KAPAN PUNYA ANAK

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Hadiah Tak Terduga

Aris memutar cincin di jari manisnya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali debar jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya. Di ruang tamu yang hangat itu, cahaya matahari sore menerobos celah jendela kayu, menyinari wajah Maya yang tampak berseri namun menyimpan sedikit kegelisahan yang sama.

"Kita sudah memiliki segalanya, Aris," bisik Maya sambil merapikan letak bantal di sofa kayu jati kesukaan mereka. Suaranya lembut, namun ada getaran halus yang menandakan bahwa kabar yang baru saja mereka terima dari dokter pagi tadi bukanlah sekadar angin lalu yang bisa diabaikan begitu saja.

Kehadiran dua putri angkat mereka, Rara yang pendiam dan Siska yang selalu ceria, telah mengubah rumah kayu itu menjadi surga kecil yang penuh dengan tawa dan drama anak-anak. Aris selalu percaya bahwa cinta tidak membutuhkan ikatan darah untuk tumbuh subur, dan selama bertahun-tahun, keyakinan itu menjadi fondasi kokoh keluarga mereka.

Namun, takdir sering kali memiliki selera humor yang tak terduga saat manusia sudah merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Laporan medis di atas meja seolah berteriak, menyatakan bahwa keajaiban biologis yang selama ini mereka anggap mustahil kini benar-benar sedang bertunas di dalam rahim Maya yang selama ini sunyi.

Aris mendekati Maya, lalu menyentuh pundaknya dengan ragu, mencoba menakar bagaimana dinamika rumah ini akan bergeser setelah kehadiran anggota baru. Ada ketakutan yang merayap di benaknya tentang apakah kasih sayang mereka akan terbagi secara adil atau justru menciptakan sekat transparan yang melukai hati kedua putri mereka.

Pintu depan terbuka dengan kasar, menampakkan Siska yang berlari masuk sambil mengejar Rara yang membawa buku gambar baru mereka ke arah dapur. Tawa mereka yang lepas memenuhi setiap sudut ruangan, mengingatkan Aris bahwa kebahagiaan yang mereka bangun selama ini adalah hasil dari komitmen, bukan sekadar keberuntungan medis semata.

Maya menatap kedua gadis itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menyadari bahwa perjalanan mereka sebagai orang tua akan memasuki babak yang jauh lebih menantang. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah rumah kayu ini cukup luas untuk menampung semua cinta yang kini meluap melampaui batas-batas yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Lantai kayu di ruang tengah berderit pelan saat Maya mencoba melangkah menuju dapur. Aroma tumisan bawang yang biasanya menerbitkan selera, pagi ini justru terasa seperti serangan gas yang menyesakkan dadanya. Ia segera menutup mulut dengan punggung tangan, menahan gejolak hebat yang meronta dari pangkal tenggorokannya.

Pandangannya mengabur sejenak, membuat bayangan rak buku di sudut ruangan tampak bergoyang tidak beraturan.

Aris yang sedang merapikan mainan balok milik Hana dan Nisa segera menoleh dengan dahi berkerut tajam. Ia meletakkan kotak plastik itu dengan suara berdebam pelan, lalu menghampiri istrinya yang bersandar lemas pada pinggiran meja makan. Aris tidak bicara, namun jemari telunjuknya mulai mengetuk-ngetuk dagu dengan ritme cepat yang sangat khas. Itu adalah tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras membedah kekhawatiran yang selama ini mereka simpan rapat.

"Maya, ini sudah minggu ketiga kamu terus seperti ini setiap bangun tidur," suara Aris terdengar rendah namun penuh penekanan. Ia meraih botol air mineral dan membukakannya untuk Maya, sementara matanya terus mengawasi pucat di wajah sang istri. Ia tahu Maya adalah wanita yang keras kepala jika menyangkut kesehatan sendiri, apalagi jika itu berkaitan dengan harapan yang pernah hancur berkeping-keping di masa lalu.

Maya menerima botol itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu meneguk isinya perlahan untuk membasuh rasa pahit di lidah. Ia hanya menggeleng pelan, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya yang masih setia menanti jawaban. Baginya, rasa mual ini hanyalah konsekuensi logis dari jadwal tidurnya yang berantakan sejak mengadopsi Nisa dan Hana. Mengurus dua anak yang penuh energi dalam waktu bersamaan tentu saja menguras seluruh cadangan tenaganya.

"Mungkin aku hanya butuh tidur lebih awal, Mas, panti asuhan kemarin benar-benar menguras emosi kita semua," gumam Maya berusaha mencari pembenaran. Ia teringat bagaimana Hana menangis tersedu saat mengira adiknya akan dibawa pergi sendiri, sebelum akhirnya mereka memutuskan mengadopsi keduanya. Kelelahan emosional itu terasa jauh lebih masuk akal dibandingkan kemungkinan lain yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi mereka.

Aris menghentikan ketukan jarinya di dagu dan meraih pundak Maya, memaksa wanita itu untuk berhenti menghindar dari kenyataan. "Kita harus ke dokter pagi ini juga, jangan biarkan rasa takutmu pada hasil tes di masa lalu menghalangi kita sekarang." Kalimat itu menghujam jantung Maya, mengingatkannya pada tumpukan hasil laboratorium bertahun-tahun lalu yang semuanya berakhir dengan kata negatif yang dingin dan sangat menyakitkan.

