Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #9

Drama Zaydan

Aku bersiap untuk pulang ke rumah setelah sholat Subuh. Sengaja berangkat pagi-pagi mumpung Zaydan belum bangun. Kalau dia sudah menumpahkan mainannya ke lantai, aku akan menjadi sandera-nya seharian.

Mas Irfan sedang memanasi mobil. Saat aku membuka pintu kamar, sudah ada Zaydan berdiri di sana.

“Eh, Dedek udah bangun?” Aku tertangkap basah.

“Mau ke mana?”

“Tetita mau ke rumah Om Irfan sebentar, ya,” ujarku ragu-ragu.

Wajahnya berubah murung.

“Mama...” teriaknya, berlari masuk ke dalam kamar. “Mau cokelat!”

Cokelat. Begitulah dia menyebut “susu”. Jadi, mau cokelat artinya dia minta susu di botol.

“Ayo, berangkat,” kata Mas Irfan. “Keburu siang.”

Saat aku membuka pagar, kulihat Zaydan mengintip dari jendela. Aku melambai padanya tapi dia langsung menutup tirai. Sepertinya dia ngambek karena aku meninggalkannya padahal dia sengaja bangun pagi karena ingin main.

 

Hari ini aku harus menyelesaikan beberapa pesanan masker kain. Masker medis sudah sulit didapatkan sekarang. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Awalnya aku membuat masker kain untuk diri sendiri dan keluarga. Tapi saat iseng kuunggah di akun media sosialku, tiba-tiba banyak teman ingin dibuatkan. Pesanan membludak sehingga aku harus menjahit seharian.

Untungnya Mas Irfan sudah terbiasa membantu memotong kain. Pekerjaan jadi lebih ringan.

Kami baru kembali ke rumah Ibu selepas sholat Maghrib. Saat aku membuka pagar, Zayyan membuka pintu menyambut kami. “Om Irfan sama Tante Prita udah pulang, Dek!” teriaknya.

Zaydan keluar, berdiri di teras sambil membawa HP tapi tidak mau melihat ke arahku. Saat aku memanggilnya, dia langsung memalingkan muka. Rupanya dia masih marah padaku.

Biasanya dia akan mengikutiku ke dalam kamar. Tapi kali ini tidak. Dia bermain HP sendiri di kamarnya. Hanya si kakak yang langsung masuk dan berbaring di kasurku.

“Dek, sini, Dek,” panggil si kakak. “Ayo mabar lagi.”

“Nggak mau!”

“Dedek kenapa, Bang?”

“Nggak tau.”

Zaydan mondar mandir di depan kamarku dan langsung melengos saat kupanggil.

“Nggak apa-apa kalau nggak mau main di sini,” kata Mas Irfan sengaja mengeraskan suara. “Om Ipan main sama Abang aja.”

“Dedek juga!” sahutnya kesal. Tiba-tiba dia sudah ada di dalam kamarku.

“Sini, Dek,” kataku. “Mau main apa?”

“Kenapa lama?” protesnya, masih dengan nada kesal.

“Kan pulangnya nunggu kerjaan Tetita selesai.” Aku menjelaskan.

Dia punya mainan baru, balok puzzle.

“Dek baru beli?”

“Mama yang beli.”

“Gimana ini mainnya? Ajarin, Dek.”

“Ini mudah,” katanya sambil menyusun balok ke atas. “Gini aja.”

“Oh gitu...”

Saat aku akan mengambil satu balok, tiba-tiba susunan balok dia ambruk sehingga dia kesal. “Aduuuhh!”

“Nggak apa-apa, Dek,” kataku menenangkan. “Tinggal disusun lagi.” Aku membantunya menyusun kembali balok yang roboh.

“Dedek, lihat ini! Abang berhasil!” Si kakak ingin menunjukkan layar HP-nya tapi malah tidak sengaja menyenggol balok Dedek, sehingga rubuh lagi.

“Aduuuhh... Abang... kenapa jatuhin mainan Dedek?”

“Maaf, Dek, nggak sengaja,” katanya. “Biar Abang bangun lagi.” Dia menumpuk baloknya dengan tidak sempurna sehingga begitu balok paling atas ditaruh, bangunan rubuh lagi. Zaydan marah.

Dia berusaha menumpuk balok lagi, rubuh lagi. Dia jadi uring-uringan. Meskipun baloknya rubuh karena kesalahannya sendiri pun tetap aku juga yang dimarahi.

 

Keesokan harinya, aku kembali meninggalkan Zaydan saat dia masih tertidur. Ibu bilang dia biasanya masuk ke kamarku dan main di sana sendirian saat kami sedang tidak ada. Saat kami pulang, dia langsung menunjukkan mainan mobil barunya padaku. Dia masih selalu marah-marah padaku tanpa sebab.

Selama beberapa hari kami harus bolak-balik ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan. Selama itu aku melihat perangai Zaydan berubah menjadi murung dan pemarah. Dulu, semua hal tampak lucu baginya. Kesalahan atau kegagalan saat bermain selalu membuatnya tertawa. Tapi sekarang dia menjadi mudah marah.

Sampai satu hari, aku baru saja kembali ke rumah Ibu menjelang malam. Dia menumpahkan kardus mainannya dengan kesal lalu mengajakku bermain sambil uring-uringan, hingga akhirnya aku menegurnya.

“Dedek kenapa marah-marah terus sama Tetita?”

Dia diam saja, wajahnya masih cemcerut.

“Tetita salah apa sama Dedek?” Aku memandangi wajahnya tapi dia tidak berani melihatku.

“Kalau Dedek ingin apa-apa, ngomong, Dedek maunya apa... jangan marah-marah.”

Lihat selengkapnya