Pagi itu juga aku langsung cerita ke Mas Irfan tentang Zayyan dan game Roblox-nya.
Aku khawatir. Zayyan sering chat dengan orang asing di lingkaran pertemanan game itu. Pergaulannya tidak wajar untuk anak seusianya.
Mas Irfan langsung mengingatkan Mbak Dina agar mengawasi dan mendampingi Zayyan. Tapi dengan santainya Mbak Dina menjawab, “Zayyan nggak pernah minta dibelikan Robux. Jadi aman.”
Pembicaraannya berputar di tempat lain. Seolah dia tidak mendengar inti masalahnya.
Aku tidak melihat ada kekhawatiran seorang Ibu di matanya.
Tidak ada kepedulian sama sekali. Hanya tidak ingin repot.
Mengecewakan.
Mbak Dina semakin aneh dari hari ke hari.
Aku merasa dia tidak senang saat aku terlihat baik-baik saja di rumah ini. Aku berharap itu tidak benar. Tapi dia seperti tidak menyukaiku karena anak-anak bersikap baik padaku atau terlihat baik saat bersamaku.
Mungkin sebaiknya aku tidak terlalu dekat dengan anak pancinganku agar dia tidak merasa tersaingi. Tapi bagaimana aku bisa menghindarinya, jika dia selalu ingin bersamaku seperti ini.
“Ayo sholat,” kata Zaydan spontan begitu mendengar suara adzan. Dia sedang bermain balok susun di kamarku. “Masukin kardus dulu.”
Aku tersenyum. Dia mulai terbiasa sholat tepat waktu selama di sini. Dia juga selalu memasukkan mainannya ke dalam kardus tanpa diingatkan lagi.
Kami ke kamar mandi untuk wudhu, melewati Mbak Dina yang sedang duduk di ruang tengah.
“Tunggu di dalam ya,” kataku padanya setelah wudhu. Di rumah Ibu, kamar mandi terletak di bagian belakang rumah, terpisah dari ruang tengah dan kamar-kamar. “Tetita mau wudhu dulu.”
Saat aku masuk ke dalam, aku melihat Zaydan sedang disuapi biskuit oleh mbak Dina.
“Dedek nggak ikut sholat, ya? Dedek lagi makan,” katanya padaku. Mbak Dina diam saja, menyuapi sambil memegang HP.
“Iya,” kataku tersenyum. “Makan yang banyak, ya.”
Aku tidak habis pikir. Mbak Dina memiliki banyak waktu dalam sehari untuk menyuapi Zaydan, tapi kenapa dia harus mengambil waktu sholatnya? Apalagi dia tahu Zaydan sudah wudhu. Lagipula Zaydan bisa makan biskuit setelah sholat, kan?
Dan bocah satu itu tidak henti-hentinya menyeretku ke dalam masalah.
Saat makan siang, dia ikut duduk di sampingku seperti biasanya. Si kakak duduk terpisah bersama Mbak Dina.
“Dedek, sini Mama suapin sama Abang,” kata Mbak Dina.
“Dek nggak mau makan itu, Dek mau roti aja.”
“Ya, udah. Bawa ke sini rotinya.”
Zaydan mengambil roti di dalam kamar, lalu keluar dan kembali duduk di sampingku.
“Ini,” katanya, justru memintaku menyuapinya.
Sore hari, Zaydan bermain petak umpet dengan Zayyan. Aku sedang membaca buku di kamar saat tiba-tiba Zaydan bilang, “Sekarang kamu yang jadi.”
“Jadi apa, Dek? Kan Dedek mainnya sama Abang, Tetita nggak ikut.”
“Kan sekarang ikut,” katanya tak bisa dibantah. “Tutup mata sambil hitung ya.”
Aku masih di atas kasur.
“Tutup mata!” teriaknya.
“Iya... iya, Dek.”
Aku langsung menutup mata, tapi dia bilang harus menutup mata sambil berdiri di dinding luar kamar. Alamak.
Dia menarik-narik tanganku.
“Satu... dua.... tiga...”
Aku mendengar langkah kakinya berlari ke sana kemari.
“... sepuluh... sebelas... “
“Hei, kan udah sepuluh,” kata Zaydan mengingatkan.
“Cuma sampai sepuluh hitungnya?” tanyaku linglung.
“Iya.”
“Kenapa Dedek masih di sini? Bukannya ngumpet.”
“Kan Dedek mau ngasih tau Tetita.”
Aku merasa konyol.
“Dedek ngumpet dulu, ya...”
Dia bersembunyi di balik pintu. Tempat persembunyian abadi, tidak pernah berubah sejak pertama kali dia bermain petak umpet.
“Dedek mana yaaa...” teriakku pura-pura tidak tahu.
Zayyan berlari keluar, “Yey Abang menang!”
“Dedek juga!” Dia buru-buru keluar dari balik pintu hingga menabrakku.
“Maaf, ya!” katanya cepat.
“Maaf? Emang Dedek habis ngapain sih?” Aku mengetes.
“Kan Dedek lari kena Tetita.”