Ketegangan di antara mereka semakin memuncak saat Maya melepaskan pegangan tangan Aris dengan gerakan yang agak kasar. Ia merasa terpojok oleh perhatian yang terasa seperti tuntutan terselubung untuk memberikan kabar baik yang mungkin tidak pernah ada. "Dan jika hasilnya tetap sama? Jika ini hanya maag kronis atau sekadar masuk angin biasa seperti sebelumnya?" tanya Maya dengan suara yang mulai bergetar karena emosi yang tertahan.

Suasana rumah kayu itu mendadak hening, hanya menyisakan suara tawa kecil Hana dan Nisa yang sedang bermain di halaman belakang. Kontras antara keceriaan anak-anak itu dengan ketegangan di dapur terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Ia merasa menjadi beban karena belum bisa memberikan kepastian, meskipun Aris selalu mengatakan bahwa kehadiran dua anak angkat mereka sudah lebih dari cukup untuk melengkapi kebahagiaan rumah tersebut.

Aris menghela napas panjang, mencoba meredam egonya yang juga mulai terusik oleh penolakan Maya yang terus-menerus. Ia memutuskan untuk memberikan ruang, namun matanya tetap menatap tajam ke arah kalender di dinding yang sudah penuh dengan coretan tanggal. "Aku tidak meminta kabar baik, Maya, aku hanya meminta kepastian agar aku tahu bagaimana cara merawatmu dengan benar tanpa harus menebak-nebak setiap pagi."

Maya terdiam, merasakan denyut di pelipisnya semakin menguat seiring dengan rasa pusing yang mulai menyerang kembali dengan lebih hebat. Dunia di sekitarnya seolah berputar lebih cepat, membuat ia harus mencengkeram kain taplak meja dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyadari bahwa mengabaikan sinyal dari tubuhnya sendiri tidak akan mengubah kenyataan apa pun yang sedang tumbuh atau mungkin sedang rusak di dalam sana.

Saat ia mencoba berdiri tegak untuk menuju kamar mandi, sebuah Twist menghantam kesadarannya ketika ia melihat bercak darah samar di lantai kayu yang baru saja ia injak. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat, rasa takut yang lebih besar dari sekadar kegagalan hamil kini menyergap pikirannya dengan liar. Ia menatap Aris dengan mata membelalak, menyadari bahwa apa yang ia alami mungkin jauh lebih berbahaya daripada sekadar mual di pagi hari.

"Mas, lihat ini..." suara Maya hilang tertelan ketakutan saat ia menunjuk ke bawah, membuat Aris seketika melompat maju dengan wajah yang berubah pucat pasi. Ketegangan yang tadinya berupa perdebatan kata-kata kini berubah menjadi kepanikan fisik yang nyata dan tidak bisa lagi ditunda-tunda. Aris segera meraih kunci mobil di atas meja, tidak lagi bertanya atau meminta izin, melainkan langsung membopong tubuh Maya yang mulai lunglai.

Konsekuensi dari penundaan Maya selama berminggu-minggu kini berbuah pada risiko medis yang bisa mengancam nyawanya sendiri di tengah kebahagiaan keluarga kecil mereka. Di dalam mobil, Maya hanya bisa memejamkan mata sambil meremas lengan Aris, menyesali setiap detik yang ia buang hanya karena takut menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa rahasia tubuhnya kini bukan lagi soal harapan punya anak, melainkan perjuangan untuk tetap bertahan demi Hana dan Nisa.

Aris memacu mobilnya membelah jalanan desa yang masih berkabut, sambil terus mengetuk-ngetuk kemudi dengan ritme cepat yang menunjukkan kecemasan luar biasa di kepalanya. Di kursi belakang, Hana dan Nisa hanya terdiam melihat ketegangan orang tua mereka, seolah mengerti bahwa rumah kayu mereka sedang berada di ambang badai besar. Maya menoleh ke arah anak-anaknya dengan tatapan penuh luka, bertanya-tanya apakah ia masih punya waktu untuk menjadi ibu terbaik bagi mereka berdua.

Ujung jemari Maya yang gemetar terus menekan pinggiran wastafel porselen yang dingin, sementara matanya tak berkedip menatap benda plastik putih kecil di atas meja rias. Di sana, di bawah lampu kamar mandi yang berpendar pucat, dua garis merah muncul dengan tegas seolah sedang menertawakan semua keraguan yang selama ini ia kunci rapat-rapat dalam peti keputusasaan.

Ia merosot perlahan hingga terduduk di atas ubin, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu kayu yang tertutup rapat, sementara napasnya mulai terputus-putus oleh isak yang tak lagi mampu ditahan. Tangisnya pecah, bukan karena duka yang biasa ia rasakan setiap bulan di masa lalu, melainkan karena sebuah guncangan hebat yang menghancurkan seluruh logika yang telah ia bangun sejak mengadopsi kedua putrinya.

Suara debuman keras menghantam daun pintu saat Aris mendobraknya dengan bahu yang tegang, wajahnya pucat pasi karena mengira sang istri terjatuh atau terluka di dalam sana. Pria itu terengah-engah, matanya menyapu ruangan dengan liar sebelum akhirnya tertuju pada benda kecil yang tergeletak di samping jemari Maya yang masih bergetar hebat di atas lantai.

Aris mematung, jemari telunjuknya secara otomatis mengetuk-ngetuk dagunya dengan ritme yang sangat cepat, sebuah tanda bahwa otaknya sedang berusaha memproses realita yang tidak masuk akal ini. "Ini tidak mungkin, Maya, kita sudah sepakat bahwa kasih sayang untuk Nisa dan Hana sudah lebih dari cukup untuk memenuhi rumah kayu ini," bisiknya dengan nada suara yang serak dan penuh ketidakpercayaan.

Lihat selengkapnya