Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #10

Kebenaran Kecil

“Om Ipan mau ke mana?” tanya Zaydan padaku saat melihat Mas Irfan sedang memanasi mobil.

“Mau ke rumah Om Ipan,” jawabku sambil mengemasi barang-barang yang mau dibawa.

“Mau ikut nggak?” tawarnya. “Mau nggak?”

“Kenapa, sih?” Aku merasa pertanyannya aneh, tapi aku mengerti maksudnya. “Dedek mau ikut?”

“Mau!” jawabnya cepat.

Sudah bisa ditebak.

“Bilang sendiri ke Om Ipan kalau mau ikut.”

“Tetita aja,” katanya.

“Kan Dedek yang mau ikut,” kataku.

Aku keluar membawa barang-barang, dia mengikutiku di belakang.

“Itu Om Ipan, Dedek mau bilang apa?”

“Tetita yang bilang.”

“Ya, udah, kalau nggak mau ikut, nggak apa-apa.”

“Mau ikut,” katanya sambil melihat wajahku.

“Kalau gitu bilang,” sahutku. “Bilang apa?”

“Nggak tau,” katanya.

“Kok nggak tau? Dedek mau ikut nggak?”

“Iya.” Wajahnya terlihat tegang, seperti takut dimarahi.

Di keluarganya, dia tidak terbiasa bicara. Dia lebih banyak diam dan dituntut untuk selalu menuruti apa kata orang tuanya, terutama mamanya. Itu sebabnya dia tidak tahu dan tidak bisa melakukan banyak hal.

“Ya udah, bilang,” kataku menenangkan. “Om Ipan nggak apa-apa, Dek. Nggak akan marah.”

Dia mematung melihat Mas Irfan.

“Om Ipan, ini Dedek mau ngomong,” kataku.

“Apa, Dek?” tanya Mas Irfan sambil mengelap mobil.

Zaydan menoleh padaku.

“Bilang,” kataku.

Zaydan melihat Mas Irfan ragu-ragu.

“Bilang,” ulangku.

“Mau ikut,” katanya pelan.

“Apa?” teriak Mas Irfan.

“Mau ikut.”

“Nggak dengar.”

“Yang keras Dek,” kataku.

“Mau ikut!” teriaknya.

Mas Irfan tertawa. “Mau ikut ke mana?”

“Ke mana?” tanyanya padaku.

“Ke rumah Om Ipan,” kataku.

“Ke rumah Om Ipan,” kata Zaydan.

“Dedek udah mandi belum?” tanya Mas Irfan.

“Belum.”

“Mandi dulu kalau mau ikut.”

“Mandi, Dek,” kataku. “Bilang Mama.”

Dia berlari ke dalam.

“Ma, mandi.”

“Dedek mau kemana, sih, mandi tuh?” tanya Mbak Dina.

“Mau ikut ke rumah Om Ipan.”

Mbak Dina sangat senang jika anak-anak ikut denganku. Itu seperti hari kebebasan baginya.

“Abang nanti ikutnya kalau libur, ya?” katanya pada Zayyan. “Abang masih sekolah hari ini.”

Zayyan diam saja. Dia berbeda dengan Zaydan. Dia tidak masalah meskipun ditinggal di rumah sendirian, asal ada HP.

Mbak Dina membawakan tas berisi biskuit, minuman kemasan, susu cokelat, dan pampers. Ya, dia adalah bayi besar karena masih minum susu botol dan pakai pampers di usianya yang sudah genap 3 tahun.

 

Di mobil. Aku duduk di samping Mas Irfan, Zaydan duduk di pangkuanku.

Selama perjalanan, kami biasanya mengobrol sambil mendengarkan musik. Dia punya lagu kesukaan yang harus diputar berulang-ulang sepanjang perjalanan. Dia sudah sering ikut bersama kami sejak usia 1 tahun, dan lagu itu adalah lagu yang pertama kali dia dengar saat dia naik mobil kami. Aku berharap itu akan menjadi lagu kenangan masa kecilnya. Jadi saat dia dewasa, dia akan mengingat kebersamaan kami setiap kali mendengarkan lagu itu.

“Dedek suka jalan-jalan naik mobil?” tanyaku.

“Suka.”

“Kalau ke rumah Om Ipan? Suka, nggak?”

“Suka.”

“Kalau ke rumah Nenek? Suka juga?”

“Iya.”

“Nanti kalau Dedek pulang ke Jakarta, terus liburan lagi, mau berlibur ke rumah Nenek lagi, nggak?”

“Kan masih lama,” katanya.

“Apanya yang masih lama?”

“Mama bilang Dedek pulangnya masih lama,” jelasnya.

“Ya, kan, Tetita bilang... nanti.”

Mas Irfan tertawa.

“Kalau Dedek pulang ke Jakarta, terus sekolah Abang libur, Dedek mau berlibur ke rumah Nenek lagi nggak?”

“Kan udah.”

“Udah apa?”

“Udah di rumah Nenek.”

Mas Irfan tertawa lagi.

“Mmm... Nenek itu baik nggak sama Dedek?”

“Iya.”

“Baiknya gimana?”

“Beliin Dedek mainan,” jawabnya.

Waktu kumpul keluarga minggu lalu. Aku mendengar Mbak Dina bicara pada Dian dan Mbak Dita. Katanya, “Kasihan anak-anak dimarahi terus sama Neneknya.” Dia bicara seolah-olah Ibu galak ke anak-anaknya karena sifat Ibu jahat. Padahal sebenarnya Ibu marahnya ke Mbak Dina. Itu pun karena kesalahan Mbak Dina sendiri yang suka bangun siang, suka menumpuk piring kotor, buang sampah sembarangan, dan bermalas-malasan sepanjang hari.

Dan kalau Ibu menegur, bukannya sadar, dia justru mengancam, “Ya, udah. Nanti Dina nggak usah pulang kampung lagi biar rumah Ibu bersih terus.”

“Main aja ke rumah, Din,” kata Mbak Dita. “Barangkali anak-anak stres dimarahi Ibu terus di sini. Nginep di rumah aja berapa hari gitu. Biar nggak bosen.”

Akhirnya Mbak Dina mendapat simpati dan dukungan dari Mbak Dita dan Dian. Jadi, di mata mereka sekarang, Ibu yang bersalah.

Jadi aku ingin tahu bagaimana Nenek di mata anak-anak Mbak Dina.

“Terus apa lagi, Dek? Dibeliin makanan nggak?”

“Iya.”

“Makanan apa?”

“Mm...” dia berpikir. Kurasa dia tidak tahu namanya.

“Yang bulat, tengahnya ada lubangnya, di atasnya ada meses warna-warni, ya?

“Iya.”

“Apa namanya?” tanyaku.

“Nggak tau.”

“Namanya donat,” kataku.

“Iya.”

“Apa namanya?” Aku mengetes.

Lihat selengkapnya