Kapten Garuda (Sang Pembantai)

Hermawan
Chapter #2

Kumbalageni

Disudut kota, di pinggir jalan ada sebuah bangunan tua. Bangunan yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Diatas bangunan itu bertulis Irawan, Dektetif dan Konsultan Makhluk Astral. Ini dia nama kantorku, kantor yang aku dirikan sendiri. Aku hidup sendiri, bisa dibilang yatim piatu.

Mungkin kalian belum tahu aku, sebagai detektif dan konsultan makhluk astral merupakan pekerjaanku. Aku memiliki tubuh yang lumayan atletislah kalau dipandang, tetapi wajahku biasa-biasa untuk dipandang. Hidungku lumayan mancunglah untuk orang timur. Umur masih muda dua puluh dua tahun.

Pagi menjelang matahari mulai menampakkan sinar. Bunga-bunga bermekaran. Menyambut datangnya sebuah keajaiban. Aku duduk termenung dalam kantorku. Kantor kecil dengan bangun tua. Menunggu datangnya kasus atau kejadian langka. Kantor ini terasa sepi, karena tiga karyawanku pergi meninggalkanku. Kantor ini mungkin akan bangkrut karena belum pernah ada kasus datang semenjak masalah yang membuat kantorku dalam pailit. Pasti masalah keuangan. Pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Hingga beberapa gaji karyawan menunggak dalam tiga bulan.

Di pagi hari bulan Juli itu, aku berdiri di depan kantorku, memperhatikan Busway yang kian membludak. Heran aku melihat para penumpang yang dengan tenang duduk-duduk. Tak satu kali pun ada yang mengangkat mata untuk menikmati pemandangan pertama dari negeri kelahirannya. Tapi mereka mungkin memang berbeda dari keadaanku sendiri.

Aku tak yakin ada sebuah mobil mercy berhenti di depan kantorku. Kulihat seorang wanita separuh baya keluar dari mercy. Dia masih cantik dan memakai pakaian celana panjang dengan setelan jas hitam bersepatu hak tinggi. Dia berjalan menuju ke arah kantorku.

“Selamat pagi,” ucapnya. “Apa benar ini kantor dektetif Irawan.”

Dia mengucapkan salam dan bertanya padaku.

Aku mengedikkan bahu. “Benar,” kataku. “Memang ada perlu apa nyonya datang kesini.” Mataku menatapnya agak bingung.

“Sebelum saya menjawab,” katanya. “Apa anda dektetif Irawan?”

“Ya saya sendiri,” kataku mendengus. “Silakan masuk nyonya!”

Aku mempersilakan wanita itu masuk dalam kantorku. Wanita itu masuk. Dia berdiri menatapku. Dia sedang menjinjing sebuah tas kecil, dia duduk didepanku sambil memangku tas kecil.

“Kalau boleh saya tahu nama nyonya siapa?” tanyaku.

“Perkenalkan saya Irma istri menteri sekretaris Negara,” katanya. “Sebenarnya saya datang kesini untuk meminta anda menyelesaikan kasus tentang suami saya.”

Aku terkesiap. “Suami nyonya!” tegasku. “Memang suami nyonya kenapa?”

“Dia dibunuh dalam kamar mandi,” katanya parau. “Polisi lepas tangan karena kasusnya tak ada jejak mengenai pelaku. Polisi menyaranku untuk mendatangi anda.”

“Kasus pembunuhan,” gumanku tegang dan menelan ludah. “Apa nyonya tahu bagaimana kejadiannya?”

“Kejadian!” katanya. “Maksud anda bagaimana?”

“Begini, mungkin ada hal-hal yang mencurigakan waktu kejadian,” kataku memberi ruang.

“Hal-hal yang mencurigakan,” tegas Irma. “Sebelum kejadian itu terjadi tiga hari yang lalu, kami kedatangan tamu seorang pengusaha tua, ia lebih tua dari suamiku. Aku tak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Tetapi saat pengusaha itu pergi, wajah suamiku kelihatan gelisah. Tapi saat itu aku tak sempat bertanya kepadanya.”

Irawan mulai memahami asal kejadian itu berada. Hal paling penting adalah untuk memahami pemikiran dari lawan seseorang dan untuk menurunkan kewaspadaan mereka. Sulit sekali mendapatkan informasi dari seseorang yang dipenuhi dengan kecurigaan.

Namun, dengan membangun kepercayaan dan niat baik, seseorang bisa perlahan-lahan mengupas lapisan-lapisan dari kewaspadaan yang mengelilingi mereka, sampai mereka menjadi telanjang di depannya.

“Kasus ini mungkin agak sedikit rumit untuk dijelaskan,” kataku mendengus. “Tetapi saya akan menyelesaikannya.”

