Suara alarm berbunyi pukul 03.30.
N membuka mata perlahan. Langit di luar jendela masih hitam. Atap rumah kontrakannya yang tipis dipenuhi bercak lembap. Udara dingin masuk melalui celah-celah kayu yang mulai lapuk.
Ia duduk di tepi ranjang.
Setiap pagi selalu sama.
Bangun.
Mandi.
Meminum segelas air.
Lalu berjalan hampir dua kilometer menuju halte angkutan pabrik.
Tak ada yang benar-benar hidup di perjalanan itu. Puluhan orang berdiri dengan wajah kosong. Mereka saling mengenal, tetapi tak pernah berbicara. Mereka semua memahami satu kenyataan: kata-kata tidak akan menambah isi dompet.
Ketika kendaraan otomatis membawa mereka menuju kawasan industri, N memandangi bayangannya sendiri di kaca.
Kerutan mulai muncul di sudut matanya.
Rambut yang dulu hitam mulai disusupi uban.
Usianya baru tiga puluh lima tahun.
Namun hidup membuatnya tampak jauh lebih tua.
Mesin-mesin raksasa menyambut mereka seperti monster baja yang tak pernah tidur. Cerobong asap menjulang tinggi, menutupi matahari yang baru terbit.
Hari itu sama seperti ribuan hari sebelumnya.
Mengelap.
Memeriksa suhu.
Membersihkan debu.
Mengulang.
Sebuah robot inspeksi melintas di depannya. Sensor merahnya berkedip.
"Temperatur mesin stabil."
"Produktivitas meningkat 0,03 persen."
"Tenaga manusia tetap dibutuhkan untuk pemeliharaan manual."
Kalimat itu terus diputar setiap hari.
N tersenyum tipis.
"Tetap dibutuhkan."
Kalimat yang terdengar seperti penghargaan, padahal kenyataannya hanyalah pengingat bahwa manusia kini sekadar aksesori bagi mesin.
Tangannya mengusap permukaan logam yang panas.
Entah mengapa, sentuhan itu membawa ingatannya melayang jauh.
——————————————
Dua belas tahun lalu.
Laboratorium Teknik Energi Nasional.
Ruangan itu dipenuhi papan tulis berisi rumus, kabel berserakan, dan aroma kopi yang tak pernah benar-benar hilang.
N yang masih berusia dua puluh tiga tahun hampir tidak pernah pulang.
Matanya selalu merah karena kurang tidur.
Teman-temannya sering bercanda.
"Kau ini mau menikah dengan mesin?"
N hanya tertawa.
"Aku menikah dengan masa depan."
Ia benar-benar mempercayainya.
Saat teman-temannya sibuk mencari pasangan, menghadiri pesta, atau berlibur, N memilih menghabiskan malam di laboratorium.
Ia membaca jurnal hingga pagi.
Membongkar mesin.
Menulis kode.
Menggambar desain.
Lalu mengulang semuanya dari awal.
Baginya, ilmu bukan sekadar pekerjaan.
Ilmu adalah cara menyelamatkan manusia.
Ia percaya suatu hari teknologi akan membebaskan manusia dari kerja berat.
Mesin akan bekerja.
Manusia akan belajar.
Berkarya.
Menulis.
Melukis.
Meneliti.
Menghabiskan waktu bersama keluarga.
Begitulah dunia yang ia impikan.
Ia bahkan menolak lamaran seorang perempuan yang pernah sangat ia cintai.
"Kau yakin?"
Perempuan itu bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ingin menyelesaikan risetku dulu."