Aris memutar kemudi dengan gerakan kaku, sesekali melirik spion tengah untuk melihat Nisa yang duduk mematung di kursi belakang. Maya, yang duduk di samping Aris, terus meremas jemarinya sendiri sambil menatap ke luar jendela, seolah pemandangan jalanan bisa meredam debar jantungnya yang tak beraturan.
"Kita hampir sampai, Nisa. Kau ingat jalan ini, kan?" tanya Aris dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin, meski ada getaran kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Nisa tidak menjawab, ia hanya menunduk dalam-dalam, mencengkeram ujung gaunnya hingga kain itu kusut masai oleh keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.
Mobil perlahan memasuki gerbang besi berkarat yang sudah sangat dikenal oleh Nisa, tempat di mana ia menghabiskan tahun-tahun sepinya sebelum pasangan ini datang menjemput. Napas bocah itu mulai memburu, matanya memanas saat membayangkan tas kecilnya akan diturunkan dari bagasi dan ia harus kembali tidur di ranjang susun yang dingin itu.
Maya menoleh ke belakang, menangkap ekspresi pucat di wajah putri angkatnya yang kini tampak begitu rapuh dan ketakutan. "Sayang, lihat Ibu," bisik Maya lembut, mencoba meraih tangan Nisa, namun anak itu justru semakin mengerutkan tubuhnya ke sudut kursi seolah ingin menghilang dari pandangan dunia saat itu juga.
Pikiran Nisa berkecamuk, ia yakin bahwa sikap diamnya selama di rumah telah membuat orang tua barunya kecewa dan memutuskan untuk mengembalikannya ke panti. Kesalahan apa yang telah ia perbuat, atau mungkin ia memang tidak cukup pantas untuk memiliki sebuah kamar sendiri dengan seprai bermotif bunga yang baru saja ia sukai?
Aris menghentikan mesin mobil tepat di depan teras utama, namun ia tidak segera turun, melainkan menatap Maya dengan sebuah anggukan penuh rahasia. Mereka berdua tahu bahwa keputusan ini akan mengubah segalanya, sebuah langkah besar untuk menyatukan kembali potongan hati yang sempat terpisah di balik dinding panti asuhan ini.
Nisa terisak pelan, air matanya jatuh membasahi pipi saat pintu mobil dibuka dari luar, ia bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal yang menyakitkan. Namun, alih-alih menurunkan tas pakaian, Aris justru mengulurkan tangan dengan senyum lebar dan berkata bahwa mereka datang untuk menjemput seseorang yang sangat dirindukan oleh Nisa.
Debu jalanan menari di balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat, membiarkan AC mendinginkan ketegangan yang merayap di kabin. Aris mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada lingkar kemudi, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat pikirannya sedang bergelut dengan rencana besar. Di sampingnya, Maya terus memilin ujung syal sutranya, matanya sesekali melirik ke arah kursi belakang melalui cermin kecil di atas kepala.
Nisa duduk mematung di sana, seolah-olah napasnya tertahan oleh beban yang tidak terlihat oleh mata orang dewasa. Jemari mungilnya meremas ujung rok bunga-bunga pemberian Maya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tak ada suara yang keluar dari bibir kecilnya, hanya keheningan yang menyesakkan, jauh berbeda dari keceriaan yang biasanya terpancar saat ia bermain di halaman rumah kayu mereka tempo hari.
Mobil terus melaju membelah jalanan pinggiran kota yang mulai ramai oleh penjual sarapan di tepi trotoar. Aris berdeham pelan, mencoba memecah kekakuan yang menyelimuti perjalanan itu, namun suaranya justru terdengar parau. "Kita sudah hampir sampai, Sayang," ucapnya lembut, memberikan tekanan kecil pada pedal rem saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah yang menyala tajam.
Mendengar kata-kata itu, bahu Nisa semakin merosot, seolah-olah benteng pertahanan terakhirnya baru saja runtuh. Ia menunduk dalam-dalam, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajah yang mulai basah oleh air mata yang jatuh tanpa suara. Baginya, setiap putaran roda mobil adalah hitung mundur menuju perpisahan yang ia takuti sejak pertama kali melangkah masuk ke rumah besar milik Aris dan Maya.
Aku akan dikembalikan karena aku terlalu diam, karena aku tidak sepintar anak-anak lain yang bisa membuat mereka tertawa setiap saat.
Pikiran itu terus berputar di kepala Nisa, menciptakan rasa sesak yang membuatnya sulit untuk menelan ludah. Ia ingat betul bagaimana ia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan gelas atau membuat noda di karpet, takut jika satu kesalahan saja akan menjadi alasan bagi mereka untuk membuangnya kembali ke panti. Baginya, cinta adalah sesuatu yang rapuh dan bisa ditarik kembali kapan saja jika ia tidak sempurna.
Gerbang kayu panti asuhan "Kasih Bunda" akhirnya terlihat di tikungan jalan, berdiri kokoh dengan cat putih yang mulai mengelupas di beberapa bagian. Aris memutar kemudi dengan mantap, membawa mobil masuk ke halaman yang dipenuhi oleh suara tawa anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran. Suasana itu seharusnya terasa hangat, namun bagi Nisa, itu adalah pengingat akan tempat di mana ia akan ditinggalkan lagi.
