Kapitalis world

Duroh
Chapter #3

Bab 3 - Retakan Harapan

Sirene pabrik berbunyi tepat pukul 05.00.

Ribuan pekerja memasuki gerbang utama tanpa suara. Wajah-wajah mereka nyaris tak berbeda dengan hari sebelumnya. Mata kosong, langkah berat, bahu membungkuk. Di dunia tahun 2100, bekerja bukan lagi jalan menuju kehidupan yang lebih baik, melainkan sekadar cara menunda kematian.

N ikut mengantre di antara mereka.

Sebuah kamera pemindai memeriksa retina, suhu tubuh, detak jantung, hingga tingkat stres setiap pekerja.

"Status: Layak bekerja."

Pintu logam terbuka.

Mereka masuk.

Tak ada sapaan.

Tak ada tawa.

Hanya deru ribuan mesin yang mengguncang lantai pabrik.


Pabrik tempat N bekerja merupakan salah satu fasilitas produksi terbesar di Asia Tenggara.

Bukan manusia yang membuat barang-barang di sana.

Sembilan puluh sembilan persen pekerjaan dilakukan robot industri.

Robot pengelas.

Robot pemotong.

Robot pengangkut.

Robot inspeksi.

Robot perakitan.

Manusia hanya bertugas mengerjakan hal-hal yang dianggap "tidak ekonomis" untuk diprogram ulang.

Membersihkan sensor.

Mengelap mesin.

Mengganti pelumas.

Membuang debu logam.

Upah mereka sangat rendah, tetapi perusahaan menganggap itu jauh lebih murah dibanding memperbarui perangkat lunak robot.

Ironi yang menyakitkan.

Pukul sebelas siang.

N sedang membersihkan saluran pendingin salah satu reaktor produksi ketika lantai tiba-tiba bergetar.

Getarannya kecil.

Namun telapak tangan N langsung berhenti bergerak.

Ia menempelkan telinganya pada badan mesin.

"Tak..."

"Tak..."

"Tak..."

Ada bunyi yang tidak semestinya.

Hanya sepersekian detik.

Sangat pelan.

Hampir mustahil didengar orang lain.

Tetapi bagi N, suara itu terasa begitu akrab.

Ia mengenal setiap ritme mesin itu.

Dulu...

Ia ikut merancang sistem pendingin generasi pertamanya.

Ia tahu bagaimana suara mesin ketika sehat.

Dan ia tahu bagaimana suara mesin yang akan gagal bekerja.

N segera melihat panel indikator.

Semuanya hijau.

Tak ada alarm.

Tak ada peringatan.

Robot inspeksi lewat begitu saja.

"Status normal."

Namun instingnya berkata lain.

Ia membuka penutup kecil di sisi mesin.

Udara panas langsung menyembur keluar.

Di balik pipa pendingin, ia melihat sesuatu yang membuat wajahnya berubah.

Sebuah katup mikro retak.

Retaknya hanya beberapa milimeter.

Tetapi tekanan di dalam reaktor sangat tinggi.

Jika katup itu pecah...

Seluruh sistem pendingin akan gagal.

Temperatur inti akan melonjak drastis.

Ledakan mungkin tak bisa dihindari.


N berdiri terpaku.

Ia tahu prosedurnya.

Melapor.

Menunggu supervisor.

Supervisor memanggil teknisi.

Teknisi meminta izin pusat.

Pusat mengirim drone.

Drone melakukan verifikasi.

Semua proses itu membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit.

Mesin hanya membutuhkan kurang dari lima menit untuk meledak.

Tak ada waktu.

N mengambil kunci pas tua dari tas kerjanya.

Ia membuka panel lebih dalam.

Tangan kirinya masuk ke sela-sela pipa panas.

Kulitnya langsung memerah.

Lihat selengkapnya