Hari kebebasan!
Aku melihat dari balik jendela, Mbak Dina baru saja pergi.
Pintu pagar sudah ditutup dan suara motornya semakin menjauh.
Semalam Mas Zaki sudah kembali ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan. Lalu Mbak Dina bilang pada anak-anak, “Besok pagi Mama mau pergi, mungkin sampai malam. Abang sama Dedek nggak usah ikut, ya? Nanti capek.”
Aku tersenyum sendiri. Ada banyak ide seru untuk hari ini.
Saat aku membalikkan badan, Zayyan, Zaydan, dan Mas Irfan sudah berdiri di belakangku.
“Aduh! Kaget... kaget... kaget...!”
Mereka tertawa.
Rumah terasa lebih luas. Udara di dalamnya pun terasa lebih segar.
Aku tersenyum lebar, menatap Mas Irfan dengan mata berbinar-binar. Dia membalas dengan senyum yang sama. Dia tahu apa yang ada di pikiranku.
Dapur mulai berasap lebih awal dari biasanya. Mas Irfan berdiri di depan kompor, mengaduk nasi goreng dengan api sedang. Aroma kecap dan bawang memenuhi ruangan. Aku mengiris timun di talenan, sambil menggoreng kerupuk bawang kesukaan Zaydan hingga mengembang. Dia hanya mau kerupuk itu, tidak mau kerupuk yang lain.
Si kakak duduk di kursi meja makan sambil bermain HP. Si adek berjalan mondar-mandir sambil bilang, “Dedek mau telur, ya!”
Ibu sudah sibuk beres-beres rumah sejak subuh. Di teras depan, sapu ijuk di tangannya bergerak teratur, menyapu debu dan daun kering yang jatuh semalam. Ibu memang tidak bisa diam. Rumah harus bersih.
“Sarapan dulu, Bu,” panggilku.
“Iya, sebentar, katanya sambil masih menggerakkan sapu dua kali sebelum disandarkan di pojok.
Kami makan di teras agar nuansanya terasa seperti piknik. Tidak ada drama dan ketegangan pagi ini. Tawa kecil terdengar lepas tanpa perlu disembunyikan. Tidak ada yang memaksa anak-anak minum susu cokelat. Tidak ada yang melarang anak-anak makan masakan kami. Hanya ada sendok yang beradu dengan piring dan obrolan ringan. Si gajah dan jerapah juga ikut duduk bersama kami. Zayyan dan Zaydan belajar makan sendiri.
“Tumpah,” kata Zaydan sambil memandangku tegang saat beberapa butir nasi jatuh di lantai. Biasanya Mbak Dina selalu bilang, “Jangan tumpah, ya!” Itu sebabnya Mbak Dina lebih suka menyuapi anak-anak, tidak membiarkan mereka makan sendiri karena dia malas membersihkan makanan yang berceceran di lantai.
“Punya Abang juga tumpah.”
Ibu hanya tersenyum. Jadi selama ini, sebenarnya Ibu tidak marah-marah pada anak-anak. Ibu hanya kesal pada Mbak Dina yang selalu bermalas-malasan dan tidak pernah mengajari anak anak untuk disiplin soal kebersihan rumah.
“Nggak apa-apa,” kataku. “Nanti habis makan dibersihin bareng-bareng.”
Wajah Zayyan dan Zaydan terlihat lega.
Dari kejauhan, pohon mangga di halaman tampak ranum dan buahnya sudah besar-besar.
“Wah, itu sudah tua-tua mangganya, keburu dimakan codot,” kata Ibu.
Memang rencananya Mas Irfan akan memetik buah mangga bersama anak-anak. Jadi setelah sarapan cuci mulutnya buah mangga.
Aku menyiapkan beberapa kardus bekas air mineral untuk wadah buah. Mas Irfan sudah siap dengan galahnya. Anak-anak siaga di bawah pohon, mendongak ke atas.
“Itu ada mangga!” teriak Zaydan menunjuk buah mangga yang menggantung di atas kepalanya.
Mas Irfan dengan sigap mengarahkan ujung galahnya agar bisa menjangkau buah di ketinggian. Anak-anak bagian mengambil buah di keranjang ujung galah lalu memindahkannya ke kardus.
“Sekarang Dedek!” Mereka berebutan mengambil buah.
Aku mengambil satu mangga untuk aku kupas. Pikirku, biar mereka bisa memetik sambil makan buah. Anggap saja ini wisata petik buah.
“Manis, Dek?” tanyaku sambil menyuapi Zaydan.
“Iya!,” katanya lalu berlari ke bawah pohon lagi.
“Abang mau, nggak?”
“Iya,” katanya. Dia menghampiri piring berisi potongan buah mangga
“Itu garpunya,” ujarku.
“Manis,” kata Ibu.
Anak-anak bolak-balik mengangkuti mangga ke dalam kardus.
Sudah dapat dua kardus penuh.
“Udah dulu, Dek, kalau capek,” kata Ibu. “Istirahat.”
“Nggak capek.” kata Zaydan.
Dia sudah banyak berubah, sudah tidak pernah bilang capek lagi.
“Sudah banyak, ya,” kata Mas Irfan sambil menyandarkan galahnya. “Sudah pegal tangan Om Ipan. Istirahat dulu.”
Anak-anak terlihat bahagia berebut makan mangga. Zayyan lupa sejenak dengan HP-nya.
“Abaaang, kan Dedek belum...” teriak Zaydan kesal. “Jadi habis, kan?”
Abang makan potongan terakhir.
“Nggak apa-apa, Dek, kan itu masih banyak,” kataku sambil menunjuk buah mangga yang menggunung di kardus. “Bisa kupas lagi.
“Ada yang asem.” Mata Ibu menyipit saking asemnya.
“Yang asem buat om Ipan aja,” kataku bercanda.
“Dedek yang manis, ya!”
“Abang juga yang manis.”
Tidak lama kemudian halaman berubah menjadi lapangan. Bola plastik menggelinding ke sana kemari. Mas Irfan menjadi penjaga gawang. Keringgat bercucuran, tanah menempel di lutut karena anak-anak beberapa kali jatuh. Tapi tidak ada yang mengeluh sakit atau capek.
Seteko es Nutrisari buatanku membubarkan permainan karena semua mendadak kehausan.