Saat mobil berhenti sempurna, Nisa tidak bergerak sedikit pun, matanya terpaku pada sosok anak perempuan yang lebih tua di kejauhan. Anak itu adalah Laras, sahabat sekaligus sosok kakak yang selalu melindunginya selama bertahun-tahun di panti. Laras sedang duduk sendirian di bawah pohon mangga, memandangi mobil yang baru datang dengan tatapan rindu yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Maya turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Nisa dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut akan melukai perasaan anak itu. "Ayo turun, Nisa, ada seseorang yang sangat merindukanmu di sini," bisik Maya sambil mengulurkan tangannya. Nisa menyambut tangan itu dengan gemetar, langkah kakinya terasa berat seolah-olah ada beban timah yang mengikat pergelangan kakinya menuju teras panti.
Aris menyusul dari belakang, membawa sebuah amplop cokelat besar yang berisi berkas-berkas penting yang sudah ia siapkan selama berminggu-minggu. Ia berjalan mendekati Ibu Pengasuh yang sudah menunggu di pintu masuk dengan senyum penuh arti. "Semua sudah siap?" tanya Aris singkat, sebuah gaya bicaranya yang lugas namun selalu mengandung kepastian yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Ibu Pengasuh mengangguk pelan, lalu memanggil Laras untuk mendekat ke arah mereka semua yang berdiri di bawah terik matahari pagi. Laras berjalan ragu-ragu, matanya bergantian menatap Nisa dan pasangan suami istri di hadapannya. Nisa yang mengira ini adalah momen serah terima dirinya, mulai terisak pelan sambil memegang erat ujung baju Maya, bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal yang menyakitkan.
"Nisa, dengarkan Ayah," Aris berlutut di depan kedua anak itu, menyamakan tingginya agar ia bisa menatap mata mereka secara langsung. "Kami ke sini bukan untuk mengantarmu pulang, tapi untuk menjemput kakakmu agar kalian tidak perlu berpisah lagi." Kata-kata itu meluncur dengan tenang, menghancurkan segala ketakutan yang sejak tadi membangun tembok tinggi di hati kecil Nisa yang selama ini merasa kesepian.
Tangis Nisa pecah seketika, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan ledakan lega yang luar biasa yang memenuhi dadanya. Ia langsung menghambur ke pelukan Laras, mendekap kakaknya itu seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini hanya akan menjadi mimpi indah belaka. Laras sendiri tampak terpaku tak percaya, air matanya mengalir deras membasahi bahu adik kecil yang selama ini selalu ia doakan keselamatannya.
Maya ikut berlutut dan memeluk kedua anak itu, merasakan detak jantung mereka yang berdegup kencang karena kebahagiaan yang meluap-luap. Di saat itulah, Aris menyadari bahwa rumah kayu mereka yang besar tidak akan pernah terasa lengkap tanpa kehadiran dua jiwa yang saling menguatkan ini. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa menjadi orang tua bukan tentang memilih yang terbaik, tapi memberikan tempat bagi cinta untuk tumbuh subur.
Tiba-tiba, seorang petugas panti berlari kecil mendekati mereka dengan wajah pucat dan membawa sebuah surat resmi yang baru saja tiba melalui kurir ekspres. Aris menerima surat itu dengan kening berkerut, merobek amplopnya dengan cepat sementara Maya dan anak-anak masih larut dalam tawa bahagia.
Begitu membaca baris pertama, tangan Aris mendadak kaku dan wajahnya berubah menjadi sangat serius, seolah-olah ada rahasia besar yang baru saja terungkap. Segala rencana indah tentang masa depan mereka mendadak terancam oleh satu nama yang tertulis jelas di dokumen tersebut, memaksa Aris untuk segera mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya sebelum matahari terbenam.
Ban mobil Aris melindas kerikil tajam di depan gerbang besi berkarat yang sudah bertahun-tahun ia kenali. Suara derit pagar yang dibuka oleh penjaga panti asuhan seolah menjadi lonceng peringatan yang memekakkan telinga bagi sosok kecil di kursi belakang. Nisa, yang biasanya hanya diam mematung, tiba-tiba mencengkeram sabuk pengamannya hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa baginya.
Udara di dalam kabin mobil mendadak terasa tipis dan mencekam saat mesin dimatikan, menyisakan kesunyian yang berat di antara mereka bertiga. Aris melirik melalui spion tengah, melihat mata Nisa yang mulai berkaca-kaca menatap bangunan tua dengan cat mengelupas di hadapan mereka. Maya bisa merasakan getaran hebat dari tubuh Nisa yang duduk tepat di belakangnya, sebuah sinyal ketakutan yang begitu murni hingga menusuk relung hatinya yang terdalam.
"Nisa akan janji lebih baik lagi, Ayah... Ibu... Nisa nggak akan numpahin susu lagi, Nisa nggak akan berisik," isaknya pecah dengan suara serak yang menyayat hati. "Tolong, jangan tinggalin Nisa di sini lagi, Nisa janji bakal nurut apa aja." Kata-kata itu meluncur deras seperti bendungan yang jebol, mengungkapkan trauma mendalam yang selama ini ia sembunyikan di balik wajah pendiamnya yang seolah tanpa cela.
Maya tidak sanggup lagi duduk di depan; ia segera membuka pintu dan berpindah ke kursi belakang dengan gerakan yang hampir panik. Ia menarik tubuh mungil Nisa ke dalam pelukannya, membiarkan tangisan anak itu tumpah membasahi bahu blusnya yang rapi. Maya bisa merasakan jantung Nisa berdegup kencang seperti burung kecil yang terperangkap dalam sangkar, berontak melawan takdir yang ia kira akan terulang kembali di tempat ini.