Aku terbangun pagi ini, melihat selimut air menyelubungi pekarangan depanku. Tebalnya bahkan tidak sampai dua senti, tapi hujan turun sedikit saja di bagian Utara Jogja. Kasus yang pertama aku tangani telah selesai. Pembunuh Menteri Sekretaris Negara membuatku gila dan lelah hingga seluruh tubuhku terasa berkarat pada kasur.
“Pagi kawan,” kata Surya sambil menyeruput secangkir kopi. Setelah kasus itu aku dan Surya membangun usaha lamaku untuk dikelola bersama. Aku terperanjat dari ranjang tidurku.
Surya tersenyum dan mengetuk pipa. Akhir-akhir ini dia mulai mengisap pipa sebagai bagian kebiasaan barunya, meniru kebiasan kuna ala tahun lima puluhan.
Kukutip pepatah lama itu sambil tertawa kecil, lalu sesaat kemudian, kami terkejut sekali karena terdengar bunyi dari dalam kamarku.
“Apa itu?” teriakku.
“Marvelus!” bentak Surya. “Kedengarannya benar-benar seperti ada 'tamu tak diundang' seperti yang kaukatakan tadi itu di dalam kamarmu.”
“Tapi bagaimana orang bisa masuk ? Padahal tak ada pintu lain kecuali yang ke kamar ini.”
“Ingatanmu baik sekali, Surya. Sekarang coba cari penjelasannya.”
“Jendela! Jadi pencurikah? Pasti susah payah sekali dia memanjat rasanya bahkan tak mungkin.”
Aku bangkit lalu berjalan ke arah pintu. Tapi aku berhenti karena ada bunyi orang mengutik-utik gagang pintu itu dari sisi sebelah sana.
Pintu terbuka perlahan-lahan. Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Seluruh tubuhnya, dari kepala sampai ujung kaki, penuh debu dan lumpur. Wajahnya kurus dan pucat. Dia menatap kami sesaat, lalu terhuyung dan jatuh. Aku cepat menghampiri, lalu menengadah dan berkata padaku,
“Ambil minum cepat.”
Cepat-cepat Surya tuang air putih ke dalam gelas dan kuberikan. Aku berhasil menenangkannya sedikit, berdua kami angkat dia, lalu kami bawa ke sofa. Beberapa menit kemudian, dia membuka matanya dan memandang ke sekeliling dengan pandangan hampa.
“Anda mau apa?” tanyaku.
Orang itu membuka mulutnya lalu berbicara dengan nada otomatis yang aneh.
“Kapten Garuda,”
“Kapten Garuda,” tegasku
Orang itu seperti tak mengerti. Dia hanya mengulang lagi dengan nada yang sama,
“Kapten Garuda.”
Aku mencoba menanyakan beberapa hal. Orang itu kadang-kadang tak menjawab sama sekali; kadang-kadang dia mengulangi saja kata-kata yang sama. Surya mengisyaratkan agar aku menelepon.
“Panggil Dr. Ridwan.”
Untunglah dokter itu ada di tempat; dan karena rumahnya hanya di tikungan jalan, beberapa menit kemudian dia sudah datang.
“Ada apa ini.”
Aku memberinya penjelasan singkat, dan dokter mulai memeriksa tamu kami yang aneh itu, yang kelihatannya tidak menyadari kehadiran kami.
“Hm!” kata Dr. Ridwan setelah dia selesai.
“Penyakit aneh.”
“Apakah demam otak?” tanyaku.
Dokter itu mendengus mengejek.
“Demam otak! Demam otak! Tak ada itu. Itu kan hanya karang-karangan para penulis saja. Tidak, laki-laki ini telah mengalami semacam shock yang hebat. Dia datang kemari hanya dengan kemauan yang keras saja - untuk memberitahukan bahwa Presiden akan dibunuh, dan dia hanya mengulang-ulangi kata-kata itu seperti mesin saja, tanpa tahu apa artinya.”
“Apakah dia menderita penyakit gagu mendadak?” tanyaku lagi penuh ingin tahu.
Pertanyaanku itu tidak membuat dokter itu mendengus sehebat tadi. Dia tidak menjawab, melainkan memberi laki-laki itu kertas dan pensil.
“Coba kita lihat apa yang dilakukannya sekarang,” katanya.
Beberapa lamanya orang itu tidak melakukan apa-apa. Tetapi tiba-tiba dia-menuils dengan gugup. Dan tiba-tiba pula dia berhenti dan menjatuhkan kertas dan pensil itu. Dokter memungutnya, lalu menggeleng.
“Tak ada apa-apa. Hanya Kapten Garuda yang dituliskannya berkali-kali, setiap kali semakin besar. Saya rasa dia ingin menulis Kapten Garuda. Menarik benar kasus ini - sangat menarik. Dapatkah Anda menahannya di sini sampai nanti siang? Sekarang saya harus ke rumah sakit, tapi saya akan kembali nanti siang dan mengurus dia. Kasus pasien ini terlalu menarik untuk dibiarkan berlalu begitu saja.”
“Mari kita angkat dia ke tempat tidur dalam kamarku.”
Aku kadang-kadang membisu dan kadang-kadang banyak bicara. Kadang-kadang aku duduk merenung saja ke luar jendela, seperti orang yang sedang bermimpi, seolah-olah tak didengarnya apa-apa yang Surya katakan padaku. Kemudian, tiba-tiba banyak bicaraku, dan mencurahkan bermacam amanat dan perintah pada Surya, dan memesankan benar agar Surya terus-menerus mengirim berita-berita dalam bentuk rahasia.
“Ah! Terkutuk benar!” seruku tiba-tiba. “Benar-benar goblok aku ini. Akhirnya kini aku mengerti.”
“Nah, sekarang, Irawan,” kata Surya dengan kesal, “sekarang mungkin kau mau cerita apa ini semua.”
“Soalnya, Sahabatku, aku baru saja paham,” kata Irawan mendengus sengit. “Sekarang baru jelas bagiku.”
“Memang seharusnya begitu,” kata Surya, “tapi aku kuatir - aku kuatir sekali hal ini belum jelas bagimu.”
“Kau tak mengerti? Aku pun semula tidak. Tapi sekarang aku mengerti. Surya, ada orang yang telah mencoba menyingkirkan Kapten Garuda.”