Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #2

Kesepakatan Sunyi

"Kau datang pagi sekali."

Suara Nilüfer dari balik bahunya mengagetkannya. Sejak tadi ia hanya diam memandangi layar komputer yang masih gelap. Percakapan kedua orang tuanya semalam masih terngiang di kepalanya, meski ia belum benar-benar memahami maksudnya. Almira segera menekan tombol ON, mencoba mengabaikan kegundahannya.

"Ada yang harus kukerjakan pagi ini." Tanpa mengalihkan pandangan, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah pekerjaan mampu mengusir kegelisahannya.

Nilüfer tidak segera menanggapi. Temannya itu lalu mengambil kursi kerja dan duduk disampingnya. "Aku melihatmu di tempat parkir. Kau berdiam cukup lama di dalam mobilmu. Apa yang kau pikirkan?"

Kali ini Almira memalingkan wajahnya, menatap Nilüfer yang dengan sabar menunggu jawabannya.

Jadi Nilü memperhatikannya sejak tadi.

"Aku..." nada suaranya ia buat sedatar mungkin, meski sebenarnya ia bingung bagaimana cara menjelaskan perasaannya. "Hanya merasa tidak nyaman," lanjutnya.

"Kenapa? Karena mengendarai Audi?" balas Nilüfer. Ia tersenyum miring, lalu menyandarkan punggung sambil melipat tangan di dada.

"Nilü...!" Almira menutup matanya erat sesaat. Ada tekanan yang gagal ia sembunyikan dalam suaranya. "Kau tahu bukan itu masalahnya."

"Lalu apa masalahnya? Batasan? Batasan yang selalu kau dengungkan setiap saat kau bersikap sebagai pegawai kelas tiga?" Nilüfer menarik napas dalam dan merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Ayolah, Mira. Kau tahu kau bukan itu. Semua orang di perusahaan ini juga tahu siapa kau. Pewaris Hassan Company. Chairman kami selanjutnya."

"Aku..." Almira berkata lirih, nyaris tak terdengar. Ia berhenti sesaat, seolah ragu untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam sendiri. "Kadang merasa bukan bagian dari keluarga itu."

"Jangan berkata seperti itu!" Nilüfer menegakkan tubuhnya dengan cepat. Ia menatap Almira tajam, tak menyangka temannya akan berkata seperti itu. "Kau bagian dari mereka. Ahmed Bey sendiri yang mengumumkannya."

Almira menggeleng pelan. Ia menautkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ibuku pernah memandangku seperti orang asing." Ia menelan ludah. "Hanya sekali. Tapi sejak itu aku tidak pernah benar-benar melupakannya." Ia menarik napas dalam lalu melanjutkan, "Karena pada akhirnya aku bukan darah daging mereka."

"Mira..." Kalimat Nilüfer menggantung di udara. Ia lalu bangkit dan memeluk Almira erat. "Mereka memilihmu. Semua orang bisa melihat betapa mereka menyayangimu."

"Aku tahu," bisik Almira dalam pelukan Nilüfer.

Namun mengetahui saja tidak selalu sama dengan merasa aman.


***


Almira pulang tepat waktu seperti pesan ibunya. Ia menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum ringan di wajahnya sebelum membuka pintu depan.

Malam itu rumahnya terasa hangat. Meja makan dipenuhi hidangan khas Izmir, kota tempat ibunya lahir dan dibesarkan. Aroma rempah, mentega, dan masakan rumah yang jarang disiapkan kecuali untuk momen tertentu. Percakapan mengalir ringan. Tawa kecil terdengar.

Namun keakraban ini semakin membuat dadanya menegang tidak tenang.

Seakan firasatnya terbukti benar. Setelah makan malam, ayahnya memintanya datang ke ruang kerjanya. Karena ruang kerja ayahnya hanya digunakan untuk hal-hal penting. Atau serius. Atau buruk.

Almira mengangguk patuh. "Ya, Baba."

Lima menit kemudian, Almira sudah duduk di kursi kulit di depan ayahnya yang duduk di balik meja kayu berpelitur. Ibunya duduk di sampingnya. Sikapnya tetap tenang dan anggun seperti layaknya seorang wanita dari keluarga terpandang.

Lihat selengkapnya