Kapitalis world

Duroh
Chapter #4

Bab 4 - Pertemuan Rahasia

Hujan turun sejak sore.

Bukan hujan yang menyejukkan, melainkan hujan asam yang menjadi hal biasa sejak puluhan tahun terakhir. Air yang jatuh dari langit meninggalkan bercak putih pada besi dan membuat dedaunan menguning dalam hitungan hari.

Orang-orang berjalan cepat sambil mengenakan mantel plastik murah. N menundukkan kepala. Pulang bekerja selalu menjadi rutinitas yang membosankan. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda.

Sejak kejadian mesin pendingin beberapa hari lalu, ia terus merasakan ada yang mengawasinya.

Bukan drone perusahaan.

Bukan kamera jalanan.

Melainkan manusia.

Ia beberapa kali menoleh. Lorong tetap sepi. Lampu-lampu jalan berkedip redup akibat penghematan energi. Tak ada siapa pun.

Ketika sampai di persimpangan menuju rumah kontrakannya, langkah seseorang terdengar dari belakang.

"Pak N."

Suara itu pelan. N berhenti. Seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya sederhana, bahkan tampak lusuh seperti kebanyakan buruh.

Namun sorot matanya berbeda.

Tenang.

Tajam.

"Maaf?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."

N menggeleng.

"Sepertinya Anda salah orang."

Perempuan itu tersenyum tipis.

"Doktor Teknik Energi."

N membeku. Sudah bertahun-tahun tak ada yang memanggilnya dengan gelar itu.

"Anda siapa?"

"Kalau saya menjawab di sini, kita sama-sama tidak akan pulang."

Perempuan itu berbalik.

"Ikuti saya."

N tidak bergerak.

Ia tahu ini bisa menjadi jebakan. Korporasi sering menggunakan penyamaran untuk menemukan orang-orang yang dianggap berbahaya. Namun sebelum pergi, perempuan itu berkata tanpa menoleh.

"Kalau perusahaan ingin menangkap Anda..."

"...mereka tidak akan mengirim saya."

Ia menghilang di balik gang sempit.

N berdiri cukup lama. Hujan terus turun. Akhirnya... Ia mengikuti.

Gang-gang kecil itu semakin sempit. Semakin jauh dari kawasan industri. Semakin jauh dari pusat kota. Mereka melewati rumah-rumah kosong yang telah lama ditinggalkan. Gedung sekolah dasar yang dipenuhi lumut. Perpustakaan umum yang jendelanya pecah. Tulisan besar di temboknya masih samar terbaca.

"Membaca Adalah Jendela Dunia."

Seseorang telah mencoret kalimat itu bertahun-tahun lalu.

Di bawahnya tertulis dengan cat merah.

"Yang menghasilkan uang adalah jendela dunia."

N menatap tulisan itu cukup lama. Dadanya terasa sesak.


Perjalanan berakhir di sebuah gudang tua. Dari luar, bangunan itu tampak tak berpenghuni. Perempuan itu mengetuk pintu logam dengan pola tertentu. Tiga ketukan. Dua ketukan. Satu ketukan. Pintu terbuka perlahan.

Mereka masuk. Ruangan itu gelap. Hanya diterangi lampu minyak. N tertegun. Sudah sangat lama ia tidak melihat lampu seperti itu.

Di zaman ketika listrik menjadi barang mahal dan seluruh pencahayaan menggunakan panel otomatis, lampu minyak terasa seperti benda museum.

Namun bukan itu yang membuatnya terpaku. Melainkan orang-orang di dalam ruangan.

Sekitar dua puluh orang duduk melingkar.

Usia mereka beragam.

Ada yang masih muda.

Ada pula yang rambutnya telah memutih.

Yang mengejutkan, di hadapan mereka terdapat benda-benda yang nyaris punah.

Buku.

Puluhan buku. Rak-rak kayu dipenuhi buku dengan sampul usang.

Bukan layar digital.

Bukan hologram.

Buku sungguhan.

Bau kertas memenuhi ruangan.

Untuk sesaat, N merasa seperti kembali ke abad sebelumnya.

Seorang pria tua berdiri.

Rambutnya putih seluruhnya.

Tubuhnya kurus.

Namun suaranya masih tegas.

"Selamat datang."

N mengangguk pelan.

"Siapa kalian?"

Pria itu tersenyum.

"Dulu..."

"...kami memiliki banyak nama."

"Ada yang dipanggil profesor."

"Dosen."

"Peneliti."

"Pustakawan."

"Sastrawan."

"Filsuf."

"Petani."

"Guru."

"Sekarang..."

"...kami hanya manusia."

Ruangan menjadi sunyi.

Perempuan yang menjemput N duduk di salah satu sudut.

Pria tua melanjutkan.

"Namaku Ron."

Lihat selengkapnya