Almira bangun dengan kepala penuh simulasi presentasi dan dada yang sejak semalam tak benar-benar tenang. Fajar belum menyingsing. Dari kejauhan, suara muadzin terdengar samar, memanggil manusia untuk beranjak dari tidur dan menghadap Sang Pencipta.
Ia mengehela napas panjang sebelum turun dari ranjang dan mempersiapkan diri untuk beribadah.
Lima menit sebelum pukul tujuh. Ia sudah siap. Dengan langkah pelan, ia menuruni anak tangga menuju ruang makan sambil sesekali memperbaiki kerah blus putihnya.
Ia memasuki ruang makan bernuansa pastel, warna lembut kesukaan ibunya. Aroma teh chamomile dan roti panggang memenuhi udara. Dan seperti biasanya, ayah dan ibunya sudah duduk rapi, menikmati sarapan dengan ketenangan nyaris sempurna. Seperti lukisan keluarga tanpa cela.
"Günaydın, Babacim. Günaydın, Annecim." Almira tersenyum ringan menyapa. Ia segera duduk, meraih roti isi dan menegak susu.
"Günaydın, Kızım. Kau tampak tegang hari ini," suara ibunya terdengar lembut membalas sapaannya.
Almira berhenti mengunyah lalu mengalihkan pandangan ke ibunya yang sedang menyesap teh dengan anggun sembari menatapnya dengan penuh penilaian.
"Aku ada presentasi tunggal hari ini, Anne. Mungkin karena itu...," Almira tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya membalas dengan senyum kecil, berharap itu cukup untuk melunakkan penilaian di mata ibunya.
Presentasi hari ini memang sangatlah penting. Ia sudah mempersiapkannya berminggu-minggu. Karier dan kinerja yang ia bangun selama dua tahun akan dinilai dari kepuasan dewan direksi hari ini.
"Kenapa harus begitu gugup? Tanpa presentasi pun, kau akan tetap di perusahaan. Tidak ada yang bisa memecatmu." Ibunya meletakkan cangkir ke tatakannya. Bunyi dentingnya halus, tapi cukup membuat napas Almira tertahan sedetik.
"Sahammu bisa mendudukkanmu di kursi dewan direksi," lanjut ibunya, masih dengan sikap tenang.
Almira melirik sekilas ayahnya, lalu menunduk menatap roti isi yang masih menyisakan separuh bagian.
"Sudahlah, Feride. Biarkan Almira melakukan apa yang ia mau," Ayahnya berkata ringan.
"Aku tidak melarangnya melakukan apa yang ia mau, Ahmed," suara ibunya terdengar sedikit meninggi meski sikapnya tetap tenang. "Tapi, segala macam pekerjaannya sebagai staf membuatku lelah, bahkan hanya melihatnya saja. Dan lihat, bagaimana ia pergi kerja? Dengan metro."
Almira mengangkat kepalanya. "Maaf, Anne. Tapi aku hanya staf marketing biasa. Tidak pantas rasanya aku berangkat kerja mengendari mobil," suaranya ia usahakan tetap datar meski ada getar halus di akhir kalimatnya.
"Dan siapa yang menyuruhmu menjadi staf biasa? Posisi kepala divisi sudah kami persiapkan."
"Anne...,"
"Feride," ayahnya memotong kalimat Almira. "Sudahlah. Biarkan dia melalui hari ini tanpa kritik dan protes darimu."
Mendengar nada sedikit tegas dari suaminya itu, ibunya menghembuskan napas tanda menyerah. "Tamam, baiklah," ia berkata, lalu menatap Almira, kali ini dengan lembut, "Cepatlah berangkat jika tidak ingin ketinggalan metro. Atau suruh Halil mengantarmu ke halte."
Napas Almira kembali teratur. Ia menahan senyum kecil lalu bangkit berdiri. "Aku bisa mengatasinya, Anne. Jangan khawatir."
Ia mengecup pipi kedua orang tuanya lalu melangkah keluar rumah, menuruni undakan kecil dan melewati taman depan yang luas. Air mancur kecil berkilau di bawah cahaya pagi. Bunga-bunga musim semi bermekaran—damai, seolah mengucapkan kata semangat untuknya. Meski sudah lama ia tidak benar-benar merasa tenang.