Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #4

Dia Yang Terpilih

Mereka bertiga berdiri di depan pintu ketika dua mobil sedan hitam memasuki halaman rumah.

Dari mobil pertama turun sepasang suami istri paruh baya. Sang suami bertubuh sedang, wajahnya ramah, rambutnya dipenuhi uban yang justru menambah kesan berwibawa. Ia menyambut ayah Almira dengan senyum hangat, seperti dua sahabat lama yang tak lagi membutuhkan basa-basi.

Istrinya, wanita mungil dengan tubuh ramping, mengenakan gaun A-line bermotif bunga krem lembut. Wajahnya cantik dan bersinar meski usianya jelas telah melewati lima puluh. Ia memeluk ibu Almira dengan akrab. Almira melihat mata ibunya berkaca-kaca, tanda kerinduan yang sudah lama tertahan.

Almira berdiri selangkah di belakang, menjadi saksi pertemuan dua keluarga yang tampak disatukan oleh masa lalu.

Ada kehangatan yang mengisi udara, tawa yang mengalir tanpa canggung. Namun Almira merasa terasing. Kesunyian yang ia rasakan tidak selaras dengan pemandangan di depannya. Tanpa sadar ia melangkah mundur.

Tok.

Ujung sepatu heel-nya menyentuh lantai marmer. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang menyadari—kecuali sepasang mata.

Dari mobil kedua, seorang pria telah turun dan berdiri di belakang kedua orang tuanya. Dari balik bahu mereka, ia menatap Almira lurus. Tatapannya tenang, namun tajam dan tanpa senyum. Tidak ada perubahan ekspresi, seolah tidak ada satu pun di malam itu yang benar-benar mengejutkannya.

Almira merasakan tekanan dari tatapan itu hingga dadanya menegang. Sorot mata hijau itu membuat suara-suara di sekelilingnya perlahan menghilang, menyisakan dua pasang mata yang saling terpaut.

"Almira..."

Suara ibunya terdengar lirih, seperti berasal dari tempat yang jauh.

"Almira."

Sentuhan lembut di lengannya membuatnya tersentak. Ia memutuskan kontak mata itu. Ibunya kini berdiri di hadapannya, memandang heran.

"Sedang apa berdiri di sini? Ayo, sapa mereka."

Masih sedikit linglung, Almira mengangguk lalu mengikuti ibunya.

"Selam, Almira. Akhirnya aku bertemu denganmu." Wanita itu mencium pipi kiri dan kanan Almira dengan hangat.

"Merhaba, Yaşaran Hanım. Senang bertemu—"

"Yok." Wanita itu menggeleng cepat sambil tersenyum. "Panggil aku Hilmiye Anne. Dan ini suamiku, Osman Baba."

Almira mengangguk sopan sembari tersenyum kecil.

Hilmiye Yaşaran lalu menoleh ke belakang. "Ah, hampir lupa." Tatapannya beralih ke pria bermata hijau itu. "Erdoğan, putraku." Ia tersenyum penuh arti. "Tapi aku tidak akan memperkenalkan kalian lebih jauh. Itu urusan kalian."

Ia mengedip nakal, membuat Almira salah tingkah.

"Mari," seru ayah Almira. "Hidangan sudah menunggu."

Osman Yaşaran berjalan bersamanya, diikuti Hilmiye dan ibu Almira. Almira baru menyadari satu hal. Ia tertinggal berdua dengan Erdoğan.

Pria itu akhirnya berbicara singkat.

"Ayo."


---


Mereka berenam duduk mengelilingi meja bundar besar yang dipenuhi hidangan. Ayah Almira dan Osman Bey tenggelam dalam percakapan bisnis. Di sisi lain, ibu Almira dan Hilmiye larut dalam nostalgia, seolah waktu kembali berputar.

Almira duduk tegak, merasa asing di acara yang seharusnya tentang dirinya. Ia sesekali melirik pria di sampingnya yang nyaris tak bicara, hanya sesekali menyesap champagne dengan gerakan tenang dan terukur.

"Kau juga merasa acara ini berubah jadi reuni lansia?"

Lihat selengkapnya