Kapal Pecah: Aku, Teman Kecilku, dan Ibu NPD-nya

Woman in Hat
Chapter #16

Pecah

Serba salah punya saudara NPD.

Kalau tidak diberi tahu, dia tidak akan mengerti sendiri.

Kalau diberi tahu, dia tersinggung.

Kalau diberikan contoh yang benar, dia tak terima.

Kalau kami diam saja, dia semakin semena-mena.

Tetapi kalau dilawan, dia akan semakin merusak.

Dia tidak pernah merasa bersalah meskipun semua orang mengatakan dia yang salah.

Dia juga akan melakukan berbagai cara untuk memutarbalikkan fakta, sehingga orang yang benar justru dimusuhi.

Ini benar-benar melelahkan.

Jika bukan karena kasihan kepada Ibu dan anak-anak, mungkin aku tidak akan kermbali ke sini.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk mengalah demi kebaikan anak-anak.

Aku menyanggupi mengerjakan semua urusan rumah tangga yang tidak dikerjakan Mbak Dina, seperti mencuci piring, menyapu, dan beres-beres rumah.

Awalnya semua berjalan lancar. Rumah kembali bersih dan tenang. Tetapi lama-lama Mbak Dina semakin kelewatan. Seenaknya sendiri.

Sampah berserakan di mana-mana. Habis dibersihkan, kotor lagi.

Piring kotor menumpuk tidak kira-kira. Habis makan bersama Mbak Dita dan Dian, piring kotornya hanya ditumpuk di wastafel, tidak langsung dicuci.

Aku yang selalu mencucikan piring mereka, sampai aku benar-benar kelelahan. Mas Irfan tidak tahu karena aku tidak pernah mengeluh.

 

Hari itu puncaknya. Setelah kesekian kalinya. Mereka mengulangi perbuatan yang sama, semakin tidak punya perasaan.

Mas Irfan tidak bisa menahan diri lagi. Sudah berminggu-minggu dia diam. Mereka justru semakin kurang ajar. Ternyata dia tahu kalau aku sudah kelelahan.

“Mbak Dina!” teriak Mas Irfan.

Mbak Dina, Mbak Dita, dan Dian yang sedang ngobrol di ruang tamu seketika terdiam.

“Apa?” Mbak Dina berdiri.

“Kalau pulang ke rumah jangan seperti tamu!” kata Mas Irfan tanpa basa-basi. “Di sini nggak ada pembantu! Cuci piringnya sendiri!”

“Kalian juga!” Mas Irfan melihat ke arah Mbak Dita dan Dian. “Habis makan bukannya langsung dicuci.”

 “Iya, habis ini juga dicuci,” sahut Mbak Dita tak terima. “Santai aja, sih.”

“Tau nggak, dari hari pertama Mbak Dina di sini yang nyuci piringnya Prita. Yang bersih-bersih rumah Prita.”

“Kan aku nggak pernah nyuruh orang lain nyuciin piringku.” Mbak Dita berusaha mengelak.

“Nggak pernah nyuruh orang lain nyuci piring tapi piring kotor numpuk berhari-hari. Orang mau makan nggak ada piring nggak ada sendok. Waras nggak orang kayak gitu?”

“Anak perempuan pulang ke rumah bukannya bantuin bersih-bersih rumah malah bikin kotor kerjaannya...”

“Lama di Jakarta, harusnya pulang itu waktunya ngurusin Ibu. Bukannya malah diurusi Ibu!”

“Udah, Mas. Udah,” kataku.

Mbak Dita langsung menyambar, “Ngapain Ibu begitu diurusin? Sukanya nyakitin hati. Tukang adu domba.”

“Mbak Dita! Berani-beraninya bilang begitu!” Mas Irfan berteriak. “Anak durhaka!”

Mbak Dita berdiri. “Kok gitu banget sih ngomongnya. Emosian. Pantes kamu nggak punya anak.”

Ruangan mendadak sunyi. Mas Irfan tidak menyangka Mbak Dita tega mengatakan itu. Apalagi saat itu aku sedang berdiri di belakang Mas Irfan.

“Kalian semua yang punya anak, coba tanya sama diri kalian sendiri,” kata Mas Irfan akhirnya. “Bahagia nggak punya anak?”

“Tanya ke Mbak Dina itu,” lanjut Mas Irfan. “Bahagia nggak?”

“Tanya juga ke anak-anak kalian. Bahagia nggak punya Ibu seperti kalian?”

Tidak ada yang menjawab.

Mas Irfan masuk ke dalam.

Ibu duduk tertunduk di sofa. Menitikkan air mata. Mas Irfan memegang bahunya. Menenangkan.

Aku buru-buru masuk ke dalam kamar. Duduk di pinggir tempat tidur. Masih tidak percaya dengan ini semua. Aku tidak mengerti. Mbak Dita dan Dian tiba-tiba memusuhiku dan Ibu. Apa yang sebenarnya dikatakan Mbak Dina pada mereka?

Mbak Dina yang dulu begitu baik padaku. Kakak perempuan yang selalu menjadi teman mencurahkan hati... yang selalu sabar dan lembut... kenapa jadi seperti ini?

Dia yang tiba-tiba mengirimiku paket program hamil dan mendoakan aku agar segera hamil... selalu mendukung dan menguatkanku di saat semua orang menekanku dengan pertanyaan “Sudah hamil, belum?”

Kukira selama ini dia benar-benar peduli padaku dan Mas Irfan.

Sebenarnya aku sudah tidak kuat dan kelelahan sejak awal Mbak Dina di sini, tapi aku selalu mengingat kebaikannya padaku selama ini dan menganggap semua lelahku sebagai balasan kebaikan untuk dia.

Aku kira kami akan bahagia bersama di rumah Ibu.

Lihat selengkapnya