“Terima kasih,” kata Irma. “Saya tunggu kabarnya.”

“Tetapi apa boleh besok atau hari dimana saat nyonya dirumah,” kataku. “Saya datang untuk melihat tempat kejadiannya.”

“Silahkan hari Minggu anda datang,” kata Irma.

“Terima kasih,” kataku.

Wanita itu keluar dari kantorku. Dia kembali masuk ke mercy. Mobil itu melesat kencang kearah jalan.

Aku sempat berfikir kejadian ini pasti melibatkan makhluk astral. Tetapi tanpa penyelidikan yang tepat dan menyeluruh persoalan ini pasti akan rumit.

Aku ingat salah satu teman supranaturalku. Mungkin sekali dia tahu dalam merawang kejadian ini.

Aku yakin dia tidak akan jauh dari markasnya. Dia sudah tak lagi bepergian dari satu ujung tanah Indonesia ke ujung lain, untuk menyelesaikan suatu perkara. Dia sudah terkenal di mana-mana, dan tak mau lagi waktunya disita oleh suatu perkara. Kini dia semakin mengarah pada apa yang disebut 'detektif konsultan' sama spesialisnya dengan dokter di Jogjakarta. Sejak dulu dia selalu menolak metode yang umum dipakai: manusia berlagak bagai anjing pemburu, memakai berbagai samaran yang hebat untuk mencari jejak penjahat dan berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya.

Aku langsung pergi ke alamat lama rumahnya. Betapa jelas kenangan yang dibangkitkan tempat itu! Hampir tak sempat aku berbasa-basi dengan bekas induk semangku. Buru-buru kulangkahi dua anak tangga sekaligus, lalu mengetuk pintu kamarnya.

“Assalamu’alaikum, Mas Bro!” ucap salamku.

“Wa ‘alaikum sallam,” balasnya.

Aku menunggu beberapa detik.

“Masuk saja,” terdengar suara yang begitu kukenal itu dari dalam.

Aku masuk. Seorang berdiri menghatapi aku. Dia tampan dan tinggi mata hitam bulat seperti pingpong. Dia bernama Surya Kirana. Dia sedang menjinjing sebuah kopor kecil, yang dijatuhkan begitu saja waktu melihat aku.

“Irawan!” serunya. “Lama tak bertemu. “Kemudian dia berlari ke arahku, merangkulku dalam dekapan erat. Percakapan kami tak menentu dan simpang siur. Banyak kata-kata seru diucapkan, pertanyaan-pertanyaan penuh rasa ingin tahu, penjelasan-penjelasan tentang kedatanganku, semuanya itu bercampur aduk.

“Mungkin ada orang lain yang menempati kamarku dulu, ya?” tanyaku akhirnya, setelah kami agak tenang. “Aku sebenarnya ingin bersamamu lagi di sini.”

Wajah mendadak berubah.

“Gila! -Menyedihkan sekali keadaannya. Coba kau lihat sekelilingmu, Sahabatku.”

Aku baru menyadari keadaan sekelilingku. Ada sebuah peti besar yang pasti sudah tua sekali umurnya, tersandar pada dinding. Di dekatnya ada beberapa buah koper, yang diatur dengan rapi menurut ukurannya, mulai dari yang besar sampai yang kecil. Suatu pemandangan yang sudah jelas maksudnya.

“Kau akan pergi?”

“Ya.”

“Ke mana?”

“London.”

“Apa?”

“Ya, benar-benar lelucon yang tak lucu, kan? Aku memang akan berangkat ke London. Padahal setiap hari aku berkata sendiri, takkan kutuliskan apa-apa dalam suratku - biar terperanjat sahabatkku Irawan bila melihatku nanti!”

“Tapi kapan kau akan berangkat?”

Surya melihat ke arlojinya.

“Satu jam lagi.”

“Kalau tak salah, kau selalu bilang tidak ada satu hal pun yang bisa membujukmu untuk bepergian jauh dengan pesawat.”

Surya memejamkan matanya lalu menggigil.

“Jangan bicara tentang itu, Sahabatku. Dokterku sudah meyakinkan aku, orang tidak akan mati karena terbang, lagi pula hanya satu kali ini saja; kau tentu mengerti bahwa aku tidak-tidak akan pernah kembali lagi. “

Aku mendorong surya ke sebuah kursi.

“Mari kuceritakan bagaimana ini sampai terjadi. Kau tahu siapa menteri sekretais Negara saat ini? Yang bahkan lebih cerdas dari Eisnten? Mayjen Indra Girinata.”

“Menteri Sekretaris Negara saat ini?”

Lihat selengkapnya