Blurb
Di sebuah rumah kayu yang hangat, Maya dan Aris membangun mimpi. Namun, setiap sudut ruangan itu seolah berbisik tentang satu hal yang belum lengkap: suara tangis dan tawa seorang anak.
Bagi Maya, keheningan di atas meja makan jati itu terasa semakin menghimpit setiap kali pertanyaan "Kapan punya anak?" datang menghujam dari luar sana. Pertanyaan yang semula terdengar seperti perhatian, perlahan berubah menjadi beban yang menyesakkan dada.
Saat doa-doa panjang mereka seolah tak kunjung berjawab, sebuah langkah berani membawa mereka ke gerbang Panti Kasih. Di sanalah, mereka menyadari bahwa menjadi orang tua bukan sekadar soal garis keturunan, melainkan tentang keluasan hati untuk merengkuh jiwa-jiwa yang haus akan kasih sayang.
Namun, saat keajaiban demi keajaiban mulai menyapa, sanggupkah mereka mempertahankan janji untuk tetap saling menggenggam meski badai stigma tak pernah benar-benar reda?
Sebuah kisah menyentuh tentang perjuangan, keikhlasan, dan rahasia takdir yang membuktikan bahwa keluarga tidak selalu harus sedarah.