Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #5

Aturan Pertama

Almira menanggalkan cincin tunangannya sebelum turun dari mobil. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin menjadi bahan bisik-bisik di antara para karyawan di sela waktu istirahat. Ia hanya ingin hari ini berjalan biasa saja, seperti hari kerja yang lain.

Beruntung, kabar pertunangannya belum tersebar. Memang sengaja ditahan oleh kedua orang tuanya. Acara semalam—seperti kata ibunya, hanya untuk keluarga inti. Pernikahan resmi baru akan diumumkan nanti.

Semua terasa terlalu cepat, namun tetap harus ia jalani.

Ia tiba di kubikelnya, membuka laptop, dan mencoba bekerja. Tak lama kemudian, Nilüfer datang membawa dua cangkir kopi dalam gelas sekali pakai.

"Günaydın. Kopi untukmu."

"Günaydın. Sağ ol." Almira menerima kopi sambil tersenyum tipis.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Nilüfer menikmati kopinya sedangkan Almira mengetik sesuatu di laptop tanpa benar-benar fokus.

"Nilü," panggil Almira akhirnya. Tatapannya serius, seakan menimbang sesuatu yang berat.

"Apa?"

"Bisakah aku mempercayaimu?"

Nilüfer mengernyit. Wajahnya berubah, tersinggung sekaligus kecewa. "Jadi selama ini kau tidak pernah percaya padaku?"

"Yok. Bukan begitu." Almira segera meraih tangan Nilüfer ketika temannya itu hendak berdiri. "Ini penting. Aku perlu janjimu untuk diam dan berpura-pura tidak tahu. Tolong," pinta Almira memelas.

Nilüfer menatapnya lama sebelum kembali duduk.

"Baiklah. Ada apa?"

Almira menarik napas dalam-dalam, lalu berkata sangat pelan, "Aku... akan menikah."

Reaksi Nilüfer jauh dari yang ia duga. Temannya itu tidak terkejut tidak pula heboh. Hanya satu alis terangkat.

"Tamam. Lalu?"

"Kau tidak terkejut?"

"Untuk apa?" Nilüfer menyesap kopinya santai. "Suatu hari nanti kita memang akan menikah. Dan untuk orang-orang sepertimu, pernikahan mendadak seperti ini bukan hal aneh." 

Almira terdiam.

"Pertanyaanku," lanjut Nilüfer, "pengusaha mana yang jadi calon suamimu?"

"Kau tahu dia juga pengusaha?" Kali ini justru Almira yang terkejut.

"Namamu Hassan. Kau tidak mungkin menikah dengan pelayan cafe di Kuzguncuk, kan?"

Almira menghela napas pendek. "Ya... aku... Kadang aku lupa... Hanya saja..."

"Orang seperti kalian memang jarang menikah karena cinta," potong Nilüfer. Nada suaranya terdengar datar namun tajam. "Semua demi bisnis dan keuntungan. Itulah harga yang harus dibayar untuk hidup seperti yang kau punya."

Kalimat Nilüfer itu membuat Almira tak bisa berkata. Ia hanya menunduk, memandang jemarinya yang saling bertaut di pangkuan.

"Jadi, siapa calon suamimu?"

Almira mengangkat kepalanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. "Kau pasti tahu perusahaannya. Tapi mungkin kau belum pernah mendengar namanya."

Nilüfer mengerutkan keningnya. "Siapa?"

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Nilüfer dan berbisik, "Erdoğan Yaşaran dari Yaşaran Holding."

Wajah Nilüfer berubah seketika. Matanya terbelalak, tangannya refleks menutup mulutnya, seakan berusaha menahan teriakan.

"Erdoğan... Yaşaran...?"

"Ya. Kau tahu dia, Nilü?"

"Tentu saja," suara Nilüfer ikut merendah. "Bukan cuma aku. Hampir semua orang di perusahaan tahu."

Dada Almira menegang. Saat ia bicara, suaranya bergetar. "Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak menemukan informasi tentang dia."

"Orang tuamu tidak memberitahumu?" suara Nilüfer kini serius, tatapannya tajam menatap mata cokelat Almira.

Lihat selengkapnya