Rumah sudah seperti medan pertempuran.
Aku bingung harus bagaimana lagi. Niat baikku disalahartikan, perbuatan baikku dicurigai, dan bantuanku dianggap ancaman. Serangan datang bertubi-tubi, gara-gara puding mangga.
Zaydan bilang ke Mbak Dina mau puding mangga. Lalu Mas Irfan dengan santainya mengatakan, “Biasanya di rumah suka bikin puding itu. Dia doyan banget.”
Keesokan harinya Mbak Dina membuat puding marie yang sedang viral itu, lalu memaksa semua orang untuk makan. Mbak Dita, Dian, dan anak-anaknya tiba-tiba berkunjung ke rumah Ibu hanya untuk mencicipi puding buatan Mbak Dina. Mereka bilang enak, meskipun menurutku campuran Marie, kental manis, dan telurnya membuatku eneg.
Dan saat Mbak Dina menyuapi Zaydan, dia menolak. “Nggak mau puding yang ini. Dedek maunya puding mangga.”
Ya, ampun!
Sore hari, semua kembali ke rumah masing-masing, kecuali Fajar, anak pertama Dian. Dia tidak mau pulang karena masih ingin bermain bersama Zayyan dan Zaydan, mumpung libur sekolah.
Setiap pagi Ibu selalu membeli nasi di Mbak Titin untuk Fajar. Dia berbeda dengan anak-anak Mbak Dina. Dia makannya banyak dan mudah lapar. Mbak Dina tidak pernah menyediakan sarapan untuk Fajar, karena dia selalu bangun siang. Dia hanya memberinya makan siang dan malam itu pun alakadarnya. Kalau tidak mie instan, ayam tepung sisa kemarin, kadang telur dadar. Mbak Dina juga tidak pernah menyuruh anak-anaknya berbagi jajanan dengan Fajar. Dia menyimpannya di dalam kamar, dan hanya memberikannya pada anak-anaknya.
Dian tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Aku melihat foto unggahan dia di akun Facebooknya. Itu foto saat Fajar sedang tidur malam bersama Zayyan dan Zaydan di rumah Ibu, dengan caption, “Kakak jadi anak Wawak Dina dulu ya... Makasih Wawak... udah ngurusin Fajar yang makannya banyak... he... he... he...”
Sudah pasti Mbak Dina yang mngirimi Dian foto itu.
Malam hari. Fajar belum makan dan terlihat kelaparan. Mbak Dina mendekam di dalam kamar. Kebetulan aku tidak memasak karena sedang sibuk hari ini.
Saat aku dan Mas Irfan akan membeli makanan, Mas Irfan bertanya, “Fajar sudah makan belum?”
“Belum,” jawabnya.
Lalu Mbak Dina keluar kamar, “Fajar mau makan apa?”
“Apa aja,” katanya.
“Wawak adanya mie sama telur.”
“Mau nitip, nggak?” tanya Mas Irfan ke Mbak Dina.
“Mau beli apa sih?”
“Mungkin soto ayam yang dekat sini. Ini udah gerimis.”
Mbak Dina tidak menjawab.
“Fajar doyan soto ayam, kan?” tanya Mas Irfan.
“Doyan.”
“Fajar sih doyan apa aja,” sahut Ibu.
“Ya, udah. Tunggu, ya,” kata Mas Irfan.
Mbak Dina tampaknya setuju.
Kami menerobos gerimis, berharap tidak hujan deras sebelum sampai kembali ke rumah.
Saat kami datang membawa makanan, ternyata Fajar sedang makan dengan telur dadar.
Mas Irfan marah. “Tadi ditawarin soto ayam bilangnya mau. Kenapa malah makan duluan? Kalau mau makan sama telur harusnya tadi bilang nggak usah waktu ditawarin.”
“Wawak Dina yang ngasih,” katanya bingung.
“Mbak Dina gimana, sih!” Mas Irfan kesal.
Mbak Dina lepas tangan. Dia tidak keluar dari kamar dan tidak memberikan respon apa pun.
“Nanti Fajar makan itu habis makan ini,” katanya ketakutan.
Mas Irfan memang orangnya tegas. Dia tidak suka dengan orang yang ucapannya tidak konsisten. Dia juga blak-blakan seperti Ibu saat sedang marah.
“Nanti dipanasi aja, Irfan,” sahut Ibu menengahi. “Buat sarapan besok.”
“Lain kali kalau...”
Aku menarik Mas Irfan ke dalam kamar.
“Bukan salah dia,” bisikku. “Mbak Dina yang salah.”
“Meskipun tadi Mbak Dina nggak bilang mau nitip beli makanan...” Aku melanjutkan. “Mbak Dina tahu kita mau beliin Fajar makanan, tapi dia malah gorengin telur. Kalau dia udah ada rencana goreng telur, harusnya dia bilang, ‘Fajar nggak usah dibeliin, nanti aku gorengin telur aja.’ Jadi...” Aku menghela nafas panjang.
“Udah nggak usah diperpanjang,” kataku akhirnya. “Dia nggak waras, Mas. Nggak waras.”
Ini sama persis seperti kejadian waktu Zaydan pulang dari rumah kami. Kami mampir membeli Bakso untuk di makan di rumah Ibu. Sebelumnya Zaydan pernah makan bakso bersama kami, dan dia suka.
Mas Irfan menelepon Mbak Dina, bertanya apakah Zayyan sudah makan. Kalau belum mau sekalian dibelikan bakso. Mbak Dina bilang belum.
Saat kami datang, ternyata Zayyan baru selesai makan mie instan.
“Abang mau nggak?” tanya Mbak Dina pada Zayyan, seolah sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan soal bakso itu. “Abang baru makan mie ya, Bang... Habis dua mangkuk.”
“Gimana, sih?” kata Mas Irfan kesal. “Tadi di telepon bilangnya belum makan. Kalau ada rencana mau makan mie harusnya tadi bilang nggak usah beli bakso.”
“Tadi habis ditelepon Zayyan bilang mau makan mie,” Mbak Dina tidak mau disalahkan.
Aku dan Mas Irfan hanya bisa terheran-heran waktu itu. Bakso yang kubelikan masih tergeletak di atas meja sampai keesokan harinya, dan akhirnya dibuang Ibu karena sudah basi. Sejak saat itu aku tidak pernah membelikan mereka makanan lagi.
Suatu siang. Mas Irfan sudah berjanji akan memberikan hadiah kepada Zaydan dan Fajar karena mereka mau dimintai tolong menginjak-injak punggung dan kaki Mas Irfan yang pegal. Mas Irfan ingin membeli makanan untuk mereka.
“Fajar mau apa? Roti bakar atau martabak?” tanya Mas Irfan.
“Hmmm...” Dia bingung karena dia suka keduanya.
“Martabak,” katanya akhirnya.