Kapten Garuda (Sang Pembantai)

Hermawan
Chapter #1

Munculnya Pahlawan

Petir meretih di angkasa. Angin kencang kian menjadi. Manusia menjerit, terjerembap, dan mencengkeram tiang. Awan badai terpuntir menjadi angin topan mini. Angin puting beliung mengular ke arah kota bagaikan tentakel monster ubur-ubur.

Anak-anak menjerit dan lari ke dalam bangunan. Angin merampas bangunan, kantor, masjid, hotel dan perumahan. Seorang pemuda meluncur menyeberangi kota. Gagah dan tinggi. Memakai pakaian ketat tetapi tak seketat pakaian wanita. Topeng yang dikenakan sedikit berbeda dengan para pahlawan di film-film modern sekarang. Pakaian ketat merah putih membagi dada dan perut seperti bendera, dia kenakan, bergaris merah putih di sekitar bahu seperti pita. Berlambang Garuda Pancasila di depan dada. Celana batik merubah penampilan. Sepatu boot hitam melengkapi perubahan. Topeng aneh bermoncong paruh Garuda menutup hidung dengan empat jambul melintang dan nyentrik dia pakai. Dia membawa perisai segi lima berlambang Garuda Pancasila dengan garis tepi merah putih yang membara. Memang apa yang kalian pikirkan. Jika susah jangan dibayangkan. Terlalu rumit lihat gambar.

Pemuda berlari ke arah badai, tapi rasanya seperti berlari di tiup angin sepoi-sepoi. Angin seolah tidak dapat menghadangnya, ia mendorong angin ke depan.

“Tolong!...tolong!...tolong!” teriak para manusia ketakutan.

Salah satu manusia tua cuma berdiri di sana sambil nyengir bodoh, seakan dia mendadak menikmati badai tersebut. Matanya seperti bergembira terus memandang.

“Maaf, penduduk kota,” kata salah satu manusia tua. “Sampai di sini saja aku berbuat baik pada kalian.”

Salah satu manusia tua menyentakkan pergelangan tangan, dan Para penduduk pun terbang ke belakang, menghantam bangunan dan meluncur di jalan.

Pemuda bertopeng berusaha menerjang maju, tapi badai tak menghalanginya. mendorong angin ke depan. Tubuhnya dapat menahan terjang badai.

“Hei kau siapa?,” kata pemuda bertopeng menantang sengit. “Lepaskan mereka!”

Pemuda bertopeng mengamati curiga. Matanya tampak tak berlekit memperhatikannya.

Manusia tua itu memberi senyum psikopat girang. “Oh, ayolah, kau siapa?. Biarkan aku memuaskan hasratku! Bagaimanapun, kau tidak ada urusan dengan ini. Kota ini adalah milikku, biarkan hasrat kejahatanku mendapatkan kepuasan? Aku sudah berada dalam kota sepanjang musim ini, dan kau bahkan tidak tahu. Kau sudah menghalangi jalanku, pemuda.”

“Kau belum kenal diriku,” kata pemuda bertopeng sengit. “Sebelum aku menyebutkan namaku, kau siapa dahulu berani merusak kotaku.”

Pemuda bertopeng balik bertanya. Matanya menyorot tajam. Dahinya mengepul urat nadinya

“Kota ini sungguh aneh,” kata manusia tua itu dingin. “Kau lebih muda dariku kau seharusnya menyebutkan namamu terlebih dahalu. Dimana sopan santunmu?”

Dia memberi pelajaran sopan santun. Jika melihat keadaan bukan seperti itu seharusnya. Musuh seharusnya menyebutkan nama terlebih dahulu.

“Kau datang bagai badai kejahatan,” kata pemuda bertopeng tajam. “Tak pantas orang jahat macam kau di beri kesopanan.”

Badai masih menerjang diantara manusia tua dan pemuda bertopeng. Berita menyebar. Salah satu stasiun tv mendapatkan kesempatan. Seorang penyunting kamera dalam lautan badai. Dia menyalakan camera. Gambar dan suara dia rekam dalam percakapan kedua orang dalam badai menerjang.

 “Sungguh bodoh sekali,” kata manusia tua sambil ketawa. “Untuk apa aku menjawab pertanyaanmu, tetapi karena keberanianmu, maka sudah sepantas aku memberitahu namaku.”

