Nggak tahu, Bu. Cuma bilang pesanan atas nama Ibu Siti.”
“Tapi ibu nggak pesan,” kata Ibu bingung.
“Dina yang pesan,” kata Mbak Dina akhirnya.
“Kok nggak bilang-bilang sih, Dina?” sahut Ibu.
“Ya ngapain bilang-bilang, Ibu marah-marah mulu sama Dina.”
“Namanya juga kejutan,” timpal Mbak Dita.
“Bu, Mbak Dina itu perhatian sama Ibu,” sahut Dian. “Mbak Dina yang nyuruh semua datang, karena mau ngadain perayaan ulang tahun Ibu.”
“Makanya Dita sama Dian nggak bawa apa-apa karena Dina bilang nggak usah bawa apa-apa... Tinggal makan aja, semua udah disiapin,” sahut Mbak Dita.
“Nanti makanannya datang jam 11,” kata Mbak Dina.
Aku mendengar dari dapur sambil memotong semangka.