Dua hari setelah kunjungan Petugas Rumah Sakit Jiwa gadungan itu, kusangka dia akan kembali lagi, dan aku tak mau meninggalkan flat barang sebentar pun juga. Sejauh penglibatanku, tak ada jalan baginya untuk curiga bahwa kami telah membongkar penyamarannya. Kupikir, dia mungkin kembali, dan mencoba mengambil mayat itu, tapi aku menyalahkan jalan pikiran Surya itu.
Kataku sengit, “Kalau kau mau, boleh saja kau menunggu tapi, aku tidak akan mau membuangbuang waktu begitu.”
“Kalau begitu, Irawan,” bantah Surya, “untuk apa dia begitu berani menantang bahaya untuk datang kembali? Bila dia berniat untuk datang lagi mengambil mayat itu, aku masih mengerti tujuan kedatangannya itu. Sekurang-kurangnya dia harus menghapuskan barang bukti yang akan memberatkan dirinya; tapi dalam keadaannya sekarang, dia kelihatannya tidak mendapat keuntungan apa-apa.
“Tidak, Surya, Si Pembantai tidak meninggalkan bekas apa-apa, dan dia tahu itu. Kunjungannya itu boleh kita sebutkan suatu usaha pengintaian. Mungkin dia ingin meyakinkan diri bahwa Henri Su sudah meninggal. Tapi kurasa, lebih besar kemungkinannya, bahwa dia datang untuk menemui Irawan Bukan Kapten Garuda, dan sekadar bercakap-cakap dengan lawannya, satu-satunya orang yang harus ditakutinya.” Dalam jalan pikiranku itu, kelihatan benar sifatnya yang suka memuji diri, tapi aku menahan diri tidak membantah.
“Lalu bagaimana dengan pemeriksaan polisi nanti?” tanya Surya sengit. “Kurasa kau akan harus menjelaskan beberapa hal di sana. Apakah kau akan memberikan keterangan yang jelas tentang Si Pembantai?”
“Apa gunanya? Apa kita akan bisa mempengaruhi dewan pemeriksa mayat yang terdiri dari orang-orang Jakarta itu? Apakah gambaran kita tentang Si Pembantai itu akan ada faedahnya? Tidak, akan kita biarkan saja mereka menyebutnya 'kematian yang tak disengaia', dan mungkin, meskipun aku tidak begitu yakin, pembunuh kita yang pintar itu akan menepuk dada, bahwa dia telah berhasil mengecoh Kapten Garuda dalam ronde pertama ini.”
Sebagaimana biasanya, Irawan memang benar. Kami tak lagi melihat laki-laki dari Rumah Sakit Jiwa itu. Pemeriksaan polisinya pun tidak pula mendapat perhatian masyarakat. Surya ikut memberikan kesaksian, sedang aku hadir saja tak mau.
Lalu pada suatu pagi, kira-kira seminggu setelah pembunuhan itu, aku bertanya apakah Surya mau ikut pergi mengunjungi seseorang. Surya senang, karena kurasa aku keliru kalau mencoba menyelesaikan persoalan-persoalan seorang diri saja, dan Surya ingin membicarakan perkara itu dengannya. Tetapi ternyata masih saja Irawan sulit diajak bicara. Bahkan waktu kutanya ke mana kami akan pergi pun, Irawan tak mau menjawab.
Aku memang suka bersikap misterius. Aku tak akan memberikan keterangan sebelum saat terakhir tiba. Sekarang ini, setelah kami naik sepeda motor, dan tiba di suatu daerah pinggiran sebelah selatan kota Jogkarta yang paling menyedihkan keadaannya, barulah dia mau menjelaskan persoalannya.
“Kita ini, Surya, akan menemui satu-satunya orang di Indonesia yang paling tahu tentang kehidupan Cina bawah tanah.”
“Begitukah? Siapa dia?”
“Kau akan tahu nanti,” kataku mendengus.
Aku menatap pada rumah besar yang mengarah langsung pada pasir putih di pantai Depok, Yogyakarta. Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Dengan spontan, seorang mengayunkannya dan mengarahkannya pada kami, memegang senjata itu dengan kedua tanganku siap untuk menarik pelatuknya.
“Whoa…Aku baru saja akan bertanya padamu kalau kami tersesat tetapi aku akan mengatakan padamu apapun yang ingin kami lakukan padamu asalkan kau jauhkan senjata itu,” seorang pria dengan rambut shaggy coklat yang diselipkan dibelakang telinganya berdiri di sisi depan senjatanya dengan kedua tangan terangkat dan matanya yang melebar.
Dia menatapnya bingung dan tetap mengacungkan senjatanya. “Apa urusanmu datang kesini, anak muda?”
Aku menelan ludahnya dengan gugup, “Uh, aku tidak bisa berpikir jika senjata itu diarahkan ke wajahku. Kau membuatku sangat gugup, teman. Bisakah kau menurunkan senjatamu sebelum terjadi kecelakaan?”
“Kecelakaan? Benarkah? Aku tidak mengenal kalian. Diluar gelap dan kalian datang kesini seperti maling, Jadi, maafkan aku jika kalian merasa tidak nyaman saat ini. Kau bisa mempercayaiku kalau aku bilang padamu bahwa tidak akan terjadi kecelakaan. Aku bisa memakai senjata. Dengan sangat baik.”
