Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #15

Huru-Hara

Kami belum kembali ke rumah Ibu, sejak pulang ke rumah empat hari yang lalu.

Tiap hari Ibu telepon, menanyakan kapan kami kembali. “Kasihan anak-anak, nyariin terus,” kata Ibu.

Mas Irfan memandangku, seolah menyerahkan keputusan kepadaku. Aku memalingkan muka. Mas Irfan tahu apa artinya. “Nanti, Bu. Masih banyak kerjaan di sini,” katanya.

Ada suara anak-anak di belakang Ibu. “Dek, ini Om Ipan sama Tetita,” panggil Ibu. “Ngomong, Dek.”

Dia selalu malu-malu saat harus bicara dengan kami di telepon.

“Dedek lagi apa?” tanya Mas Irfan.

“Itu ditanyain,” kata Ibu.

“Lagi apa, Dek?” tanya Mas Irfan lagi.

“Main,” katanya.

“Main apa?”

“Mobil.”

“Sama siapa mainnya?”

“Sama Abang, tapi Abangnya main HP.”

“Nggak nonton Upin Ipin?”

“Nggak.”

“Kenapa? Biasanya suka nonton Upin Ipin?”

“Kan nunggu Tetita nggak datang-datang.”

Tiba-tiba aku merasa sedih.

“Biasanya Dedek nonton Upin Ipin sama Tetita?”

“Iya.”

“Nanti kalau kerjaannya udah selesai, Tetita langsung ke sana, ya?”

“Iya. Tapi yang cepet, ya?”

“Iya. Mana nenek, Dek?”

“Nggak ada.”

“Kemana?”

“Ada orang di depan.”

Maksudnya ada tamu. Dia menyebut siapa pun yang tak dikenalnya dengan panggilan “orang”.

“Ya, udah, teleponnya Om Ipan matiin dulu, ya? Dedek main sama Abang sama Mama dulu, ya?”

“Kan nggak ada.”

“Siapa yang nggak ada?”

“Mama.”

“Kemana?”

“Nggak tau.”

“Dedek sama Abang udah makan?”

“Makan donat aja,” sahut Ibu. “Ibu beliin donat sama bolu pisang, doyan.”

“Ada Mang Marno di depan. Ibu minta tolong nyapu halaman sekalian bersihin rumput.”

Mang Marno itu pekerja serabutan yang biasanya keliling dari rumah ke rumah menawarkan jasa dengan bayaran seikhlasnya. Kadang ada yang membayar dengan makanan atau minuman.

“Jadi kapan...” Ucapan Ibu terpotong.

“Sapunya di belakang ember, Mang,” Ibu berteriak. “Udah dulu, ya. Nanti Ibu telepon lagi.”

Tuuutt. Telepon ditutup.

 

Di rumah. Ibu mulai kewalahan mengurus rumah yang berantakan. Mulai dari cucian piring yang menumpuk, halaman depan dan belakang yang belum disapu... untung ada Mang Marno.

 Rumah selalu berantakan. Sampah bungkus makanan dan gelas air mineral tidak langsung dibuang di tempat sampah. Sisa makanan yang sudah basi masih berjajar di meja makan

“Kalau makanan nggak habis dipanasi aja, Din,” kata Ibu mengingatkan. “Biar bisa dimakan lagi. Besok nggak usah beli lagi.”

Mbak Dina tidak menanggapi, seperti biasanya.

Setelah makan malam, Mbak Dina kembali menaruh sisa sayur di meja.

“Langsung dipanasi aja, Dina.” kata Ibu. “Buat sarapan besok.”

“Iya, nanti,” katanya, lalu memasukkan semua sisa makanannya ke dalam kulkas.

Mbak Dina terus mengulanginya keesokan harinya, sehingga kulkas Ibu penuh dengan sisa makanan.

Ibu mulai stres.

Saat Mbak Dina tidak ada di rumah, Ibu langsung menelepon Mas Irfan, menumpahkan semua isi kepalanya.

“Ibu pusing, Irfan. Rumah udah kayak kapal pecah,” katanya begitu telepon diangkat. “Gimana Dina itu, beli makanan banyak banget, dimakan sendiri. Anak-anaknya nggak doyan. Tiap makan nyisa ditaruh meja. Besoknya udah basi, nggak dibuang. Ibu bilang kalau nggak habis itu dipanasi aja biar bisa dimakan lagi. Eh malah dimasukin kulkas. Sekarang kulkas penuh sisa makanannya Dina aja...”

“Gimana, ya, Bu,” Mas Irfan bingung harus bicara apa.

“... nggak dimakan, nggak dipanasi, nggak dibuang...”

“... rendaman baju dari semalam belum dicuci, sekarang Dina keluar nggak tahu ke mana...”

“Anak-anak nggak pernah makan nasi. Kalau anak nggak mau makan, udah aja makanan ditaruh meja... nanti beli lagi, nggak dimakan, numpuk lagi...”

“Biarin aja, Bu,” sahut Mas Irfan. “Biar dibuang sendiri sama Mbak Dina.”

“Ya, kalau nggak dibuang sama Ibu, ya... selamanya di meja. Nggak bakal dibuang...”

“...penuh semua, nggak bisa buat naruh yang lainnya... kulkas penuh, meja penuh...”

Mas Irfan hanya diam dan mendengarkan, membiarkan Ibu menumpahkan semua uneg-unegnya agar tidak stres.

“Meja ruang tamu juga penuh sama barang-barang dia semua...”

“... kasian anak-anak... Ibu beli martabak, kadang donat, bolu... buat isi perut...”

“Iya, Bu,” sahut Mas Irfan.

“Perut Zaydan itu sampai kempes, Ibu lihat... Dedek sini, Dek,” Ibu memanggil Zaydan. “Ini Om Ipan.”

“Dedek...” panggil Mas Irfan

Lihat selengkapnya