Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #6

Bukan Miliknya

Gaun putih rancangan desainer itu membungkus tubuhnya dengan sempurna. Orang lain mungkin akan menyebutnya cantik. Namun Almira justru merasa asing saat melihat pantulan dirinya di cermin tinggi berukiran emas itu.

Dadanya terasa sesak, sampai menarik napas pun terasa sulit.

"Mira, kau baik-baik saja?"

Suara Nilüfer menyentaknya. Lembut namun terasa perih, seperti garam yang ditaburkan pada luka yang masih terbuka.

Almira menarik napas dalam-dalam. Sudut matanya memerah, tetapi ia memaksakan senyum kecil.

"Aku baik, Nilü," balasnya berusaha tenang, meski ia tidak bisa menyembunyikan getar halus di suaranya. Ia meraih tangan sahabatnya dan meremasnya pelan. "Terima kasih sudah menjadi pendampingku."

Di luar, angin Istanbul berembus dari arah Bosphorus, membawa aroma garam dan musim semi yang memenuhi udara kota. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, indah dan tenang. Bertolak belakang dengan isi kepalanya. Kota ini seakan menjadi saksi abadi atas keputusannya hari ini.

Sebentar lagi semuanya akan resmi. Tapi sampai detik ini pun, ia merasa seperti sedang menjalani hidup orang lain.

"Ayo," ucap Nilüfer pelan. "Sudah saatnya."

Mereka keluar dari kamar hotel menuju ballroom outdoor. Lantai marmer di bawah sepatu heel-nya terasa dingin, seakan menahan setiap langkah yang ingin berbalik arah.

Saat pintu kaca dibuka, langkahnya terhenti sesaat.

Ballroom itu berdiri tepat di tepi selat. Lampu kapal berpendar di kejauhan, sementara bayangan jembatan Bosphorus memantul samar di permukaan air yang gelap. Angin malam membawa aroma laut dan suara kota yang masih hidup. Seratus pasang mata menoleh serempak ke arahnya.

Dan di depan sana, duduk tegak dengan tuxedo putih tanpa satu pun kerut, Erdoğan Yaşaran.

Ia tersenyum. Senyum yang bagi orang lain tampak hangat dan penuh kebahagiaan. Namun bagi Almira, senyum itu beku, hampa. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

Seorang pencatat sipil duduk di sampingnya, pena sudah siap mencatat keputusan yang tak bisa ditarik kembali.

Nilüfer menemaninya hanya sampai setengah jalan. Setelah itu, ia harus melangkah sendiri.

Ia melewati deretan keluarga. Ibu dan ayahnya tersenyum bahagia. Tuan dan Nyonya Yaşaran pun tersenyum, seolah semua berjalan sempurna—sesuai perhitungan.

Sekilas, sebuah kesadaran dingin menyentuh benaknya.

Ia tahu apa yang dipertukarkan. Ia tahu nilai kesepakatan itu.

Yang tidak pernah benar-benar ia pahami adalah: seberapa banyak dari hidupnya yang ikut dijadikan jaminan.

Jemari Erdoğan dingin saat menyentuh tangannya. Hanya sebentar sebelum kembali terlepas.

Pencatat sipil mulai berbicara.

"Erdoğan Yaşaran, sebutkan nama ayah dan ibumu."

"Osman dan Hilmiye."

Diucapkan dengan datar, mantap, dan tanpa ragu.

Lalu giliran Almira.

"Almira, sebutkan nama ayah dan ibumu."

"Ahmed dan Feride."

Lihat selengkapnya