Aku tidak tahu apakah aku harus senang dengan ini.
Dokter bilang aku tidak perlu stres memikirkan kapan aku akan hamil. Dan sejak ada anak pancingan itu di sini, aku bahkan tidak tahu kapan aku akan datang bulan. Semua keruwetan ini membuatku melupakan segalanya dan aku mengabaikan semua tanda-tanda yang muncul di tubuhku. Tiba-tiba saja hari ini aku menstruasi dan perutku baik-baik saja.
Aku tidak lagi stres memikirkan kehamilan, tapi aku stres memikirkan keluarga aneh ini!
“Bang,” panggil Mbak Dina. “Ayo makan, Bang.”
Zayyan sedang fokus main HP di kamarku.
Mbak Dina memanggilnya lagi. “Makan, Bang.”
“Bang, itu dipanggil Mama, “ kataku.
Dia kaget dan langsung berteriak, “Nanti, Ma... Abang masih kenyang!”
Dia lanjut bermain game.
Sekitar setengah jam kemudian, dia keluar kamar.
“Ma, makan.”
“Tadi Abang ditawarin makan nggak mau,” kata Mbak Dina. “Ya, udah nggak ada makanannya. Makanya kalau disuruh makan tuh langsung makan.”
Si kakak kembali ke kamarku.
“Abang nggak jadi makan?” tanyaku.
Dia menggeleng.
Saat Mbak Dina masuk ke dalam kamar, aku diam-diam memberinya roti dan berjanji akan merahasiakannya dari Mbak Dina.
Keesokan paginya.
Jam 06.15. Lima bungkus nasi sudah ada di atas meja makan.
Ibu membeli nasi campur di warung nasi dekat rumah. Sekitar tujuh rumah dari rumah Ibu. Mas Irfan sudah meminta Ibu untuk tidak sering keluar dulu saat pandemi. Tapi rasanya itu sulit dilakukan di sini. Semua orang di desa ini beraktifitas seperti biasa tanpa menggunakan masker. Ibu juga terbiasa jalan kaki setiap pagi, jadi Ibu tidak betah jika harus duduk diam di rumah.
“Ayo makan Irfan, Prita,” kata Ibu. “Panggil Dina sama Zaki biar makan sekalian. Kalau sudah dingin nggak enak.”
“Ayo makan, Mas,” ajakku pada Mas Zaki yang baru keluar kamar.
“Iya,” katanya. “Beli di mana pagi-pagi sekali?”
“Di Mbak Titin, dekat belokan itu,” kata Ibu. “Sudah buka dari subuh.”
“Ini.” Aku langsung memberikan sebungkus nasi padanya. Kasihan Ibu kalau nasinya tidak dimakan.
Mbak Dina keluar kamar, melihat Mas Zaki yang sedang makan nasi.
“Itu, Din, tinggal nasi kamu,” kata Ibu.
“Bang, itu makan nasi, Bang.” Mbak Dina memanggil Zayyan.
“Buat kamu, Dina, pedas itu,” sahut Ibu. “Ibu nggak beli nasi buat anak-anak. Nanti nggak dimakan seperti waktu itu.”
“Dedek nggak makan,” teriak Zaydan dari dalam kamarku.
“Nenek nggak nawarin Dedek,” balas Ibu sambil tertawa.
Zayyan datang, “Apa, Ma?”
“Itu, makan nasi.” Mbak Dina menunjuk nasi bungkus di atas meja.
“Itu ada sambalnya, pedas.” Ibu mengingatkan.
“Zayyan doyan pedas,” kata Mbak Dina sambil main HP di depan TV.
“Diambil aja sambalnya,” kataku khawatir. “Taruh di nasinya Om Ipan itu sambalnya, Bang.
Zayyan menggeleng.
Dia membuka bungkusan nasinya.
“Mas, itu ambil sambalnya,” kataku pada Mas Irfan.
“Apa tukar sama punya Nenek?” kata Ibu. “Punya Nenek nggak ada sambalnya, tapi sudah mau habis.”
“Dipinggirin aja sambalnya. Yang pedas nggak usah dimakan,” kataku panik sendiri.
Tiba-tiba Mbak Dina menghampiri Zayyan, merebut sendoknya. “Diaduk gini, Bang. Biar nggak terlalu pedas. Kan Abang suka pedas, ya.”
“Iya,” kata Zayyan.
“Udah, makan,” kata Mbak Dina.
Sekarang sambalnya sudah menyatu dengan nasinya. Tidak bisa diambil lagi.
Zayyan mulai makan tapi dia langsung mengambil minum.
Makan satu ujung sendok, minum lagi.
Aku saling pandang dengan Mas Irfan.
“Kalau pedas nggak usah dimakan,” kataku pelan-pelan.
Dia menggeleng.
Mas Zaki sudah selesai makan. Dia sama sekali tidak khawatir dengan Zayyan. Apa mungkin dia tidak tahu kalau sebenarnya Zayyan tidak suka pedas? Keluarga ini benar-benar aneh!
Aku masih memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Zayyan dari nasi pedas itu tanpa membuat dia merasa takut dan malu.
Begitu Mbak Dina masuk ke kamar mandi, aku langsung bilang pada Zayyan, “Abang kenyang, ya?” Aku tahu dia akan malu kalau dibilang kepedasan karena Mbak Dina selalu bilang dia doyan pedas. Jadi aku katakan padanya, “Nggak apa-apa nggak habis kalau kenyang.”
“Iya,” katanya, meletakkan sendoknya.
Aku langsung memasukkan nasinya ke dalam kantong plastik sampah dan membuangnya.
Misi penyelamatan selesai. Aku menghela nafas panjang. Lega.
Siang hari, Mas Irfan membeli ikan bandeng presto.
“Abang, Dedek, sini,” panggil Mas Irfan. “Om Ipan punya ikan enak nih.”
Zayyan dan Zaydan langsung datang. Mas Irfan mendekatkan ikannya ke hidung mereka agar mereka bisa mencium baunya.