Malam semakin larut.
Sebagian anggota kelompok bawah tanah mulai meninggalkan gudang melalui pintu-pintu berbeda. Tidak ada yang keluar bersamaan. Tidak ada yang berjalan dalam kelompok besar. Mereka telah terbiasa hidup dengan satu aturan sederhana:
Jangan pernah memberi korporasi pola yang bisa dipelajari.
N masih duduk di sudut ruangan.
Di hadapannya, secangkir teh telah dingin.
Pikirannya justru semakin ramai.
Ia memandangi rak-rak buku yang memenuhi dinding gudang. Ada ribuan halaman yang berhasil diselamatkan dari dunia yang telah melupakan arti membaca. Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya adalah satu-satunya orang yang masih menyimpan buku.
Ternyata tidak.
"Kau masih suka membaca sambil melamun."
Suara perempuan itu membuat N mengangkat kepala.
Perempuan yang menjemputnya tadi malam kini berdiri beberapa langkah di depannya.
Tangannya membawa beberapa buku.
"Aku boleh duduk?"
N mengangguk pelan.
Perempuan itu meletakkan buku-buku di atas meja kayu.
"Namaku Xa."
"N."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat N tersenyum tipis.
"Semua orang di sini sepertinya tahu siapa aku."
"Bukan siapa dirimu sekarang."
Xa menatapnya beberapa saat.
"Tapi siapa dirimu dulu."
Hening menyelimuti mereka. N memperhatikan wajah perempuan itu. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun, wajahnya tampak lebih dewasa daripada yang seharusnya, ada bekas luka kecil di dekat pelipis kirinya. Namun ada sesuatu yang terasa sangat familiar, tatapan matanya, cara ia memegang buku, cara ia tersenyum tipis sebelum berbicara. N mencoba mengingat.
"Kita pernah bertemu?"
Xa tertawa kecil.
"Baru sadar?"
N mengernyit.
Maaf, aku...
"Sudah lima belas tahun."
"Lima belas tahun?"
"Aula Fakultas Teknik."
N memejamkan mata. Potongan-potongan kenangan mulai bermunculan.
Ruang seminar.
Mahasiswa baru.
Presentasi penelitian.
Seorang mahasiswi yang duduk di barisan paling depan.
Selalu bertanya.
Selalu mencatat.
Selalu datang paling awal.
Dan selalu pulang paling akhir.
Mata N membesar.
"Xa..."
Perempuan itu mengangguk.
"Iya."
"Dulu aku mahasiswamu."
Ingatan itu datang begitu cepat.
Xa adalah salah satu mahasiswa paling cerdas yang pernah ia ajar. Nilainya hampir selalu sempurna. Namun bukan itu yang membuatnya berbeda. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tak pernah habis.
Suatu hari setelah kelas selesai, Xa pernah bertanya.
"Pak..."
"Kalau suatu hari AI lebih pintar daripada manusia..."
"...untuk apa kita belajar?"
Saat itu N tersenyum.
"Karena tujuan belajar bukan menjadi lebih pintar dari mesin."
"Lalu?"
"Belajar membuat kita lebih manusia."
Xa menuliskan kalimat itu di buku catatannya. Saat itu, N bahkan tidak menyadari bahwa kalimat tersebut akan terus diingat oleh muridnya selama bertahun-tahun.
"Kau berubah."
Suara Xa membawa N kembali ke masa kini.
"Kita semua berubah."
"Bukan seperti itu."
Xa menatap tangan N yang penuh luka.
"Dulu tanganmu selalu memegang spidol."
"Sekarang..."
"...penuh bekas terbakar."
N tersenyum pahit.
"Dunia berubah lebih cepat daripada kita."
Xa mengambil sebuah buku kecil dari tasnya.
Sampulnya mulai pudar.
Ia menyerahkannya kepada N.
"Masih ingat?"
N membukanya.
Di halaman pertama terdapat tanda tangan kecil.
Untuk Xa.