Pria itu kelihatannya tidak percaya padaku dan sekarang setelah aku melihatnya kelihatannya dia tidak berbahaya. Namun, dia belum siap untuk menurunkan senjatanya.
“Kau punya surat ijin untuk memiliki senjata?” tanyaku ragu.
Dia sedang tidak ingin membicarakan surat ijin senjatanya. “Siapa yang kalian cari?”
“Orang itu tak pernah kaudengar namanya. John Li. Sebenarnya dia pensiunan pegawai negeri. Kecerdasannya lumayan, rumahnya penuh dengan barang-barang berharga dari Cina. Teman-teman dan handai taulannya sering dibuat bosan oleh keterangan-keterangannya tentang barang-barang itu. Meskipun demikian, aku benar-benar yakin John Li inilah satu-satunya orang yang bisa memberikan keterangan yang kucari.”
Pria itu mengangguk pelan dan bersikap santai. “Kau mengenalnya?”
“Tidak juga. Kami memerlukan suatu informasi mengenail hal yang kami perlukan untuk kasus pembunuhan.”
Pria itu mengantarkan kami ke sebuah rumah di pinggiran kota. Beberapa saat kemudian, kami menaiki tangga 'The Walt', nama rumah kediaman Tuan Li itu. Biasanya rumah di pinggiran kota disebut menurut ciri khasnya atau tanaman, apa yang banyak tumbuh di situ. Namun di rumah itu tak kelihatan tanaman laurel.
Seorang pelayan Cina berwajah hampa membukakan kami pintu, lalu kami diantarnya menghadap majikannya. Tuan Li bertubuh segi empat, air mukanya agak kuning, matanya cekung dan membayangkan wataknya. Dia bangkit menyambut kedatangan kami, setelah menyisihkan sepucuk surat yang sedang dipegangnya.
Setelah berbasa-basi, dia menyinggung tentang surat itu.
“Silakan duduk. Heri mengatakan bahwa Anda memerlukan informasi, dan bahwa saya mungkin bisa membantu Anda.”
“Memang benar, Tuan. Saya ingin bertanya apakah Anda tahu tentang seseorang yang namanya Sang Pembantai?”
“Aneh - aneh sekali. Bagaimana Anda sampai tahu tentang orang itu?”
“Jadi Anda kenal rupanya?”
“Saya pernah bertemu dia satu kali. Dan saya tahu sedikit tentang dia meskipun tidak sebanyak yang saya ingini. Namun saya heran ada orang lain di Indonesi ini, yang juga pernah mendengar tentang dia. Dia orang besar dalam bidangnya dia orang dari golongan Mandarin tapi itu bukan inti persoalannya. Orang punya cukup alasan untuk menduga bahwa dialah orang di balik segalanya.”
“Di balik apa?”
“Di balik segala-galanya. Keresahan di seluruh dunia, masalah perburuhan yang melanda semua bangsa, dan revolusi yang pecah di beberapa negara. Ada orang-orang, dan mereka bukan sekadar menakuti-nakuti, yang tahu benar apa yang mereka bicarakan.
Mereka ini berkata bahwa ada kekuatan di balik tabir, yang tujuannya tak kurang dari menghancurkan peradaban. Perlu Anda ketahui, di Indonesia ada tanda-tanda bahwa Nevan dan Rani itu cuma sekadar boneka. Setiap tindak tanduknya didikte oleh otak orang lain. Saya tak punya bukti untuk memastikannya pada Anda, tapi saya yakin otak itu pastilah Si Pembantai.”
“Ah, mana bisa,” bantah Surya, “apakah itu tidak terlalu dicari-cari? Bagaimana mungkin seorang Cina bisa berkuasa di Indonesia?”
Aku memandang Surya dengan kesal sambil mengerutkan dahi.
“Bagimu, Surya,” kataku, “semuanya memang terlalu dicari-cari, bila itu bukan hasil khayalanmu sendiri. Aku sendiri sependapat dengan Tuan Li. Saya mohon Anda mau melanjutkan keterangan Anda, Tuan.”
“Apa sebenarnya tujuan akhirnya, saya tak yakin,” Tuan Li melanjutkan. “Tapi penyakit yang dideritanya memang penyakit yang telah menyerang otak orang-orang besar, mulai dari Soekarna, M Hatta, Sampai KH Abdurrahman Wahid yaitu nafsu pada kekuasaan dan keunggulan pribadi. Sampai zaman modern ini, Angkatan Bersenjata selalu dianggap penting untuk mencapai kemenangan. Tapi di abad penuh keresahan ini, orang seperti Si Pembantai itu bisa menggunakan alat-alat lain. Saya punya bukti bahwa dia ditunjang oleh keuangan yang amat besar, untuk suap-menyuap dan untuk propaganda. Dan ada pula tanda-tanda bahwa dia memegang kendali dalam kekuatan ilmu pengetahuan. Kekuasaannya lebih besar daripada yang dapat dibayangkan siapa pun juga di muka bumi ini.”