N hidup di tahun 2100 M di mana manusia tak lagi menjadi pusat dunia.
Kota-kota telah berubah menjadi lautan pabrik. Menara baja menjulang seperti hutan buatan, dindingnya bergetar oleh suara mesin yang tak pernah tidur.
Dari cerobong-cerobong raksasa, asap hitam membubung, menutupi matahari dan menelan bintang. Siang tampak seperti senja yang muram, sementara malam hanyalah bayangan pekat tanpa harapan.
Jalanan dipenuhi orang lapar. Tubuh-tubuh kurus meringkuk di pinggir trotoar, anak-anak menengadahkan tangan pada siapa pun yang lewat.
Di perempatan, barisan pengemis berdiri diam seperti patung hidup, seolah menjadi ornamen wajib kota. Setiap hari, layar-layar raksasa menayangkan angka kematian: ribuan jiwa melayang karena kelaparan, kecelakaan kerja, atau memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada yang terkejut. Kematian telah menjadi berita rutin, setara dengan ramalan cuaca.
Pendidikan? Itu hanya dongeng masa lalu. Tidak ada lagi sekolah, universitas, atau perpustakaan.
Gedung-gedung lama dijual kepada korporasi, diubah menjadi pusat belanja dan pabrik baru.