Dengan tangan gemetaran memegang kamera. Seorang cameramen terus merekam percakapan. Dia mengambil resiko demi mendapatkan berita utama. Wajahnya memang ketakutan tetapi dia yakin berita ini menjadi headline yang menggairahkan.

“Cepat bicaralah tanpa basa-basi,” kata pemuda bertopeng mendengus sengit. “Kau mau kehempaskan atau kulumatkan.”

“Jangan sombong,” renggut manusia tua jumawa. “Memang aku takut padamu, aku tak gentar padamu bocah!”

Dia masih memberikan ancaman. Matanya menyeryitkan kejam memandang. Tangan yang kokoh siap menerjang badan pemuda bertopeng yang tegak menghadang.

“Cepat sebutkan namamu,” kata pemuda bertopeng dengan tajam dan keras.

Pemuda bertopeng memaksa dia dengan tegas agar berbicara jujur mengenai namanya.

“Aku mantra,” kata manusia tua dengan tawa membahana.

Pemuda bertopeng itu bergidik. “Mantra!” tegas pemuda bertopeng. “Jangan kau bersembunyi dibalik topeng manusiamu. Cepatkan sebutkan namamu yang asli.”

Pemuda bertopeng masih belum yakin mengenai namanya. Seperti matanya ada keraguan dalam bicaranya. Sorotan kebohong memang mudah dibaca. Kecamasan dan keraguan terlihat dari raut wajahnya.

Manusia tua itu mengedikkan bahu. “Memang itu namaku bocah,” kata manusia tua itu sengit dan kasar. “Aku hanya manusia tua yang mempunyai usaha.”

“Kau masih belum mau memberitahuku mengenai kedokmu,” kata pemuda bertopeng tajam. “Kekacaun kota, penjarahan, narkoba, pencurian, perampok, pembunuhan dan perjudian, semua itu kau adalah dalangnya.”

Pemuda bertopeng menatap tajam. Sorot matanya memberikan intimidasi kuat.

“Mana mungkin pemuda,” kata manusia tua mengakui. “Usaha hotel, resort dan restoran yang aku jalankan tak seburuk dalam pandangan.”

“Kau masih saja berkelit,” kata pemuda bertopeng dingin. “Pembunuhan menteri sekretaris Negara yang terbunuh dalam keadaan telanjang di hotel itu adalah ulahmu.”

Pemuda bertopeng memberikan argument kejahatannya. Matanya masih menyorot tajam.

“Mana mungkin,” kata manusia tua berkelit bohong. Dia memang tak pernah membunuh tetapi lewat tangan lain dia melakukan. “Saat kejadian terjadi aku ada dikantor, dan pak menteri terbunuh dirumahnya. Mana mungkin aku membunuhnya.”

“Kau masih saja menggelak,” kata pemuda bertopeng mendengus sengit. “Apa harus memperlihatkan wujudmu?”

“Memang wujudku seperti apa?” kata manusia tua mungkin penasaran.

“Sudah basa-basinya,” renggut pemuda bertopeng itu. Saat masih dalam pusaran badai. Memuntir kencang dalam pandangan mata telanjang.

Hantaman keras menunjamkan ke arah Mantra. Pemuda bertopeng melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah muka Mantra. Dia menghindar dengan mudahnya. Serangan pemuda bertopeng hanya diibarat main baginya. Dia masih nyegir bodoh sambil menghindar. Senyumannya memang sungguh menghina. 

“Kau bodoh atau apa anak muda?” kata Mantra menyeringai sengit. “Kau menyerangku tanpa menyebutkan namamu. Kau mau mati tanpa nama pemuda.”

Benar-benar lawan yang menyusahkan. Jika emosinya rapuh, Mantra memainkannya, tapi seseorang yang tidak bisa meremehkan lawan yang waspada, meskipun mereka berlevel lebih rendah.

 “Kau gesif Mantra,” kata pemuda bertopeng memuji sengit. “Pukulan telak yang aku lancarkan dengan mudah kau menghindarinya.”

“Jangan sombong anak muda,” kata Mantra jumawa. “Biar sudah tua, aku masih gesif sepertimu anak muda, kau belum menyebutkan namamu anak muda. Kau mau mati dalam bungkusan pakaian norakmu itu tanpa nama.”

“Siapa juga yang mau mati di tanganmu, Pak Tua?” kata pemuda bertopeng sengit. “Panggil aku Kapten Garuda.”

Lihat selengkapnya