Hari-hari berikutnya, Zaydan selalu ingin ikut saat kami pulang ke rumah. Ibu mendukung, karena tahu Zaydan mau makan di sana. Tapi aku mulai khawatir dengan omongan Ibu pada Mbak Dina yang semakin pedas. Ibu memang terbiasa ngomong apa adanya tanpa sensor dan tidak bisa menyimpan pemikiran di dalam kepala. Semua harus dikeluarkan. Jika tidak, Ibu akan stres.
Seperti pagi ini. Zaydan minta mandi pagi-pagi karena ingin ikut ke rumah Mas irfan. Saat Mbak Dina membuka baju Zaydan, Ibu langsung bilang, “Zaydan kurus banget sih, Din. Dadanya sampai kelihatan tulangnya.
Mbak Dina diam saja.
“Anak-anak dari kecil di kasihnya mie sama ayam tepung aja, jadi nggak doyan makanan lainnya,” tambah Ibu. “Zayyan masih SD kacamatanya udah tebel, tapi tiap hari masih main HP terus... ulang tahun malah dikasih hadiah HP baru. Gimana sih, Din, Ibu nggak ngerti sama kamu.”
“Dedek nanti minum susu, ya,” kata Mbak Dina.
Zaydan tidak menjawab, malah bilang, “Ma, nggak usah pakai sabun, ya. Diguyur aja.”
Mbak Dina memang tidak mau repot. Sejak jaman Zayyan masih kecil, setiap kali tidak mau mandi, Mbak Dina selalu bilang, “Sebentar aja, diguyur aja.” Jadi akhirnya setiap mandi mereka selalu nggak mau pakai sabun.
“Mama kan udah beli susu banyak buat Dedek. Diminum susunya, kayak waktu di Jakarta tuh,” sahut Mbak Dina.
“Susu terus ya, Dek,” sahut Ibu. “Dedek nginep aja di rumah Om Irfan. Kalau di sini nggak mau makan.”
“Ayo, masuk, Dek,” kata Mbak Dina.
Aku sudah menunggu di teras. Zaydan yang belum pakai baju langsung lari ke depan karena takut di tinggal.
“Ditungguin, Dek,” kataku menenangkan.
“Mama, ayo cepet!”
Zayyan baru bangun tidur.
“Abang nggak ikut ke rumah Om Irfan?” kata Mbak Dina sambil memakaikan baju Zaydan. “Kan hari ini Abang libur sekolahnya. Ini Dedek ikut.”
Zayyan menggeleng.
Dia tidak mau ikut karena Mas Irfan selalu bilang, “Kalau ikut ke rumah Om Ipan nggak boleh bawa HP.”
“Minum susu dulu,” kata Mbak Dina.
“Dedek nggak mau minum susu!”
“Kan biasanya di Jakarta minum susu.”
“Nggak mau!”
“Nanti kurus Dedeknya kalau nggak minum susu.”
“Nggak mau!”
“Kenapa, sih, Dedek tuh sulit banget dikasih tau...” Mbak Dina mulai emosi.
“Dibawa aja susunya, nanti diminum di sana,” kata Mas Irfan menengahi.
Mbak Dina memasukkan susunya ke dalam tas.
Zaydan langsung berlari masuk ke dalam mobil.
Sepanjang hari itu kami hanya bermain dan bermain. Aku memberi Zaydan kebebasan untuk melakukan apa pun yang dia inginkan. Mas Irfan tidak ada rapat online, jadi bisa menemani Zaydan bermain. Sementara aku membuat puding.
“Dedek mau telur,” katanya padaku.
“Tunggu, ya, nasinya belum matang,” kataku.
Dia mengangguk.
“Lihat.” Aku menunjuk Magic Com. “Itu kan ada uapnya, Yang kayak asap itu namanya uap.” Dia tahu asap karena sering melihat Mas Irfan merokok. “Nah, nanti kalau udah nggak ada uapnya, nasinya udah matang.”
“Iya,” katanya.
“Dek main dulu sama Om Irfan, ya. Tetita buatin Dedek puding mangga dulu. Puding mangga suka nggak?”
“Suka!”
Dia berlari ke ruang tengah, menonton Upin Ipin bersama Mas Irfan.
“Itu anak katak,” katanya. Upin Ipin di TV memang episodenya selalu diulang-ulang, jadi dia hafal. “Kalau dia makannya banyak nanti kakinya panjang.” Dia menjelaskan pada Mas Irfan sama seperti aku yang selalu memberikan penjelasan padanya saat sedang menonton Upin Ipin. Dia selalu meniru apa pun.
“Itu udah nggak ada uapnya, tuh.” Dia sudah ada di sampingku, mendongak padaku sambil menunjuk Magic Com.
Oh, iya.” Aku tertawa. Dia tahu nasinya sudah matang.
“Bilang Om Ipan, goreng telur, Dek. Tetita belum selesai bikin pudingnya.