Kapitalis world

Duroh
Chapter #6

Bab 6 - Rahasia yang Terkubur

Subuh datang lebih cepat daripada biasanya. Bukan karena matahari terbit lebih awal. Melainkan karena N hampir tidak tidur semalaman.

Pertemuan dengan kelompok bawah tanah terus berputar di kepalanya. Wajah Ron. Ribuan buku yang terselamatkan. Dan Xa...

Mantan mahasiswinya.

Perempuan yang diam-diam masih menyimpan buku pemberiannya selama lima belas tahun.

Ia menarik napas panjang sebelum mengenakan seragam kerja berwarna abu-abu yang mulai pudar.

Di balik kerah bajunya, chip kecil yang terhubung dengan kornea mata kirinya melakukan sinkronisasi.

Sinkronisasi Memori: Selesai.

Cadangan Data ke Terminal Lokal: Berhasil.

Hanya N yang mengetahui arti notifikasi itu.

Bagi orang lain, chip tersebut hanyalah implan kesehatan generasi lama.

Tak seorang pun tahu bahwa di balik kornea mata kirinya hidup sebuah kecerdasan buatan eksperimental yang selama bertahun-tahun merekam seluruh hidupnya.

N menutup notifikasi itu.

Lalu berangkat bekerja.

Kawasan industri tampak lebih sibuk dari biasanya.

Konvoi kendaraan tanpa awak keluar-masuk gerbang utama.

Drone keamanan berpatroli lebih rendah.

Setelah insiden kerusakan mesin beberapa hari lalu, tingkat pengawasan meningkat drastis.

Setiap pekerja diperiksa dua kali.

Bahkan tas makan siang mereka dipindai hingga ke kandungan kimianya.

Saat melewati gerbang, suara sintetis kembali terdengar.

Status: Pekerja Nomor 7A-1149.

Kategori Pemantauan: Level Dua.

Selamat bekerja.

N menghela napas pelan.

Kini ia benar-benar diawasi.

Hari itu ia mendapat penugasan yang tidak biasa. Supervisor Ar menghampirinya.

"Ikut saya."

N mengikuti tanpa bertanya.

Mereka menaiki lift industri yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.

Lift terus turun.

Lima meter.

Dua puluh meter.

Lima puluh meter.

Seratus meter.

Angka pada layar terus bertambah.

Semakin dalam.

Semakin sunyi.

Akhirnya lift berhenti.

Pintu terbuka perlahan.

N membeku.

Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang begitu luas hingga ujungnya nyaris tak terlihat.

Dinding-dindingnya dipenuhi kabel sebesar batang pohon.

Pipa pendingin menjalar ke segala arah.

Puluhan lengan robot bekerja tanpa henti.

Di tengah ruangan berdiri sebuah struktur logam raksasa setinggi gedung tiga puluh lantai.

Struktur itu berdenyut pelan.

Seolah-olah bernapas.

N belum pernah melihat mesin sebesar itu.

Ar memperhatikan ekspresinya.

"Indah, bukan?"

"Itu apa?"

Supervisor itu menjawab singkat.

"Jantung dunia."

N mengira Ar sedang bercanda.

Namun setelah mendekat, ia mulai menyadari bahwa mesin itu jauh lebih kompleks daripada reaktor industri biasa.

Tak hanya menghasilkan energi.

Ia menerima data.

Mengolah data.

Lalu mengirim keputusan ke ribuan jaringan lain.

Pada salah satu layar transparan, angka-angka terus berubah.

Distribusi Energi Nasional

Cadangan Air Bersih

Produksi Pangan

Prediksi Populasi

Indeks Konsumsi

Kuota Kelahiran

N berhenti membaca.

Kuota...

Kelahiran?

Ia mengernyit.

"Kenapa data itu ada di sini?"

Ar menjawab datar.

"Karena semuanya saling berkaitan."

N memandang layar lain.

Peta dunia muncul.

Setiap wilayah memiliki warna berbeda.

Hijau.

Kuning.

Merah.

Lihat selengkapnya