Jam digital di nakas menunjukkan pukul satu dini hari.
Almira masih duduk di depan layar komputer. Punggungnya bersandar pada kursi, tubuhnya kaku, seolah pikirannya belum sepenuhnya kembali ke ruangan ini.
Di kolom pencarian hanya ada dua nama. Erdoğan Yaşaran dan Yaşaran Holding.
Puluhan laman telah ia buka. Artikel bisnis, laporan keuangan, berita ekspansi, hingga gosip selebrita dan orang-orang terkenal di seluruh dunia. Semuanya rapi, bersih. Tidak ada foto pribadi, tidak ada tanggal lahir, tidak ada wawancara. Hanya satu keterangan kecil berwarna merah: Tidak ada informasi lebih lanjut.
Akhirnya ia menyerah. Mungkin Erdoğan memang anak konglomerat yang tak pernah terseret gosip. Mungkin jejak daringnya sengaja dihapus. Atau mungkin ia memang bukan seseorang yang mudah dikenali, atau disentuh.
Apa pun alasannya, pencariannya malam ini terasa sia-sia.
Almira menghembuskan napas berat. Ia menekan tombol shutdown, lalu merebahkan tubuhnya telentang di ranjang. Pandangannya menembus langit-langit kamar, berhenti pada kandelir kristal yang memantulkan cahaya temaram. Benda itu selalu ia sukai. Berkilau, hangat, namun tak tersentuh.
Waktu terasa aneh. Samar dan cepat, seolah baru kemarin ia pertama kali menempati kamar ini, padahal itu sudah lima tahun lalu. Kini usianya dua puluh delapan. Usia yang, menurut banyak orang, tepat untuk menikah.
Tapi tetap saja, semuanya terasa terlalu mendadak. Pernikahan bukan sesuatu yang pernah benar-benar ia pikirkan. Ia terlalu sibuk membangun hidup yang akhirnya terasa stabil. Pekerjaannya, rutinitasnya, dan orang tua angkat yang ia cintai sepenuh hati. Bagi Almira yang tumbuh tanpa orang tua, stabilitas seperti ini terasa terlalu berharga untuk dilepaskan.
Pernikahan bisnis, pikirnya getir. Selama ini ia mengira hal seperti itu hanya ada di drama.
Ia menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.
Malam ini, ia hanya ingin berhenti berpikir. Besok ia masih harus bekerja. Dan dunia tidak akan berhenti hanya karena hidupnya baru saja berbelok tanpa peringatan.
***
Ponselnya bergetar memotong keheningan. Sebuah pesan masuk dari ibunya yang memintanya segera pulang.
Almira menghela napas. "Allah... Apa lagi?" gumamnya. Ia membalas cepat, mengatakan bahwa ia masih menyelesaikan tugas penting.
Balasan datang hampir seketika.
Annem: Tidak ada yang lebih penting dari ini. Pulanglah. Aku sudah memberitahu Kepala Departemenmu.
Pesan itu jelas. Tak ada bantahan.
Almira segera meraih tas, berdiri dari kubikel lalu menoleh pada Nilüfer. "Aku pulang sebentar. Nyonya Komisaris memanggil." Dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung menuju lift.
Sepuluh menit kemudian, Audi Q3 membelah jalanan Üsküdar yang lengang. Lima belas menit berselang, ia tiba di rumah.
Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat ibunya duduk bersama seorang wanita muda. Di pangkuan mereka terbentang katalog tebal. Suara halaman yang dibalik terdengar lembut.